Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 40. Virus Merah Jambu


__ADS_3

Almaira buru-buru menyiapkan pakaian untuk suaminya selagi suaminya masih berada di dalam kamar mandi.


Selepas itu pintu kamar mandi telah terbuka dengan menampakkan sosok suaminya yang terlihat berkarisma, mulai berjalan mendekati dirinya. Dengan was-was, Almaira tertunduk malu karena harus menghadapi suaminya lagi.


"Mas, Maira mau emm ... keluar ya. Almaira mau ke bawah."


Alvian tidak menggubris ucapan istrinya malah terus mendekat dengan sangat dekat menghampiri Almaira.


Almaira terus mundur ke belakang sampai pada ujung penjuru membuat langkahnya terhenti, seketika itu pula Alvian mulai mendekati istrinya dengan sorot mata yang terlihat mendambakan sesuatu.


"Mas, itu di bawah pasti Ayah sudah nunggu kita Mas. Kamu jangan macam-macam ya," pinta Almaira karena sedikit takut.


"Sayang kamu jangan takut, Mas enggak akan apa-apain kamu kok, tapi bagaimana Mas bisa ganti baju bila kamu terus berada di sini, Apa kamu mau lihat Mas ganti baju?" Dengan jahilnya Alvian menggoda istrinya.


"Tidak! Maira tidak mau Mas, Almaira duluan ke bawah. Mas nanti bisa nyusul ya. Jangan lupa susu hangatnya di minum dulu, takutnya nanti keburu dingin."


Dengan langkah cepat Almaira berjalan ke luar, setelah mendapatkan celah untuk bisa lepas dari sosok Alvian—suaminya!


Alvian hanya tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang terlihat sangat menggemaskan saat sedang berdekatan dengannya.

__ADS_1


Melihat waktu yang mulai beranjak siang, Alvian pun buru-buru memakai pakaiannya dan tidak lupa, ia juga meminum segelas susu yang dibuatkan oleh istrinya.


...****************...


Di sisi lain, Almaira terlihat menuruni tangga sendirian yang membuat Ayah Ahlan bertanya kepadanya.


"Almaira kemana Alvian? Kok kamu sendiri yang turun, enggak berdua dengan suamimu?" tanya Ayah Ahlan dengan heran.


"Mas Alviannya masih bersiap di atas, Yah." Dengan ambigu, Almaira menjawab pertanyaan Ayah Ahlan.


Ayah Ahlan merasa ada kejanggalan dari ucapan menantunya, tapi ia tidak memperdulikannya karena itu sudah pasti urusan pribadi.


Dengan berjalan menghampiri meja makan. Almaira tidak diam saja, dia mulai menyiapkan makanan di atas meja soraya membantu Bi Sumi yang terlihat membutuhkan bantuannya.


"Sudah Bi, biar Maira saja yang menyiapkannya. Bibi bisa kerjakan yang lain saja. Jangan khawatir, Maira bisa kok."


Bi Sumi mengangguk meski ragu Almaira bisa melakukannya, tapi Bi Sumi sudah yakin Almaira pasti berniat ingin membantunya.


"Kalau begitu, Non Maira tinggal ambil di dapur sisanya. Bibi mau membereskan dapur dulu," ucap Bi Sumi.

__ADS_1


Almaira hanya mengangguk mengerti, dan kembali menata makanan di atas meja yang berukuran persegi panjang, sudah tertera di hadapannya.


Alvian terlihat menuruni anak tangga menghampiri Ayah Ahlan dengan sorot mata yang terus tertuju kepada Almaira, sdangkan Almaira terlihat menundukkan kepalanya soraya menyibukkan dirinya dengan menata makanan di atas meja, menghindari tatapan mata suaminya.


Perlahan Alvian mulai mendekati Almaira, dengan duduk dekat tubuh istrinya yang sekarang masih berdiri, menata makanan.


"Almaira, itu suamimu sepertinya sudah lapar, kamu layani dulu suamimu. Sudah, semua itu biar Bi Sumi saja yang teruskan," ucap Ayah Ahlan yang sedang berada di meja makan.


Almaira nampak melirik suaminya yang terlihat terus memperhatikan gerakannya. "Mas mau apa? Biar Maira ambilkan," ucap Almaira Alvian hanya menatapnya.


"Apapun itu, asalkan dari tanganmu," jawab Alvian dengan sedikit tersenyum.


Blus, guratan merah lagi-lagi terlihat dari wajah cantik Almaira. Bisa-bisanya Alvian bicara begitu, tepat di depan Ayah Ahlan. Untuk menghindari ucapan suaminya yang membuatnya malu lagi, Almaira mulai mengambilkan sepiring nasi dan makanan yang kira-kira suaminya sukai.


"Ini Mas, bila Mas perlu yang lain lagi, bilang Maira saja," ucap Almaira sembari memberikan sepiring makanan kepada Alvian.


Dengan senyum manisnya, Alvian mengambil piring yang sudah dipenuhi makanan, dari tangan istrinya.


"Terima kasih, sayang." Tanpa malu lagi, Alvian mengucapkan kata 'sayang' di penghujung kalimatnya.

__ADS_1


Tidak bisa dihiraukan lagi, virus merah jambu sudah kembali Almaira rasakan.


__ADS_2