
Dalam dekapan Alvian, Almaira menyunggingkan senyumannya karena dengan perlakuan Alvian yang seperti ini, mampu membuatnya merasa lebih nyaman.
Sepasang suami-istri itu akhirnya tertidur kembali dalam kehangatan yang tak pernah terbayangkan.
***
Pagi yang cerah menyambut indah para insan yang tengah bersiap dengan kegiatannya. Ayah Ahlan berjalan menghampiri meja makan yang biasanya sudah tersaji makanan di atasnya.
"Loh Bi, kemana Almaira? Kenapa tidak kelihatan," tanya Ayah Ahlan yang heran, tidak melihat menantunya yang selalu menyiapkan makanan.
"Tuan. Non Almairanya belum ke luar kamar, dari tadi pagi."
"Apa dia sakit? Bi, coba deh bangunin, takutnya terjadi apa-apa dengan Almaira."
Bi Sumi mengangguk patuh dengan berjalan menuju ke lantai atas, tempat di mana kamar Alvian berada.
__ADS_1
Setelah sampainya Bi Sumi di lantai atas, di ketuknya pintu kamar Alvian olehnya. Alvian yang merasa mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya, dengan seketika Alvian terbangun.
"Sudah jam berapa ini?" Alvian dengan wajah lesunya melihat jam yang tertempel di dinding kamarnya.
"Hah, sudah jam delapan, gimana ini? Aku hampir saja terlambat bekerja." Alvian menarik nafas dan membuangnya dengan kasar, sambil mengusap wajahnya dengan lembut.
Tanpa sadar Alvian melirik ke samping mengingat kembali di saat dirinya bersama dengan Almaira dalam satu tempat tidur yang sama. Senyuman mengembang terlihat jelas dari wajah Alvian, entah itu senyuman bahagia atau senyuman tulus karena cinta.
"Den Alvian, Non Almaira. Apa kalian sudah bangun?" teriak Bi Sumi dari luar pintu kamar Alvian.
Pintu terbuka dengan memperlihatkan Alvian yang sedang berdiri, dan wajahnya yang terlihat kusut. Bi Sumi menyakini bahwa tuan mudanya baru saja bangun, sudah lebih dulu terlihat dari penampilannya.
"Syukurlah Aden sudah bangun, kirain Bibi Aden kenapa-kenapa, ternyata baru bangun tidur. Non Almairanya mana, Den?" Bi Sumi bertanya di mana keberadaan Almaira.
"Almaira masih tidur, Bi. Setelah salat subuh, dia tertidur kembali. Jadi, sekarang Almaira masih tidur dan belum bangun."
__ADS_1
"Oh gitu. Pantesan tadi pagi Non Almaira tidak ke luar kamar, ternyata tidur lagi. Tuan besar tadi khawatir terjadi apa-apa kepada Non Almaira, karena tidak biasanya Non Almaira tidak ada pada saat sarapan pagi. Maka dari itu, Tuan mengusulkan Bibi untuk melihat keadaan Aden dan Non Almaira."
"Bibi nanti kasih tahu Ayah, ya. Almaira baik-baik saja, hanya saja sekarang dia masih tidur," pinta Alvian kepada Bi Sumi yang akan kembali ke rumahnya.
Bi Sumi mengangguk, "Baik Den, nanti Bibi sampaikan kepada, Tuan Besar," ucap Bi Sumi dengan perlahan berjalan meninggalkan kamar Alvian.
Alvian melihat kepergian Bi Sumi, ia kembali menutup pintu kamarnya dengan rapat, berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap pergi ke kantor.
Beberapa saat kemudian, Alvian telah terlihat rapih dengan pakaian kantornya, berjalan menghampiri tempat tidur.
Perlahan Alvian mendekati Almaira sembari melihat wajahnya yang sedang terlelap. Terlihat teduh, tanpa beban sedikitp un. Alvian mencium kening Almaira yang terlihat masih terlelap, sebagai sebuah kecupan hangat yang Alvian berikan kepada Almaira sebelum berangkat ke kantor.
"Cantik Mas, Mas tinggal dulu, yah." Alvian tersenyum mengelus pipi Almaira.
Tersirat sebuah rasa yang kini mulai tumbuh dan bersemi, di relung hati Alvian terhadap istrinya.
__ADS_1