Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 39. Menjahili Sang Istri


__ADS_3

Di dalam kamar, Alvian mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk, sambil memandangi wajah istrinya yang sedang bersiap membaringkan tubuhnya di samping dirinya.


Almaira menatap wajah suaminya. "Ayo, sekarang Mas bisa peluk Maira, itu juga kalau Mas masih merasa kedinginan."


Alvian tidak berkata dan langsung memeluk tubuh istrinya tanpa ragu, sedangkan Almaira hanya merasakan kehangatan tubuh suaminya saja.


"Maira, Mas mau kamu tetap berada di samping Mas seperti ini," ucap Alvian tiba-tiba.


Suara Alvian membuat Almaira membuka matanya yang masih berada dalam pelukan suaminya.


"Kenapa Mas bicara begitu?" tanya Almaira yang merasa heran.


"Mas takut kamu meninggalkan Mas seperti Ibu, karena Mas tidak mau kehilangan orang yang Mas sayangi lagi," lirih Alvian sedih.


Almaira memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat. "Atas izin Allah Subhanahu Wata'ala, Almaira akan tetap berada di samping Mas. Sekarang Mas jangan memikirkan apapun lagi yah," seru Almaira sembari menatap wajah suaminya.


Alvian hanya memeluk kembali tubuh Almaira, seakan tidak mau kehilangan seseorang yang disayangi untuk yang kedua kalinya.


Sesesat kemudian, meraka berdua lekas tertidur dengan kenyamanan dan tanpa ada jarak lagi di antara keduanya.

__ADS_1


***


Pagi-pagi sekali Almaira sudah menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarganya, sedangkan Alvian yang terlihat baru terbangun dari tidurnya sedang mencari sosok istrinya yang menghilang saat dirinya baru membukakan kedua belah matanya.


"Ke mana Almaira pergi-pagi begini?" gumam Alvian dengan melihat sekeliling, tapi tidak sama sekali melihat sosok istrinya itu.


Namun, suara pintu terbuka membuat Alvian langsung melihatnya. "Maira," panggil Alvian dengan suara yang parau, khas orang yang baru bangun dari tidur.


Nampak Almaira berjalan menghampiri suaminya dengan membawa segelas susu hangat untuk suaminya itu. "Iya Mas, ada perlu apa?"


"Mas hanya cari kamu sayang, karena saat Mas bangun Mas tidak melihat wajah istri Mas ini," ujar Alvian dan mulai mendekatkan tubuhnya kepada sang istri tercinta.


"Mas mau mandi kalau kamu cium pipi Mas dulu di sini," tunjuk Alvian pada pipi kanannya.


Almaira terlihat ragu untuk memenuhi kemauan suaminya itu.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau, Mas akan tetap di sini!" Alvian merajuk suapaya istrinya mau memenuhi kemauannya.


Almaira langsung mendekati wajah suaminya karena tidak mau membuat suaminya marah.

__ADS_1


Cup, Almaira mencium pipi kanan suaminya "Sudah," ucap Almaira dengan wajahnya yang mulai memerah.


Alvian tersenyum karena berhasil membuat istrinya mau mencium pipi kanannya, merasa tidak puas dengan wajah cantik istrinya. Dengan begitu, Alvian langsung mencium kening sang istri.


"Mas!" pekik Almaira karena tubuhnya hampir tersungkur ke belakang.


Dengan gerakan cepat, Alvian langsung membaringkan tubuh istrinya ke tempat tidur. "Sayang kamu tenang ya, Mas hanya gemas ingin mencium seluruh wajahmu saja," ucap Alvian dengan senyuman penuh arti.


"Den Alvian, Tuan Besar menyuruh Aden untuk sarapan bersama." Suara keras Bi Sumi menggagalkan rencana Alvian.


"Mas, itu Bi Sumi sudah memanggil Mas, sekarang Mas cepat-cepat mandi gih." Dengan sepontan, Almaira mendorong tubuh suaminya itu.


"Ah, kenapa sih harus ada yang ganggu," gerutu Alvian di dalam hatinya.


Alvian bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan dengan wajah yang nampak murung, masuk ke dalam kamar mandi.


Almaira nampak sangat lega, dan segera membuka pintu kamarnya. "Iya Bi, Mas Alvian sebentar lagi akan ke bawah kok. Bibi duluan saja, kami akan menyusul nanti," ucap Almaira.


"Baik Non, kalau begitu Bibi kembali ke bawah ya." Bi Sumi pamit pergi meninggalkan kamar majikan mudanya.

__ADS_1


__ADS_2