
Pada pagi hari Almaira sudah mondar mandir menyiapkan banyak keperluan suaminya dari pakaian, makanan, dan banyak lagi yang Almaira kerjakan.
Alvian yang baru pertama kali mendapatkan perlakukan seperti ini dari istrinya menjadi tidak karuan. Biasanya ibu yang selalu mengurus semua keperluan Alvian, sedangkan sekarang istrinya yang mulai mengerjakan pekerjaan yang selalu ibunya lakukan kepada dirinya.
Semua itu membuat Alvian sulit melepaskan kepergian ibunya, bagaimanapun Alvian adalah anak tunggal yang sangat dimanjakan oleh ibunya.
Ingin rasanya Alvian memutar waktu dimana kejadian naas itu tidak pernah terjadi, mungkin sekarang Alvian masih bisa bersama dengan ibunya. Namun sayang nasi sudah menjadi bubur, semua tidak bisa di ulang kembali yang sudah terjadi biarkanlah terjadi itu semua sudah menjadi takdir Allah SWT. Kita tidak bisa menyalahkan siapapun atas semua kejadian yang kita alami.
"Mas, Almaira sudah siapkan sarapan untuk Mas. Ayo kita makan dulu, Mas," ajak Almaira pada suaminya.
"Tidak perlu Almaira! Saya tidak lapar."
__ADS_1
"Jangan begitu Mas! Mas harus makan, nanti Mas bisa sakit kalau tidak makan," protes Almaira sehingga membuat Alvian menuruti kemauan istrinya untuk segera makan, meskipun tubuhnya tidak bersemangat menyantap makanan tersebut.
Saat menghampiri meja makan, ternyata sudah terdapat semua keluarga Almaira beserta Ayah Ahlan yang baru pulang dari rumah sakit. Makanan yang begitu banyak dihidangkan oleh Almaira dan terlihat begitu lezat untuk di santap. Tapi tidak sedikitpun Alvian berselera memakan makanan tersebut dengan semua perlakuan istrinya itu, mengingatkannya kepada mendiang Ibu Hilma.
Almaira mulai memasukkan nasi dan lauk pauk yang sesuai dengan kemauan Alvian ke dalam sebuah piring. Alvian mulai menerima piring yang berisikan makanan dari tangan Almaira dan mulai menyantapnya.
Di meja makan tersebut banyak yang memuji masakan Almaira, tapi tidak pernah sedikitpun Alvian mengeluarkan sepatah kata pujian apapun kepada Almaira. Itu semua berhasil membuat Almaira kecewa yang dimana seorang istri pasti menginginkan perlakuan manis dari suaminya, apalagi mereka adalah pengantin baru. Namun, semua itu tidak di dapatkan oleh Almaira. Tidak masalah, Almaira bisa belajar lebih jauh lagi untuk bisa memahami suaminya itu.
Pada jam sembilan pagi Ayah Ahlan, Alvian beserta keluarga Almaira sudah berada di sebuah kuburan yang di mana akan dilangsungkannya pemakaman mendiang Ibu Hilma. Abi Zaenal yang memimpin do'a selama proses pemakaman Ibu Hilma.
Sedangkan Alvian terus menangisi kepergian ibunya dengan menaburkan bunga kepada kuburan tersebut. Sebagai seorang istri pasti Almaira merasakan apa yang di alami suaminya itu, kehilangan orang yang sangat kita sayangi sungguh sangat sakit rasanya. Apalagi jika orang tersebut adalah ibunya sendiri.
__ADS_1
Sampai pada acara pemakaman tersebut sudah selesai, Alvian tetap saja berada di sana dan pada akhirnya Ayah Ahlan datang dan membujuknya.
"Alvian ayo kita pulang, Ibumu sudah tenang di sana. Kamu harus bisa mengikhlaskan kepergian Ibumu itu," ucap Ayah Ahlan sambil merangkul putranya.
"Tidak mudah mengikhlaskan kepergian Ibu begitu saja Ayah. Ibu sudah menjadi segalanya bagi Alvian," lirih Alvian yang masih menatap tanah kuburan ibunya.
"Ayah tahu kamu pasti belum bisa melepaskan kepergian Ibu. Maka dari itu, kamu harus bangkit karena masih banyak orang yang menyayangimu. Alvian kamu masih ingat tidak? Ibu pernah bilangkan, bahwa ia ingin terus melihatmu bahagia bersama istrimu."
Alvian mulai luluh oleh bujukan ayahnya itu. Perlahan Alvian mulai melangkah menjauhi makam ibunda tercintanya, bersamaan dengan langkah kaki yang mulai menjauhi pemakaman tepat ibunya di makamkan.
Sekeras apapun ego kita melangkah akan tetap kalah dengan masa depan yang indah. Seorang ibu tidak akan pernah bisa untuk di lupakan, tapi akan tetap menjadi kenangan terindah dalam hidup kita.
__ADS_1