Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 17. Teledor


__ADS_3

Ketika Almaira sedang menyiapkan baju untuk suaminya, tidak sengaja matanya melihat Alvian yang tengah memperhatikan dirinya dari kejauhan.


"Eh, Mas sudah bangun, dari sejak kapan?" tanya Almaira dengan sedikit ragu.


Alvian mulai gelagapan karena ketahuan sedang memperhatikan istrinya. "Emm ... iya, eh." Dengan segera, Alvian mengalihkan pembicaraan. "Kamu kenapa tidak membangunkan Mas, hemm?"


"Kan, Mas kemarin bilang sama Almaira. Almaira ganggu tidur Mas. Jadi, Almaira coba saja tidak membangunkan Mas, tadi."


"Oh gitu, ya. Mulai besok sampai kedepannya kamu harus bangunin Mas! Jika terus begini, Mas bisa kesiangan masuk kantor." Alvian memberikan penegasan kepada istrinya.


Almaira tersenyum. "Iya Mas, Almaira akan selalu membangunkan Mas."


"Bagus." Alvian segera berjalan memasuki kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Alvian terdiam sambil tersenyum sendiri.


"Kok bisa ya, senyumnya manis sekal? Ini pertama kali aku melihat senyuman, Almaira. Aku sadar, kalau aku pernah bilang sama dia, tidak akan pernah mencintainya. Alvian, kamu ini kenapa sih," gerutu Alvian dengan tidak jelas.

__ADS_1


Alvian berusaha menghilangkan perasaan yang mulai muncul dengan perlahan ini. Namun, tidak bisa dihiraukan lagi, bahwa kejadian tadi tidak akan pernah bisa Alvian lupakan.


***


Alvian perlahan berjalan menuruni anak tangga sambil melihat Almaira yang sedang menyajikan makanan di atas meja. Tidak ada angin tidak ada hujan, dengan tiba-tiba. Almaira tanpa di sengaja, kakinya menginjak ujung pakaian gamisnya yang mengguntai panjang ke lantai.


"Ahhh," pekik Almaira kaget. Dengan sigap, Alvian membantu Almaira yang tidak sengaja melihat istrinya tersandung, dan langsung berlari menangkap tubuh Almaira yang akan terjatuh.


Namun sayang sekali, Almaira dalam keadaan yang sedang memegang semangkuk sup panas, di tangannya sehingga membuat tangan istrinya tersiram sup yang panas itu. Untung saja tubuhnya tidak tersungkur ke lantai, hanya saja sedikit tumpahan sup panas yang mengenai tangannya.


Almaira dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak Mas, Almaira tidak apa-apa kok," jawab Almaira sambil meringis kesakitan.


"Kamu jangan berbohong. Lihat wajah kamu meringis begitu. Coba mana yang sakit? Sini biar Mas lihat dulu?" ucap Alvian dengan perhatian.


"Enggak kok, Almaira tidak apa-apa. Mas engak perlu khawatir, ya ... Almaira baik-baik saja kok," jawab Almaira sambil menyembunyikan tangannya di belakang.

__ADS_1


"Bohong! Sini Mas lihat." Alvian menarik tangan istrinya.


Almaira tersentak kaget, saat suaminya memegang tangannya. Dengan refleks, Almaira melepaskan tangannya dari genggaman suaminya. Namun sayang, Almaira kalah kuat dengan Alvian yang notabenya seorang laki-laki.


"Jangan menghindar! Kamu tidak perlu takut, aku tidak akan apa-apain kamu. Lagi pula wajar aku menyentuhmu ... kamu kan istriku," jelas Alvian tanpa ragu menyatakan statusnya.


Almaira mulai sadar bahwa dirinya bukan lagi sendiri. Ia sudah menikah dan suaminya adalah Alvian. Jadi, wajar saja jika Alvian menyentuhnya itu kan sudah menjadi haknya.


Dengan sejenak Almaira terdiam dan membiarkan suaminya melihat tangannya. Namun, pada saat Alvian melihat tangan istrinya. "Tuh kan tangan kamu membengkak, merah ini! Pasti ini sangatlah sakit," ucap Alvian yang begitu khawatir pada Almaira.


"Enggak Mas ... ini hanya luka ringan saja," sengkal Almaira yang tidak mau suaminya hawatir.


"Hah, luka ringan? Lihat ini membengkak begini, mana bisa di bilang luka ringan. Seharusnya, sebagai seorang dokter, kamu pasti sudah tahu luka ini bukanlah luka ringan dan perlu segera di obati!" tegur Alvian yang tanpa sadar perhatian kepada istrinya.


Sedangkan Almaira yang melihat suaminya mulai merasa khawatir dengan begitu, Almaira hanya menundukkan kepalanya karena tidak bisa menahan air mata yang hampir terjatuh.

__ADS_1


Alvian mulai mengangkat dagu istrinya. "Hey, loh kamu kok nangis, Almaira ... aku tidak bermaksud memarahimu," ucap Alvian sambil mengusap air mata yang masih menetes dari pelupuk mata istrinya.


__ADS_2