
Di sisi lain terlihat seorang wanita yang hanya terdim saja, sedangkan suaminya sudah ada di sampingnya.
"Dek, kamu kenapa, kok diam saja?" tanya Reza yang baru menyadari bahwa istrinya itu sedang tidak ceria lagi.
"Eh, enggak kok," sengkal Fatimah sembari menatap wajah suaminya yang begitu damai saat dipandang.
"Masa enggak, tapi itu diam saja?"
"Tadi itu, Adek cuma mikirin sesuatu saja," jawab Fatimah jujur karena ia tidak mau, ada yang disembunyikan dari suaminya itu.
"Mikirin apa? Coba cerita sama, Kakak." Kini Reza sudah siap mendengarkan cerita dari istrinya.
"Emm ... itu Kak, kok sampai sekarang Adek belum juga kunjung hamil?" tanya Fatimah sembari menggigit bibir bawahnya karena takut suaminya itu marah.
Reza terdiam sebentar dan kembali menatap wajah istrinya. "Mungkin Allah belum menitipkannya kepada kita jika sudah waktunya pasti akan diberikan, Adek sabar saja, yah."
"Tapi Kak, ini sudah lima bulan dari semenjak kita menikah. Akan tetapi, kita belum ...." Fatimah tidak membereskan ucapannya karena suaminya langsung saja memotongnya.
"Sut! Jangan katakan apa pun lagi. Kakak tahu, Adek sangat menginginkannya, begitu pula dengan Kakak. Jadi, jangan berbicara begitu karena Allah Subhanahu Wata'ala sudah mengaturnya dengan sangat baik dan kita hanya bisa berdoa untuk itu," sahut Reza soraya mencoba membuat istrinya itu mengerti.
"Iya, Kak. Maafkan Adek karena telah lancang mengatakan itu," lirih Fatimah sembari menatap sendu wajah suaminya.
"Tidak apa-apa, sekarang yang terpenting bagi kita berdua adalah bersabar, karena dengan bersabar semuanya akan terasa lebih ringan."
__ADS_1
Fatimah tersenyum mendengarkan penjelasan dari suaminya, bukan hanya bisa membuatnya tertawa, tetapi suaminya itu juga bisa membuatnya tenang dengan menguatkannya oleh kata-katanya.
"Dek, mau dengar cerita Kakak, enggak?" tanya Reza yang masih setia di samping Fatimah.
"Mau, cerita apa itu, Kak?"
"Masih ingatkah, Dek? Cerita Nabi Zakariya yang tidak kunjung dikaruniai seorang anak walaupun usianya sudah lanjut? Akan tetapi, ia tidak pernah murka dan selalu bersabar menantinya."
Fatimah tidak mengatakan apa pun, ia hanya mengangguk saja meskipun ia sudah sangat tahu ceritanya, tapi ia ingin tetap mendengarkan cerita suaminya.
"Di saat itu, Nabi Zakariya dan istrinya tidak kunjung mendapatkan seorang anak. Namun, keduanya tidak pernah lelah untuk tetap berdoa kepada Allah. Meskipun begitu, istri Nabi Zakariya sudah divonis mandul dan tidak bisa mendapatkan seorang anak. Akan tetapi, seiring berjalannya doa dan juga amalan ibadah yang dikerjakan secara konsisten, maka Allah pun mengabulkan permohonan keduanya dan memberikan keturunan kepada mereka. Melalui rahim Ilyasya, lahirlah seorang anak yang diberi nama Yahya. Padahal di saat mengandung Nabi Yahya, Ilyasya berusia 98 tahun dan Nabi Zakaria berusia 120 tahun."
"Lalu apa yang terjadi, Kak?" tanya Fatimah setelah mendengarkan cerita dari suaminya.
"Iya, Kak. Insya allah, Adek akan bersabar sampai waktunya telah tiba. Adek cuma takut saja, Kakak akan meninggalkan Adek karena tidak kunjung hamil." Dengan jujur Fatimah mengatakan itu kepada suaminya.
Reza hanya mengulum senyum. "Mau sampai kapan pun Kakak tidak akan pernah meninggalkan Adek, karena Kakak sudah mendapatkan kebahagiaan yang sangat besar. Bersama dengan Adek saja, Kakak sudah sangat bahagia."
"Kata orang jika seorang istri tidak kunjung mendapatkan anak, maka suaminya akan dengan mudah meninggalkannya dan mencari yang baru," tutur Fatimah, ia juga tidak begitu yakin dengan semua itu.
"Itu kan cuma kata, belum tentu benar dan Adek tidak perlu mempercayainya karena Kakak dan suami orang itu berbeda, dan tidak semua suami mempunyai pikiran begitu."
Fatimah hanya tertunduk karena memang, apa yang dikatakan oleh suaminya itu sangatlah benar.
__ADS_1
"Suami yang baik dan sangat menyayangi istrinya tidak akan pernah melakukan itu, karena baginya dengan istrinya ada di sampingnya saja sudah cukup melengkapinya. Meskipun begitu, kehadiran seorang anak akan sangat dibutuhkan oleh pasangan suami istri itu, tapi percayalah Allah tidak akan pernah membiarkan hambanya merasa kekurangan. Karena itu, Allah akan memberikan apa yang membuat kita lengkap, bukanya memberikan apa yang membuat kita sempurna," jelas Reza dan istrinya nampak begitu takjub kepada suaminya itu.
"Adek sangat sayang sama Kakak," ujar Fatimah yang tiba-tiba mengatakan itu.
Reza tersenyum. "Kakak juga sangat sayang sama Adek. Dengan hadirnya kelengkapan, maka akan hadirlah kesempurnaan yang kita inginkan."
"Iya, Kak. Kakak sangat benar dan Adek tahu, Kakak tidak akan meninggalkan Adek dan akan tetap bersama dengan Adek, walaupun dalam keadaan yang rumit sekali pun," balas Fatimah sembari membalas senyuman dari suaminya.
Keduanya saling melempar senyum dan kembali berpelukan sehingga tidak ada lagi hal yang dipikirkan oleh Fatimah, karena semuanya telah menjawab semuanya dengan sangat jelas.
"Tetaplah seperti ini setiap saat, maka Kakak akan sangat beruntung menjadi seorang suami yang selalu bisa membuat istrinya tertawa dan tersenyum," ucap Reza yang masih memeluk tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Dan tetaplah menjadi suami yang selalu ada di dalam kondisi apa pun untuk istrinya," balas Fatimah sembari menatap bola mata suaminya yang bersinar, memancarkan sebuah cinta yang sangat berarti.
"Seperti matahari yang selalu menerangi bumi, begitu pula keinginan Kakak. Kakak ingin menjadi seorang suami yang selalu melindungi dan memberi cahaya serta kasih sayang yang tidak pernah bisa dikatakan oleh kata-kata saja. Namun, Kakak ingin hanya Adek yang sulalu ada di dalam setiap langkah Kakak sehingga kita berjalan di atas jalan yang sama. Begitu pula dengan tujuan yang sama, membangun sebuah rumah tangga yang diridhai oleh Allah Subhanahu Wata'ala."
"Aamiin, Kakak juga harus ada di setiap Adek membutuhkan sandaran karena seorang istri tidak sekuat hati suaminya. Oleh karena itu, seorang suami diminta untuk melindungi istrinya dan jangan pernah menyakiti hatinya karena seorang perempuan akan mudah tersentuh hatinya," kata Fatimah kepada suaminya dan Reza sudah tahu maksudnya.
Reza tidak pernah bosan menatap wajah cantik Fatimah yang sudah sangat mewarnai hidupnya. Walaupun demikian, istrinya itu belum hamil. Akan tetapi, ia tidak pernah mempermasalahkannya karena baginya Fatimah itu wanita yang sempurna dan tidak ada yang berhak menilai buruk istrinya itu.
Cinta yang diberikan oleh Reza tidaklah sekedar kata, ia benar-benar mencintai istrinya dengan sepenuh hati. Maka dari itu, mau bagaimanapun Fatimah di mata orang banyak, bagi Reza ia adalah ratu di dalam hidupnya.
Selagi cinta masih ada di dalam hati, maka mau bagaimanapun keadaannya, ia tidak akan pergi begitu saja. Dan selagi sabar menjadi yang utama, maka tidak akan ada yang lebih indah dari penantian setelah sabar.
__ADS_1