
Setelah Reza dan Fatimah sampai di rumahnya. Fatimah langsung membawa suaminya ke dalam kamar dan mengambil obat untuk suaminya. Namun, semua itu tidak berhasil.
Dari siang sampai malam, kondisi Reza tidak kunjung membaik dan tubuhnya sangat lemah. Namun, satu hal yang mengganjal. Suaminya itu tidak mau jauh-jauh dari Fatimah, dan ingin terus-terusan berada di sampingnya.
Seperti pada saat ini, Reza sedang memeluk tubuh istrinya dan tiduran di atas paha Fatimah. Dengan begitu, ia tidak bisa ke mana-mana karena suaminya itu tidak mau beranjak, dan ingin selalu berada di sampingnya.
"Kak, makan dulu yah. Biar Adek ambilkan," bujuk Fatimah karena kasihan melihat suaminya yang sangat lemas dan belum makan apa pun lagi, dari semenjak pulang di pernikahan Dokter Linda.
"Emm, enggak mau, Dek. Kakak cuman mau di sini aja," ucap Reza sembari mendekap tubuh istrinya.
"Tapi, Kak. Kakak belum makan apa pun lagi," ujar Fatimah sembari mengusap kepala suaminya.
"Astaghfirullah, Kak. Tubuh Kakak panas, kita ke dokter yah." Fatimah nampak kaget, di saat meraba kening Reza yang penasnya tidak seperti biasanya.
"Enggak mau, Kakak mau di sini aja. Lagi pula, ini sudah malam," tolak Reza yang entah kenapa menjadi malas-malasan.
"Tunggu sebentar, Adek ambilkan dulu makannya, setelah itu minum obat," ucap Fatimah yang ingin beranjak dari tempat tidur.
"Jangan! Kakak enggak mau. Sudah di sini saja, mual Kakak mulai menghilang jika berada di dekat Adek."
"Tidak bisa begitu, Kak. Kalau enggak makan dan minum obat, panasnya tidak akan turun," senggah Fatimah.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama." Reza pun melepas pelukannya dari Fatimah.
"Iya, enggak akan lama kok," balas Fatimah dan ia pun segera mengambil makanannya di dapur.
Selama itu pula, Reza sering bulak balik ke kamar mandi karena tidak bisa menahan rasa tidak enak badan yang dirasakannya.
Namun, tidak lama dari itu Fatimah kembali dengan membawa makanannya, tetapi Reza nampak diam saja.
"Kak, coba buka mulutnya," pinta Fatimah di saat suaminya sedang duduk di tempat tidurnya.
Reza tidak menuruti permintaan istrinya, dan ia malah menutup hidungnya. "Kakak tidak bisa, Dek," ujar Reza dan kembali lagi ke kamar mandi.
Melihat itu, Fatimah menjadi sangat khawatir dan segera menghampirinya.
"Kak, kok bisa sampai begini? Adek tidak sanggup lihatnya, kita periksa saja ke rumah sakit yah." Fatimah mengusap pelan pundak Reza yang terlihat sangat lemah.
__ADS_1
"Tidak perlu, ini hanya masuk angin biasa. Jangan khawatir, besok juga sembuh," ujar Reza sembari tersenyum simpul.
"Tapi, Kak. Makan dulu yah," pinta Fatimah dengan penuh harap.
Melihat istrinya yang mengkhawatirkan dirinya, maka Reza pun langsung menuruti permintaan Fatimah walaupun ia tidak sanggup melakukannya.
"Baiklah, ayo kita kembali," jawab Reza dan mereka berdua pun kembali ke tempat tidur.
Dengan ragu, Reza menerima suapan makanan dari tangan Fatimah walaupun tubuhnya sedang tidak enak. Tidak lama dari itu, Reza pun bisa menghabiskan makanannya tanpa tersisa. Dengan begitu, Fatimah sangat bahagia melihatnya.
Walaupun demikian, Reza melakukannya karena permintaan darinya, tapi jika tidak dengan cara yang seperti itu, kecil kemungkinannya suaminya itu tidak akan makan apa pun lagi. Maka dari itu, Fatimah mengambil cara seperti itu untuk membuat suaminya mau makan.
"Ini obatnya, Kak." Fatimah memberikan sebutir obat kepada suaminya.
Dengan begitu, ia pun langsung meminumnya dan membuat istrinya senang.
"Sudah, sekarang Adek jangan ke mana-mana lagi yah." Reza kembali mendekati istrinya.
"Ya, lebih baik Kakak tidur sekarang," kata Fatimah dan Reza pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Untuk membuat Reza tidur, Fatimah pun mengelus kepalanya sembari membacakan sholawat, sehingga suaminya pun terlelap dengan nyaman di sampingnya.
Lantas, Fatimah pun ikut terlelap dengan nyaman di samping suaminya. Meskipun dalam keadaan yang kurang sehat, tapi wajah Reza masih terlihat sangat damai.
Walaupun demikian, Fatimah tidak merasakan sakit yang suaminya alami, tapi ia bisa merasakan kesih sayang suaminya yang semakin menyayanginya.
Oleh karena itu, Fatimah sangat khawatir di saat Reza sakit, dan ia mendoakan kesembuhan untuk suaminya.
***
Di waktu subuh, Reza sudah bangun dan langsung pergi ke kamar mandi karena merasakan mualnya kembali.
Fatimah yang masih terlelap, terbangun karena mendengar suara air di dalam kamar mandi. Dan ia tidak melihat suaminya, di sampingnya.
Oleh karena itu, Fatimah pun bergegas menghampiri kamar mandi karena rasa khawatirnya terhadap suaminya.
"Kak, tolong buka pintunya. Kakak baik-baik saja, kan?" Fatimah berusaha membuat Reza keluar dari dalam kamar mandinya.
__ADS_1
Namun, belum sampai satu menit saja. Reza sudah membuka pintunya. Dan nampaklah wajah tampan suaminya yang kini menjadi pucat karena sakit.
"Kak," ucap Fatimah sembari menuntun suaminya untuk kembali ke tempat tidur mereka.
"Ada apa dengan Kakak? Adek takut terjadi sesuatu sama Kakak, dari kemarin belum sembuh sakitnya." Fatimah nampak berkaca-kaca, karena tidak kuasa melihat kondisi suaminya yang sedang tidak sehat.
"Jangan khawatir, Kakak baik-baik saja. Selagi Adek ada di samping Kakak, rasa mualnya akan hilang dengan sendirinya, maka Adek tidak perlu sedih yah."
Reza mengusap air mata yang hampir keluar dari kedua bola mata indah milik Fatimah. Ia juga tidak sanggup jika istrinya menangis karena kondisinya yang tiba-tiba saja menjadi begini, padahal Reza tidak mudah sakit. Namun, untuk kali ini ia merasa tidak enak badan dan sering muntah, tubuhnya pun terasa begitu lemah.
"Tapi, Kak ...," ucap Fatimah dengan menatap sendu wajah suaminya.
Dengan begitu, Reza tidak kuasa lagi melihatnya dan langsung memeluk Fatimah dengan penuh kasih sayang, dan mengecup keningnya.
"Sudah, jangan sedih. Kakak tidak kenapa-kenapa," kata Reza menyakinkan istrinya bahwa ia sedang baik-baik saja.
Setelah Reza mengatakan itu, barulah Fatimah sedikit merasa tenang. Dan jika memang suaminya itu akan baik-baik saja di saat berada bersamanya, maka ia tidak keberatan untuk selalu menemani Reza ke mana pun itu.
Meskipun itu sedikit aneh, tapi Fatimah tidak memikirkannya dan yang paling penting sekarang adalah kesembuhan suaminya.
"Adek akan selalu berada di samping Kakak," ucap Fatimah dan Reza tersenyum mendengarnya.
"Ya udah, sekarang kita salat subuh dulu. Biar hati kita merasa tenang," ucap Reza dengan menatap wajah istrinya dalam.
Maka dari itu, Fatimah pun mengangguk dan segera melaksanakan salat subuh berjamaah dengan suaminya. Hal itu sering mereka berdua lakukan, sehingga sudah menjadi kebiasaan.
Meskipun dalam keadaan sakit, tapi Reza tetap mengingatkan istrinya akan kewajibannya. Dengan begitu, Fatimah sangat beruntung mendapatkan suami yang selalu mengingatkannya di saat ia lupa akan kewajibannya.
Pada dasarnya, Reza bukanlah seorang ustaz, tapi ia mampu membingbing istrinya dengan baik. Sedikit-sedikit, dia belajar menjadi imam yang baik bagi istrinya walaupun pengetahuannya belum banyak.
.
.
.
Assalamualaikum.
__ADS_1
Jangan lupa, Like dan Komentarnya yah.😊