
Aditya berdiri di ambang pintu, dengan merasa curiga kepada Almaira yang tidak biasanya berduaan dengan seorang laki-laki, makanya dia berfikir bahwa laki-laki yang bersama dengan Almaira itu suaminya.
"Tapi tidak mungkin, kan. Almaira sudah menikah? Aku saja sudah berapa kali di tolak sama Almaira, masa sama laki-laki itu bisa nerima gitu aja? Gak bisa di biarin nih," gumam Aditya dengan kesalnya.
"Dokter Aditya, kenapa Dokter berdiri di sini?" tanya Dokter Linda yang kebetulan melihat Aditya berdiri di ambang pintu rumah sakit.
Dokter Linda adalah teman dekat Almaira yang kebetulan sama bekerja di Rumah Sakit Surya Jaya. Namun bedanya, ia lebih tua dua tahun dari Almaira dan Dokter Linda berprofesi sebagai Dokter Kandungan, bukan Dokter Bedah seperti Almaira.
Aditya yang kaget langsung berbalik menghadap kepada Dokter Linda.
"Linda kok kamu bisa ada di sini sih?" tanya Aditya.
"Loh, aku yang harusnya nanya sama Dokter Aditya, kenapa Dokter berdiri di sini? Kalau aku jelas kerja di sini, makanya aku berada di sini sekarang."
"Aku lagi liat pemandangan di luar saja," ucap Aditya yang terlihat mengelak.
Linda nampak mengerutkan keningnya. "Cuman itu? Perasaan ada yang mengganjal deh dari ucapanmu barusan," tebak Linda sembari memerhatikan gerakan Aditya.
"Enggak, aku beneran lagi iseng aja pingin berdiri di sini." Aditya masih mengelaknya dari Linda.
Aditya mulai berpikir sejenak, Linda kan teman dekat Almaira dari dulu, mungkin dia tahu semua tentang Almaira.
"Linda," panggilnya tiba-tiba.
"Apa Pak Dokter?"
"Jangan gitulah, panggil aku kayak biasa saja ya," ujar Aditya yang tidak biasa dengan panggilan Linda barusan.
"Oke, ada apa, Kak?"
__ADS_1
"Kamu lihat, itu Almaira diantar sama siapa sih?" tunjuk Aditya pada sosok laki-laki yang bersama Almaira, dan tidak lain ialah Alvian.
Linda melihat ke arah yang ditunjuk Aditya. Namun sangat disayangkan, Linda terlambat melihatnya, karena Alvian sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Mana Kak? Engak ada tuh." Linda nampak mencari sosok yang Aditya maksud.
"Ya, kamunya lama sih. Jadinya, keburu pergi kan, orangnya?" desis Aditya.
"Loh kok Kakak malah nyalahin aku sih? Orang Kak Aditya juga yang nanyanya telat." Linda tidak mau kalah dengan Aditya.
"Sudahlah enggak penting juga." Aditya hendak pergi meninggalkan Linda.
"Tapi, biasanya sih Almaira suka berangkat sendiri, dan yang tadi itu mungkin supir taksi, Kak," ucap Linda dan seketika Aditya kembali mendekatinya.
"Masa sih? Linda, apa Almaira sudah menikah?" tanya Aditya ragu-ragu.
"Setahu aku, Maira belum menikah, Kak. Kenapa Kakak tanya soal gituan? Apa mungkin, Kak Aditya masih nyimpan perasaan ya sama Maira?" tebak Linda.
"Dasar ya, dari dulu Kakak tidak pernah berubah meskipun sekarang sudah jadi Dokter, masih saja ngeselin," cibir Linda karena merasa kesal.
Aditya tidak mendengarkan cibiran dari Linda, dengan santai ia terus berjalan meninggalkan Linda yang terus menggerutu. Namun, tiba-tiba saja Almaira datang menghampiri Linda.
"Assalamu'alaikum, Linda kok kamu masih di sini? Belum kerja?" tanya Almaira dan Linda berhenti berkata.
"Wa'alaikumsalam. Eh Maira, aku hanya lewat saja barusan, lagian sudah banyak pasien yang menunggu di dalam," jawab Linda, dengan ekspresi wajah yang masih terlihat kesal.
"Oh gitu ya, tapi kenapa nih mukanya kayak kesel gitu?"
"Aku lagi kesal Maira, dari dulu tuh Kak Aditya ngeselin sampai sekarang, bikin aku naik darah aja."
__ADS_1
"Jangan terlalu membenci dan mencibir orang lain secara berlebihan, bisa-bisa jodoh loh nanti kalian," goda Almaira pada sahabatnya itu.
"Ih amit-amit, suka aja enggak." Linda membuang jauh-jauh pikiran itu.
Almaira hanya tersenyum dengan tingkah Linda yang suka banyak bicara.
"Ya udah, kita masuk ke dalam saja. Jangan pikirin dia mulu! Katanya enggak suka, kan?" Almaira kembali menggodanya.
Linda hanya terdiam, dengan wajah yang masih kesal, berjalan masuk bersama dengan Almaira dan berpisah saat masuk ke ruangannya masing-masing, karena mereka berdua berbeda ruangan.
Almaira hendak masuk ke dalam ruangannya, tapi tiba-tiba saja Aditya memanggilnya dari arah belakang.
"Almaira," panggil Aditya.
Almaira berbalik dan melihat Aditya yang berjalan menghampirinya. "Ada perlu apa, Kak?" tanyanya.
"Almaira kamu harus mempelajari ini dulu sebelum kita melakukan operasi nanti." Aditya memberikan lembaran kertas yang perlu Almaira pelajari.
"Ini apa, Kak? Bukannya kemarin sudah Almaira pelajari, kan?" tanya Almaira dengan heran.
"Yang ini berbeda, karena ini perlu kamu pelajari sebagai tambahan harian dari aku," jawab Aditya sembari tersenyum simpul.
"Oh gitu ya, nanti saja Maira pelajari. Bisakan, Kak?"
"Bisa, itu hanya untuk menambah ilmu kamu saja." Aditya menjawabnya dengan cepat.
"Terima kasih, Kak. Kalau begitu, Maira pamit ke dalam dulu ya, Kak."
"Iya silakan." Aditya tersenyum manis kepada Almaira.
__ADS_1
Dengan cara itu, ia bisa sering bertemu dengan Almaira, bahkan berbincang dengannya juga.