
Perlahan Almaira terduduk di kursi dekat suaminya dengan terus menahan rasa malunya, sedangkan Alvian dengan tanpa merasa malu terus melirik Almaira di sela makanan yang masuk ke dalam mulutnya.
Meski merasa risih, tapi Almaira tetap memakan makanannya, dan satu yang membuatnya merasa ada kejanggalan karena rasa malu kepada ayah mertuanya. Namun, untungnya sarapan pagi itu tidak membuang waktu lama, sehingga membuat Almaira lebih merasa tenang kembali.
Sekarang Almaira dan Alvian sedang berada di dalam kamar yang akan bersiap-siap mengantarkan Ayah Ahlan ke bandara.
"Mas," panggil Almaira pelan.
Alvian yang sedang merapihkan pakaian, lantas berbalik menatap kepada Almaira. "Iya ada apa sayang?"
Almaira nampak ragu untuk mengungkapkan sesuatu. "Apa Mas yakin ingin membiarkan Ayah pergi ke luar kota tanpa dirimu? Akan tetapi, bila Mas ingin menggantikan Ayah juga enggak papa kok, Maira Insya Allah mengizinkannya."
__ADS_1
Almaira nampak tersenyum walau di dalam hatinya terbesit rasa tidak mau ditinggalkan oleh suaminya.
Dengan langkahnya yang lebar, Alvian berjalan menghampiri istrinya sambil memegang kedua pipi Almaira dengan lembut.
"Kalau di tanya Mas rela membiarkan Ayah pergi ke luar negeri dengan usianya yang tidak muda lagi, itu salah sayang, tapi bila Mas menggantikan Ayah dan membiarkanmu sendirian di sini itu juga salah," ucap Alvian yang masih menatap wajah istrinya.
"Lalu, mana yang benar Mas? Kalau keduanya tidak ada yang Mas pilih?" tanya Almaira dengan memegang tangan kekar Alvian yang berada tepat di kedua pipinya.
"Kamu bertanya, mana yang Mas pilih?" tanya Alvian dan dengan lugunya Almaira mengangguk.
Alvian terdiam sebentar dan kembali melanjutkan ucapannya. "Kedua, Bila Mas tetap bersikeras untuk ikut serta membantu atau menggantikan Ayah, dan otomatis Mas akan meninggalkan kamu sendiri di sini, sedangkan Mas sudah mempunyai kewajiban atas dirimu. Maka dari itu, Mas akan mengambil jalan keluar dari keduanya dengan tetap berada di sini menemanimu, dan Reza lah yang akan membantu Ayah untuk proyek itu, sedangkan Mas yang akan mengurus Perusahaan Atmaja Putra di sini dengan sangat baik. Sekarang sudah lebih jelas kan, sayang?"
__ADS_1
Dengan penjelasan yang panjang lebar itu, berhasil membuat Almaira keheranan terhadap suaminya yang tidak biasanya mau memberikan penjelasan yang begitu panjangnya, apa lagi kepada dirinya yang baru-baru ini bisa menerima kehadirannya.
"Sayang kenapa diam, hemm? Apa kurang jelas, penjelasan yang Mas berikan barusan?" tanya Alvian karena melihat istrinya yang hanya diam saja.
"Sudah Mas, Maira sudah paham dengan semua penjelasan dari Mas," jawab Almaira sembari tersenyum manis kepada suaminya.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita segera bersiap. Ayah dan Reza pasti sudah nunggu kita di bawah," ajak Alvian dengan menatap lembut wajah Almaira.
Dengan begitu, Almaira langsung bersiap-siap sebelum suaminya selesai bersiap. Namun, dikarenakan waktu juga sudah mulai beranjak siang dan pesawat yang akan dinaiki Ayah Ahlan akan segera berangkat, sehingga membuatnya harus segera mengantarkan Ayah Ahlan ke bandara.
Oleh karena itu, Alvian dan Almaira segera turun bersama menghampiri Ayah Ahlan dan Reza yang terlihat sudah berdiri menunggu kedatangan mereka berdua.
__ADS_1
"Sekarang kita sudah pada kumpul semua, jadi sebelum kita berangkat ke bandara kita baca bismillah dan do'a dulu. Dengan begitu, proyek yang akan Ayah tangani semoga dapat berjalan dengan lancar," ucap Ayah Ahlan.
"Aaminn." Serentak Reza, Alvian, dan Almaira mengamini do'a dan ucapan yang barusan Ayah Ahlan lontarkan.