
Pada pagi hari, Alvian melihat istrinya sedang melamun di atas tempat tidur, dengan begitu ia bergegas menghampirinya. "Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya.
Almaira tersentak kaget dengan kedatangan suaminya yang secara tiba-tiba itu. Namun, kehadirannya mampu membuat dirinya merasa lebih tenang.
"Maira hanya kangen sama Ummi dan Abi, selama Maira tinggal di sini bersama Mas. Maira belum pernah bertemu mereka lagi. Maira kangen mereka Mas," jawab Almaira tanpa ada yang di sembunyikan.
Alvian terdiam sejenak, dan menatap sendu Almaira dengan kedua bola matanya.
"Nanti kapan-kapan kita berkunjung ke rumah orang tua kamu ya, tapi jangan sekarang ya sayang karena pekerjaan Mas masih banyak, apalagi Ayah tidak ada di sini. Mas minta maaf tidak bisa memenuhi keinginanmu," ucap Alvian yang merasa tidak enak kepada Almaira.
"Tidak papa Mas, Maira mengerti dengan keadaan Mas saat ini. Dengan Mas mengajak Maira ke rumah Abi saja sudah cukup membuat Maira senang." Almaira menampilkan senyuman indahnya.
"Kan Mas bilangnya bukan sekarang, tapi kapan-kapan kita akan ke sana. Setidaknya, Mas telah memberikan harapan yang pasti kepada Maira," lanjut Almaira dan Alvian semakin menyayanginya.
"Sini peluk Mas saja sayang untuk mengurangi rasa rindumu kepada kedua orang tuamu yang tidak ada di dekat kita sekarang," ucap Alvian dengan merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
Almaira tersenyum mendengarkan jawaban dari suaminya itu, tanpa ragu lagi, Almaira berhembur masuk ke dalam tubuh suaminya. "Terima kasih, karena Mas selalu bisa membuat Maira merasa tenang ketika berada di dalam dekapan Mas seperti ini."
"Harusnya Mas yang berterima kasih karena telah diberikan seorang istri secantik dan sesalihah dirimu sayang." Alvian mengecup kening Almaira dengan lembut.
Alvian mulai merasakan ada gejolak asmara yang mulai tumbuh di lerung hatinya, entah itu cinta atau hanya sekedar kasihan. Alvian dengan sabarnya mengelus kepala Almaira yang masih memeluk tubuhnya, karena Alvian juga pernah merasakan rindu yang amat dalam kepada almarhumah ibunya.
Obat penenangnya hanya satu 'Almaira', ketulusan Almaira yang selalu sabar menghadapi sikap dirinya yang kadang kali tidak bisa dikendalikan. Dan senyumannya yang selalu ia berikan kepada dirinya seorang, membuatnya merasa pria yang paling beruntung mendapatkan istri seperti Almaira.
Bukan hanya cantik, tapi Almaira terbilang sempurna di mata Alvian. Kehadirannya mampu menjadikan penerang dalam hidupnya yang hampir tidak bisa bangkit dari keterpurukannya di masa lalu.
"Maira, apa kamu tidak akan pergi ke rumah sakit?" tanya Alvian dengan tetap mengelus kepala istrinya.
"Hampir saja Maira lupa Mas, untung Mas menginginkan Maira. Makasih ya, suamiku." Tanpa sadar Almaira mengatakan itu.
"Apa katamu barusan?" Alvian merasa ada yang berbeda dari ucapan Almaira kali ini.
__ADS_1
Almaira nampak malu menyadari ucapannya tadi. "Eh emm, Maira bilang lupa mau ke rumah sakit hari ini, dan untungnya Mas ngingetin Maira."
"Setelahnya apa?"
"Maira rasa sudah segitu Mas." Almaira menundukkan kepalanya, dengan semakin masuk kedalam pelukan suaminya.
Alvian sudah tahu kalau Almaira tengah menundukkan kepalanya, apalagi sampai menyelusupkan mukanya ke dalam dada bidangnya, pasti ia sedang berbuat kesalahan. Dan setiap Almaira begitu, dia tidak akan berani menatap dirinya, seakan itu menjadi tanda apa yang ia perbuat memang salah.
Lain halnya sekarang ini bukan kesalahan, tapi rasa malu dan takut bercampur menjadi satu sehingga tidak ada lagi perlawanan yang Almaira bisa lakukan lagi. Hanya tertunduk pasrah yang bisa ia lakukan sekarang.
"Mas tahu kamu tidak sengaja mengatakannya. Tenang sayang, Mas tidak akan menyakitimu karena rasa senanglah yang Mas dapatkan saat ini." Alvian mencoba membuat istrinya kembali tersenyum.
Almaira mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya yang teduh saat dilihat. Alvian yang seakan tahu apa yang akan istrinya tanyakan langsung berkata.
"Mas merasa, kamu sudah mulai menerima kehadiran Mas sebagai suamimu."
__ADS_1