Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 73. Terbongkar Sudah


__ADS_3

"Ternyata dia wanita yang menjadi istrimu? Tidak seperti yang aku bayangkan," ucap Sintia, melihat Almaira dari atas sampai bawah dan menganggap rendah Almaira.


"Diam kamu Sintia!" tegas Alvian yang tersulut emosi mendengar cacian Sintia terhadap istrinya.


"Seperti yang anda lihat, kami berdua mempunyai hubungan spesial. Apa anda masih percaya pada suamimu ini?" ucap Sintia yang dengan sengaja memancing emosi Almaira.


Alvian di buat kesal oleh Sintia yang dengan sengaja mengubah fatka, padahal Sintia lah yang masuk ke ruangan Alvian dan mencoba menggodanya.


Perlahan Almaira melangkah menghampiri Sintia yang berada di samping suaminya. "Lalu hubungan spesial apa yang anda maksud nona?" tanya Almaira, menatap tajam wajah Sintia.


"Hubungan kami terhenti karena Alvian malah menikahimu," jawab Sintia sinis.


Almaira tersenyum kecut. "Lalu apa salahku, kalau suamiku lebih memilih aku di bandingkan anda nona?"


"Ini semua Alvian lakukan karena dia harus memenuhi permintaan terakhir ibunya, salahnya kamu malah menerimanya." ucap Sintia dengan angkuhnya.


"Cukup Sintia! Jangan di lanjutkan lagi!" Alvian angkat bicara karena ia tidak bisa menahan emosinya lagi kali ini, kalau sudah mengenai Istri dan ibunya.


"Sudah mas, biar Maira saja yang tangani." ucap Almaira pada suaminya dan kini Almaira kembali berhadapan dengan Sintia.


"Aku berhak untuk memilih siapa yang akan menjadi pendamping dalam hidupku dan aku juga berhak menerima lamaran Mas Alvian, meskipun tanpa persetujuan darimu nona." tutur Almaira dengan penuh penegasan.


"Lalu apa suamimu itu telah mencintaimu? Terus kamu masih percaya, setelah melihat perbuatan Alvian di belakang dirimu?" Sintia terus memanas-manasi Almaira, supaya Almaira bisa mempercayai bahwa Alvian mempunyai hubungan dengannya.


Almaira tersenyum. "Aku percaya bahwa suamiku tidak akan pernah berbuat seperti itu karena aku lebih tahu Mas Alvian di bandingkan anda Nona Sintia!"

__ADS_1


Bagaikan sindiran keras bagi Sintia, tidak di duga. Ternyata Almaira bukanlah wanita yang lemah, melainkan wanita yang bijak dan sulit untuk berdebat dengannya.


"Untuk apa mengejar pria yang sudah beristri? Selagi masih ada laki-laki lajang di luar sana yang berlomba-lomba mencari wanita sepertimu nona," timpal Almaira yang secara langsung menyindir Sintia.


"Aku yakin hubungan kalian tidak akan bertahan lama dan akulah yang akan mendapatkan Alvian kembali, camkan itu!" ucap Sintia dengan penuh emosi.


Almaira kembali tersenyum simpul. "Silahkan coba saja nona karena itu akan merugikan anda. Tidak ada yang berhak atas suami selain istrinya dan anda tidak perlu mengancam saya lewat pesan singkat itu."


"Kenapa anda bisa yakin kalau pesan singkat itu dari saya?" tanya Sintia dengan tersenyum sinis.


"Bagaimana bisa aku tidak yakin kepadamu nona? Siapa lagi coba orang yang mendekati Mas Alvian selain anda. Nona Sintia, kaulah pelakunya!" ucap Almaira dengan penuh keyakinan.


"Akhirnya anda bisa mengenal saya dan saya juga wanita yang akan mengambil Alvian kembali." ucap Sintia yang bangga dengan perbuatannya.


"Jangan berbangga dengan apa yang anda perbuat! Sesungguhnya itu adalah perbuatan yang akan merugikanmu." balas Almaira dengan sindiran yang terbilang dahsyat.


"Pergilah kamu dari sini Sintia! Kamu sudah dengar kan, jawaban dari istri saya? Mungkin itu sudah cukup membuatmu mengerti." ucap Alvian yang tanpa ragu mengusir Sintia dari ruangannya.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Sintia melenggang pergi dari hadapan Alvian dengan kekesalan, emosi dan amarah yang meluap-luap.


Setelah kepergian Sintia, Alvian berjalan menghampiri istrinya. "Sayang, tolong maafkan mas." Alvian berusaha meminta maaf kepada Almaira sambil memegang kedua tangannya.


"Iya mas, Maira sudah memaafkan mas," ucap Almaira soraya tersenyum lembut pada suaminya.


"Maaf karena mas telah menyembunyikan semua ini darimu sayang." ucap Alvian lirih, kedua bola matanya juga memperlihatkan kesungguhan dari ucapanya.

__ADS_1


"Maira juga mengerti keadaan mas sekarang. Maka mas jangan terus menyalahkan diri mas sendiri," ucap Almaira, tanpa memperlihatkan kemarahan atau kekecewaan, setelah kejadian barusan.


"Sungguh mas sangat beruntung memiliki seorang istri seperti dirimu, setelah mengetahui semuanya kamu tetap tidak marah sedikitpun kepada mas."


"Marah dan kecewa pasti ada mas, tapi Maira memilih tenang dan tidak berlebihan." tutur Almaira, tanpa emosi sedikitpun.


"Terimakasih, sayang." ujar Alvian yang langsung memeluk tubuh istrinya.


Terbongkar sudah semua yang di sembunyikan Alvian selama ini dan apa yang di takutkan Alvian ternyata tidak sama seperti kenyataannya sekarang. Pada buktinya Almaira tidak sedikitpun merah dan emosi kepadanya, hanya sikap lemah lembutlah yang di terima oleh Alvian pada saat ini.


Terkadang apa yang kita banyakan akan sejalur dengan apa yang akan terjadi, tapi nyatanya yang kita pikirkan tidak seperti kenyataannya.


Sekarang ini Almaira telah membuktikan, bahwa dia tidak selemah yang orang lain bayangkan. Sebesar apapun kenyataan yang di sembunyikan, akan tetap terbongkar jika sudah waktunya dan kebenaran akan tetap menjadi pemenangnya.


"Mas, wanita tadi itu siapa?" tanya Almaira yang ternyata masih penasaran sama Sintia.


"Duduklah dulu, mas akan ceritakan semuanya tanpa ada yang di tutupi lagi darimu sayang," balas Alvian dengan meminta istrinya untuk duduk di sofa bersamanya.


Kini keduanya sudah duduk berdampingan di kursi sofa yang ada di dalam ruangan Alvian. Di tatap wajah Almaira dengan lembut dan dengan sekali hembusan nafas, Alvian mulai menceritakan tentang Sintia kenapa istrinya.


"Dia Sintia sayang. Dulu kami pernah mempunyai hubungan yang hampir masuk ke jenjang pernikahan, tapi hubungan kami kandas karena Sintia sendiri yang melakukannya. Sintia tidak menyukai Almarhumah Ibu yang sering menghabiskan waktu bersamaku, padahal ibu dan ayah belum mengetahui hubungan kami." ucap Alvian yang tapa di sadari, sedang mengungkapkan kesedihannya.


"Ini juga salah mas yang tanpa sepengetahuan kedua orang tua, berani pacaran dengan Sintia dan setelah ayah dan ibu mengetahui kebenarannya. Mas di nasehati untuk tidak berhubungan serius dulu karena Ibu sudah menyiapkan calon istri untuk mas, tapi mas tidak tahu dia itu siapa? Dan pada akhirnya, mas memutuskan hubungan mas bersama Sintia. Setelah mas melihat sikap asli Sintia yang membuat mas tidak nyaman lagi bersamanya." ucap Alvian, panjang lebar dan tanpa ada yang di tutupi lagi.


Rasa lega yang Alvian rasakan sekarang ini sangatlah membuat Alvian merasa tenang dan Almaira juga tidak pernah marah sedikitpun pada suaminya. Kini Almaira mengerti, bahwa Sintia itu sengaja ingin mengambil Alvian dari dirinya.

__ADS_1


Namun, ada sesuatu yang masih mengganjal di pikirkan Almaira, siapa wanita yang Ibu Hilma pilihkan untuk suaminya? Bahkan sampai sekarang Almaira belum mengetahui alasan yang sebenarnya, Ibu Hilma memilih dirinya sebagai pendamping untuk putranya.


__ADS_2