
"Sudah ya sayang, Mas harus segera ke kantor, ada meeting penting," kata Alvian sembari merapikan pakaiannya.
"Loh, kok mendadak Mas meetingnya?"
"Iya, kliennya meminta diadakan rapatnya sekarang," jawab Alvian, masih dengan merapihkan pakainya.
"Oh gitu ya, Mas." Almaira nampak mengerti. "Tapi Mas harus makan dulu agar tidak sakit perutnya," pinta Almaira dan Alvian hanya mengangguk, menurutinya.
"Oke, Mas akan sarapan dulu di sini karena masih ada waktu satu jam lagi." Alvian tersenyum kepada Almaira.
"Tunggu sebentar ya Mas, Maira masakin dulu makanannya. Mas bisa tunggu di meja makannya," ucap Almaira.
Almaira melerai pelukannya dari tubuh Alvian, dan berjalan ke dapur bersama suaminya. Setelah di dapur, Almaira mulai memasak nasi goreng untuk sarapan pagi ini.
Sesaat kemudian, Almaira sudah kembali dengan membawa dua piring nasi goreng yang nampaknya masih panas dan lezat.
"Ini Mas, makanannya sudah saji. Sekarang Mas makan dulu sebelum berangkat ke kantor," kata Almaira dan Alvian tersenyum senang, mendapatkan perhatian dari istri tercintanya.
"Wah enak nih, Mas jadi ke ingat waktu Mas masih kecil. Dulu Ibu juga suka bikinin Mas nasi goreng seperti ini." Alvian teringat kembali akan masa kecilnya.
"Maaf yah Mas, Maira hanya buatin nasi goreng saja untuk sarapan pagi ini, karena stok makanan dan sayuran di kulkas sudah pada habis," lirih Almaira dan Alvian hanya tersenyum saja.
"Tidak apa sayang. Lagi pula, nasi gorengnya enak. Jangan sedih ya, besok kita belanja untuk mengisi bahan makanan untuk dapur, lagian besok hari minggu. Jadi, ada waktu untuk kita jalan-jalan ke luar," tutur Alvian yang masih betah menatap wajah istrinya.
"Mas tidak keberatan nemenin Maira belanja? Nanti Mas bisa repot loh," cicit Almaira dengan sedikit takut.
__ADS_1
"Untuk istri Mas yang satu ini, Mas mau diajak ke mana pun asalkan sama kamu, sayang." Alvian menggoda Almaira.
"Mas mulai suka gombalin Maira, belajar dari mana?" tanya Almaira yang tiada biasanya Alvian begitu.
"Belajar dari kamu lah, di saat Mas lihat kamu, pasti banyak kata-kata yang akan keluar," jawab Alvian, dengan masih menemani Almaira.
"Masa? Perasaan Maira belum pernah ngajarin Mas gombal," kata Almaira, dengan wajah yang tidak tahu menahu tentang segala hal.
"Memang belum, tapi tingkahmu suka buat Mas gemes," balas Alvian sembari mengedipkan sebelah matanya kepada Almaira.
"Dasar modus!" cicit Almaira yang padahal di dalam hatinya sudah berbunga-bunga.
"Loh kok modus sih, kan kamu yang nanya tadi?" Wajah Alvian dibuat merajuk, berharap dikasihani.
"Eh iya, Maaf dong Mas jangan marah ya, nanti gantengnya ilang loh," bujuk Almaira dengan segala caranya.
"Nah gitu dong, sekarang kita terusin makanannya."
Mereka berdua pun sarapan bersama, dan setelahnya, Alvian mengantar terlebih dahulu Almaira ke Rumah Sakit Surya Jaya dilanjutkan, dengan melajukan kembali kendaraannya menuju Perusahaan Atmaja Putra.
"Pak, klien kita sudah menunggu di ruang rapat," kata karyawan perempuan yang akan ikut meeting bersama dengan Alvian.
"Oke, sekarang kita segera ke sana, kamu sudah siapkan berkas pentingnya, kan?"
"Sudah pak, semuanya sudah siap."
__ADS_1
Alvian pun berjalan menuju ruang rapat yang sudah terlihat banyak orang.
"Assalamualaikum, Maaf saya sedikit terlambat karena ada kepentingan mendadak," jelas Alvian sembari menyapa kliennya.
"Wa'alaikumsalam. Tidak apa Pak Alvian, kita juga lagi nunggu anak saya yang akan ikut meeting hari ini."
Beberapa saat kemudian, seorang perempuan cantik dengan pakaian seksi dan rambut yang panjang, berjalan memasuki ruangan rapat yang akan Alvian lakukan.
"Sintia ... kenapa kamu ada di sini?" Alvian terlihat sangat kaget.
"Ternyata Pak Alvian sudah kenal sama putri saya Sintia?" tanya Kliennya itu.
"Iya Pak, Sintia teman saya saat masih kuliah dulu."
"Bagus dong, kalau kalian sudah saling kenal, maka akan mudah menjalankan bisnis kita ini." Klien itu tersenyum senang.
Alvian hanya diam, dan meeting pun berjalan dengan lancar sampai di setujui kedua belah pihak. Tidak lama dari itu, Klien Alvian sudah pada pulang, kecuali Sintia yang masih berada di sana, dengan alasan ingin berbicara dengan Alvian.
Sintia mulai mendekati Alvian dan mulai menyentuh tubuh Alvian.
"Apa-apaan kamu jangan sembarangan sentuh aku!" tegas Alvian yang tidak terima.
"Jangan galak dong, masa kamu sudah lupa kepadaku," ujar gadis itu manja.
"Sudah cukup! Kamu jangan berbuat macam-macam lagi! Cukup kemarin pembahasan kita selesai, jangan mulai lagi, kamu ya." Alvian memperingatinya.
__ADS_1
Dengan senyum manisnya, Suntia malah terus menggoda Alvian, dengan kecantikan dan keindahan tubuhnya.
"Sudah cukup Sintia! Kamu sudah melewati batas, kamu seorang gadis yang berpendiddikan tinggi, tapi tingkah kamu sama seperti gadis murahan." Alvian nampak marah dan kesal.