Menikahi Wanita Muslimah

Menikahi Wanita Muslimah
Bab 127. Kejadian Yang Direncanakan


__ADS_3

Selagi Almaira dan Alvian beristirahat dulu di warung, tiba-tiba saja pemilik warung itu bertanya perihal kejadiannya kepada mereka berdua.


"Maaf, Non. Apa kalian baik-baik saja? Ibu hanya punya ini, silahkan diminum ya," ujar Ibu pemilik warung tersebut.


"Iya, Bu. Terima kasih," ucap Almaira sembari menerima secangkir teh panas dari tangannya.


"Non, itu kenapa bisa terjadi kecelakaan kepada kalian?" tanya ibu itu dengan penuh tanda tanya.


"Kami juga tidak tahu, Bu. Pada awalnya mobilku baik-baik saja, tapi setelah dalam perjalanan, remnya tiba-tiba lolos begitu saja. Dari situ aku panik, tapi Alhamdulillah kami selamat." Kali ini Alvian yang menjelaskannya karena Almaira masih meminum teh hangat itu.


"Kenapa bisa tiba-tiba begitu ya? Padahal sebelumnya baik-baik saja. Apa mungkin ada orang yang sengaja melakukannya?" tebak ibu pemilik warung tersebut.


"Itu bisa jadi juga," balas seorang laki-laki yang sempat membantu Alvian, memeriksa mobilnya.


Alvian pun melihat ke arah suara itu, dan tatapannya seakan mempercayai perkataannya.


"Tuan Alvian, tukang bengkel tadi sudah memeriksa mobil anda, dan tidak terjadi masalah apa pun. Namun, saluran remnya terputus sehingga tidak berfungsi, dan sepertinya disengaja oleh orang lain," jelas bapak yang sudah berumur itu.


"Tapi siapa yang melakukannya?" tanya Alvian yang merasa tidak mempunyai masalah dengan siapa pun.


"Mungkin seseorang yang tidak suka sama Tuan," ujar ibu pemilik warung itu.


Alvian terdiam, dia mencoba mengingat sesuatu. Namun, tidak sama sekali ditemukan keganjalan dalam pertemanan ataupun rekan kerjanya.


"Sayang, Mas merasa tidak punya masalah dengan siapa pun, dan semuanya baik-baik saja," ucap Alvian kepada istrinya.


"Almaira rasa sama, Mas. Tidak ada masalah apa pun," ujar Almaira yang sepemikiran dengan suaminya.


"Mungkin bisa jadi juga, orang yang dekat dengan Tuan Alvian atau istrinya." Ibu pemilik warung itu kembali menebaknya.


Setelah mendengar perkataannya, Alvian dan Almaira pun tidak berpikiran jauh lagi, karena nantinya akan sangat panjang utusan, maka ia pun tidak mempermasalahkannya lagi.


"Kami tidak mau lebih jauh lagi memikirkannya, mungkin untuk sekarang, tidak perlu diperpanjang urusannya. Dengan kami selamat saja, saya sudah sangat bersyukur," ujar Alvian sembari tersenyum, walaupun di dalam hatinya terbesit rasa penasaran.


"Pak, apa mobil saya sudah kembali membaik?" tanya Alvian kepada bapak-bapak yang membantunya.


"Iya, sekarang sudah kembali lagi seperti sebelumnya," jawab bapak itu sembari tersenyum.


"Terima kasih, ya. Ini ada sedikit uang dari saya, mohon diterima ya." Alvian memberikan uang kepada bapak itu.

__ADS_1


"Eh, jangan, Mas!" tolak pria yang sudah membantunya itu.


"Sudah, tidak papa. Terima ya, Pak," bujuk Alvian dan akhirnya bapak itu pun menerimanya.


"Terima kasih banyak, Tuan."


Alvian hanya mengangguk saja dan segera kembali pulang, bersama dengan istrinya. "Kalau begitu, kami pulang dulu ya," ucap Alvian sembari bersikap.


"Iya, hati-hati di jalannya."


"Iya, Pak. Terima kasih untuk sebelumnya, karena sudah membantu kami," ucap Almaira sembari tersenyum.


"Sama-sama, Non. Semoga lancar sampai rumahnya."


"Aamiin," balas Alvian dan Almaira.


Setelah itu pun, mereka langsung kembali menaiki mobilnya. Hari juga mulai sore, dan Alvian sudah lama menunggu dengan istrinya dari siang di warung tersebut. Itu terjadi karena mobil Alvian yang harus diperbaiki remnya.


***


Seorang wanita dengan penampilan yang sangat berkelas, terlihat sedang menatap halaman rumahnya dari atas. Namun, tidak lama dari itu, suara dering ponsel membuatnya langsung tersenyum sinis.


"Bagaimana?" tanyanya dari balik sambungan telepon.


"Apa? Ini tidak bisa dibiarkan, aku akan bertindak lebih lanjut lagi kepadanya." Sintia terlihat begitu kesal, dengan ketidak berhasilannya.


Dia sangat kesal, semua rencananya gagal, tapi ia tidak menyerah sampai bisa menyingkirkan Almaira. Niatnya untuk mendapatkan Alvian, sudah tidak bisa diubah lagi.


Walaupun demikian, ia sudah ditolak beberapa kali oleh Alvian karena Almaira, maka dia menjadi sangat beringas dan ingin mendapatkan keinginannya walaupun dengan cara apa pun itu.


Selama ini, Sintia diam saja. Namun, setelah mengetahui bahwa Almaira sedang mengandung anak dari Alvian. Dia pun sangat tidak terima, dan ambisinyanya untuk memiliki Alvian sangat besar, sehingga mengakibatkan keburukan.


Sintia langsung menutup sambungan telponnya, dan wajahnya sudah terlihat memerah, menahan amarah yang sedang meluap-luap.


Jadi, dalang dari semua ini adalah Sintia, dia yang merencanakan kecelakaan itu dari awal dan menyuruh orang lain untuk mencelakai Almaira. Namun, sangat disayangkan, usahanya itu gagal dan tidak membuahkan hasil.


Cinta sudah mengalahkan segalanya, bahkan hal yang senekad itu Sinta berani melakukannya. Walaupun demikian, perbuatannya itu sudah sangat melanggar pelaturan.


Menjalani hubungan yang sudah berjalan cukup lama, membuat Sintia tidak bisa melupakannya, dengan begitu saja. Alvian merupakan laki-laki pertama yang bisa membuatnya tertarik, dengan sosoknya yang tampan dan dingin kepada setiap wanita.

__ADS_1


Sudah dari dulu, Sintia menginginkan Alvian, tapi tidak bisa didapatkan olehnya. Mungkin untuk sekedar berhubungan, ia sudah sangat bahagia, tapi hubungan itu tidak berlangsung lama karena hadirnya Almaira yang menjadi istrinya.


***


Setelah Almaira dan Alvian sampai di rumah, keduanya nampak sangat heran melihat ada Abi Zaenal, Ummi Siti, da kudua Kakak Almaira sudah berada di rumahnya serta Ayah Ahlan yang sedang berkumpul di ruang tamu.


Meskipun begitu, Almaira sangat senang bisa bertemu dengan kedua orangtuanya lagi, bahkan ia langsung menghampirinya. Alvian hanya terdiam dan mengikuti langkah istrinya yang sudah sangat cepat.


"Assalamualaikum," ucap Alvian dan semuanya melihat kearahnya.


"Wa'alaikumsalam."


"Abi, Ummi. Kapan datang ke sini?" tanya Almaira sembari menyalami tangan kedua orangtuanya, begitu pula dengan suaminya.


"Belum lama, kami hanya ingin bertemu dengan putri Abi saja," jawab Abi Zaenal sembari tersenyum kepadanya.


"Kalau begitu, Almaira ambilkan dulu minum untuk Abi," ucap Almaira dan ia hendak pergi ke dapur.


Namun, niatnya itu terhenti seketika, karena melihat Bi Sumi yang berjalan ke arahnya, dengan membawa nampan yang berisi cemilan dan air minum untuk keluarganya.


"Tidak perlu, Non. Bibi sudah siapkan," ujar Bi Sumi sembari menyimpan cemilan dan minumannya di atas meja.


Dengan begitu, Almaira hanya tersenyum manis kepada Bi Sumi yang sudah menyiapkannya. "Terima kasih, Bi."


"Sama-sama, Non."


Bi Sumi kembali menatap kepada Abi Zaenal dan yang lainnya. "Silakan diminum kopi dan tehnya, selagi masih panas," ucapnya dengan sopan.


Abi Zaenal hanya mengangguk saja, dan Bi Sumi pun kembali ke dapur untuk mengerjakan pekerjaan yang lainnya lagi.


"Almaira, sebenarnya ada yang ingin Abi katakan kepadamu," ucap Abi Zaenal dengan tiba-tiba. Pada saat, putrinya itu sedang melepaskan rindu dengannya dan Ummi Siti.


Almaira menatap heran wajah abinya, begitu pula dengan Alvian yang juga sangat penasaran dengan apa yang ingin Abi Zaenal katakan kepada istrinya, sehingga dengan sengaja berkumpul.


.


.


.

__ADS_1


Assalamualaikum.


Kira-kira, apa ya? Lanjut?


__ADS_2