Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 89. Kabar Gembira


__ADS_3

Kini tidak ada lagi yang harus ditunda, semuanya telah beres. Jadi, untuk apalagi menunda-nunda jika sudah waktunya. Semua orang juga berhak tahu atas kabar ini.


Untuk itu, Alvian dan Almaira sudah memutuskan akan memberitahu kepada keluarga Almaira hari ini. Maka dari itu, Almaira nampak gugup dan tidak karuan, dengan begitu, Alvian mencoba menenangkannya.


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Biarkan keluarga tahu tentang kehamilan mu, pasti mereka akan sangat senang dengan kabar ini," ucap Alvian soraya menenangkan istrinya yang tengah gelisah.


"Iya Mas, tapi ...." Belum sempat Almaira membereskan ucapanya Alvian sudah lebih dulu memotongnya.


"Jangan tapi-tapian, sudah katakan saja. Mas yakin bila Abi dan Ummi tahu kabar ini, mereka akan sangat senang." Alvian tersenyum menatap wajah istrinya sembari membayangkan apa yang akan terjadi kedepannya.


Mendengar penuturan dari suaminya itu, Almaira mulai berpikir positif dan memberanikan diri untuk mengatakan kabar gembira ini kepada keluarganya.


Beberapa saat kemudian, pasangan suami istri itu berjalan ke luar kamarnya dan menghampiri ruang tamu yang kini sudah dipenuhi oleh kedua orang tua Almaira dan saudaranya. Merekapun ikut bergabung karena ingin menyampaikan kabar gembira. Akan tetapi, belum ada satu orang pun yang tahu tentang kehamilan Almaira. Maka dari itu, Almaira ingin mengatakannya sekarang.


"Mas," panggil Almaira dikala keluarganya tengah sibuk berbincang dengan pengantin baru. Jangan lupakan, Reza dan Fatimah juga berada di sana.


"Iya, ada apa Sayang?" jawab Alvian sembari beralih menatap istrinya.


"Mas saja yah yang mengatakannya," pinta Almaira. Ia menyerahkan semuanya kepada sang suami.


Dilihat dari wajah istrinya, Alvian sudah tahu. Bahwa istrinya itu tidak sanggup untuk mengatakannya, dengan begitu ia hanya bisa menyetujuinya. "Baiklah,"


"Dek, kok bisik-bisik. Ada apa?" tanya Ahmad yang tidak sengaja melihat Almaira dan suaminya berbincang-bincang ditengah pembicaraan keluarganya.


Lantas semua orang yang berada di ruang tamu menatap pasangan suami istri itu, sehingga membuat Almaira sangat gugup. Dan Alvian yang seakan tahu kondisi istrinya pada saat ini, memilih menanganinya dengan penuh keberanian.


"Abi, sebenarnya kami berdua ingin mengatakan sesuatu kepada seluruh keluarga di sini," ucap Alvian sembari melirik istrinya yang masih diam di samping dirinya.


"Mau mengatakan apa Alvian? Katakanlah, kami semua menunggunya," tutur Abi Zaenal soraya tersenyum manis kepada menantunya.


Sebentar Alvian melirik istrinya dan Almaira tersenyum kepadanya sehingga ia berani untuk mengatakannya.


Alvian menarik napasnya sebentar. "Sebenarnya saat ini Almaira tengah hamil," ucap Alvian yang mendapatkan tatapan mata yang seakan ingin mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Alhamdulillah." Serempak kedua orang tua Almaira serta saudara-saudaranya mengucapakan syukur atas kabar kehamilannya.


Ummi Siti mendekati putrinya Almaira soraya menangatakan banyak hal kepadanya. "Maira, kepada tidak dari awal saja mengatakannya? Jika Ummi tahu, pasti Ummi tidak akan membuat Maira kecapean."


Almaira tersenyum, memang umminya ini sangat perhatian sehingga membuatnya sangat gembira. "Tidak papa, Maira juga tidak melakukan pekerjaan yang begitu berat karena Mas Alvian sudah memperingati Maira. Supaya bisa menjaga kandungan dengan baik," tutur Almaira sembari melirik pada suaminya. Alvian yang mendengarkan penuturan istrinya, hanya tersenyum saja.


"Sekarang usia kandungan Maira sudah berapa bulan?" tanya Ummi Siti pada putrinya, seperti pada umumnya seorang ibu.


"Dua bulan, Mi." Mendengar jawaban dari Almaira, lantas Ummi Siti tersenyum. Seakan mendapatkan kabar yang begitu gembira, bahkan lebih dari itu.


Diam-diam Abi Zaenal juga ikut tersenyum, disaat mendengar usia kandungan putrinya. Rasanya begitu sangat gembira mendengar kabar baik ini karena memang kabar ini yang ditunggu oleh kedua orang tua Almaira.


"Selamat ya, Dek. Semoga kandungannya sehat selalu sampai persalinan," ucap Ahmad yang juga ikut gembira dengan kabar ini.


"Iya Kak, terimakasih."


Jangan lupakan Ilham, Fatimah, dan Reza. Mereka juga mengucapakan selamat kepada Almaira. Sungguh untuk saat ini, keluarga Abi Zaenal sangat gembira.


Melihat kegembiraan istrinya sehingga membuat Alvian ikut merasa senang karena kegembiraan Almaira menjadikannya kuat. Namun, kesedihan Almaira membuatnya rapuh.


Oleh karena itu, Alvian akan berusaha membuat Almaira terus gembira. Apalagi untuk sekarang, istrinya pasti membutuhkan perhatian darinya. Maka dari itu, Alvian tidak akan pernah membuat Almaira kekurangan kasih sayang darinya.


Sedangkan Reza hanya terdiam sembari membanyakan istrinya mengandung seperti Almaira. Akankah, seluruh keluarganya akan senang seperti ini? Aduh, pemikirannya sudah terlalu tinggi saja yah, Reza ini. Padahal baru kemarin ia mengucapakan ijab qobul, tetapi sudah membayangkan anak.


Biarkanlah, semua itu wajar bagi semua orang yang sudah berumah tangga. Sekarang diantara anak Abi Zaenal yang belum berkeluarga hanya Ilham saja, padahal umurnya sudah matang untuk menikah. Akan tetapi, belum juga menikah karena selalu memberikan jawaban belum siap.


...****************...


Lain halnya dengan Nisa yang tiba-tiba saja mendapatkan telpon dari ayahnya, di Palembang. Entah apa yang terjadi, tetapi Nisa disuruh untuk pulang ke rumahnya karena urusan penting yang orang tuanya ingin katakan.


"Nisa, kamu kenapa?" tanya Alisha—teman satu pesantren sama Nisa yang juga dekat dengan Fatimah.


"Ayahku telpon, ia memintaku untuk pulang ke rumah," jawab Nisa dengan wajah yang ditekuk.

__ADS_1


"Ada apa emangnya?" Alisha bertanya lagi karena melihat wajah Nisa yang seharusnya senang, eh ini malah sedih.


"Enggak tahu, tapi aku masih betah di sini."


"Pulang saja, mungkin kedua orang tua Nisa kangen. Jadi, menyuruhmu pulang. Nanti juga Nisa bisa kembali lagi ke sini," tutur Alisha yang terkesan memberi saran.


Apa yang diucapkan oleh Alisha ada benarnya juga, dengan begitu Nisa berpikir positif saja. Setelah itu, ia ditemani oleh Alisha untuk menemui Ummi Siti dan meminta izin kepadanya.


Meskipun agak sibuk, tetapi Ummi Siti masih ada waktu senggang. Dengan begitu, Nisa dan Alisha bisa bertemu dengannya.


"Assalamualaikum, Ustazah." Nisa mengucapkan salam saat menemui Ummi Siti yang tengah berada di teras luar rumahnya. Setelah berbincang bersama keluarga di dalam, Ummi Siti memilih bersantai di teras luar yang ditemani oleh Abi Zaenal.


"Wa'alaikumsalam warahmatullaahi wabarokatuh," jawab Ummi Siti dan Abi Zaenal bersamaan.


"Maaf Ustaz, kami menganggu waktunya."


"Tidak apa-apa, ada perlu apa Nak Nisa kemari?" tanya Abi Zaenal.


"Ustaz, Nisa ingin meminta izin untuk pulang ke Palembang. Tadi Nisa mendapatkan telpon dari Ayah, beliu meminta Nisa untuk pulang," jelas Nisa yang gelisah karena berhadapan dengan pemilik pesantren, Abi Zaenal.


Sejenak Abi Zaenal berpikir, kemudian ia mengijinkannya. "Baiklah, silahkan. Pulangnya mau naik apa?"


"Nisa dijemput oleh Kakak, Ustaz."


"Oh gitu. Ya sudah, hati-hati dijalannya. Kalau begitu, kami titip salam untuk Ayahmu yang di Palembang," ucap Abi Zaenal dengan begitu ramah. Meskipun begitu, tetap membuat Nisa tegang.


"Baik, Ustaz." Nisa dan Alisha berjalan lebih dekat kepada Abi Zaenal dan Ummi Siti untuk menyalami tangan keduanya, begitupun dengan Alisha.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."


"Wa'alaikumsalam warahmatullaahi wabarokatuh."


Lantas Alisha dan Nisa pun kembali ke pondok perempuan, sedangkan Nisa langsung membereskan barang-barangnya.

__ADS_1


__ADS_2