Mira

Mira
Mira


__ADS_3

“Mira! Mira! Buka pintunya? Keluar kamu dari kamar, kamu enggak lihat cucian piring numpuk!”


Ceklek. Pintu kamar terbuka.


“Ada apa Bu? Kenapa teriak-teriak?”


“Dasar anak malas, bukanya cuci piring malah rebahan aja di kamar.”


“Tapi Bu, Mira sudah cuci piring tadi.”


“Kapan? Tuh liat di dapur. Piring pada numpuk begitu.”


Dengan kasar Rena menarik tangan Mira ke arah dapur.


“Ya Allah Bu, sakit.” Ujar Mira tangannya terus saja ditarik tanpa peduli jika tangan anak tirinya sakit.


“Lihat itu.” Rena melepaskan genggaman tangan Mira dan mendorong tubuhnya.


Untung saja Mira bisa berpegangan dengan tembok.


Jika tidak bisa bocor kepalanya terbentur meja.


“Buka mata kamu! Lihat tumpukan piring kotor itu!”


Mira begitu terkejut saat melihat tumpukan piring kotor.


20 menit yang lalu dia baru saja mencunci piring.


Tapi kenapa malah ada tumpukan piring kotor.


“Ibu enggak mau tahu, pokoknya kamu harus cuci piring sampai bersih.”


“Bu, Mira baru aja cuci piring. Kenapa Mira harus cuci piring lagi? Mira mau istirahat Bu.”


“Anak kurang ajar! Bisanya Cuma bantah orang tua aja!”


“Aku enggak maksud bantah Bu, tapi tolong ngertiin Mira. Mira cape Bu mau istirahat dulu.”


“Banyak alesan kamu! Kalau kamu engggak mau cuci piring, besok saat berangkat kuliah jangan harap kamu dapat ongkos dari Ibu!” ancam Rena.


Rena segera pergi meninggalkan Mira di dapur, Mira hanya bisa pasrah diperlakukan buruk oleh ibu tirinya.


Ya, Rena adalah Ibu tiri Mira. Ayahnya menikah lagi saat ibunya sudah bercerai dengan ayahnya.


Sedangkan ayahnya pergi merantau mencari uang untuk kebutuhan keluarganya saat ini.


Selama tinggal dengan ibu tirinya, hidup Mira jadi berubah 180 derajat.


Ia sering sekali diperlakukan menjadi pembantu ketika ayahnya tidak ada di rumah.


“Kasian banget sih disuruh cuci piring lagi.” Ucap Ayu anak dari Rena.


“Ini pasti ulah elukan? Elukan yang sengaja bikin tumpukan cucian piring ini.”


“Lu nuduh gue? Sembarangan aja lu kalau ngomong.”


“Enggak usah boong lu sama gue, gue tahu banget ini bekas piring lu yang kotor. Gue sempet liat lu makan somay bareng sama temen-temen kampus lu di depan teras.”


“Kalau emang iya kenapa? Masalah buat lu?”


“Sekarang juga lu cuci piring ini.”


“Enak aja lu nyuruh gue cuci piring, kan yang disuruh cuci piring sama Ibu itu elu. Kenapa jadi gue.”


“Bodo amat, gue ogah banget cuci piring bekas lu. Najis cuih!”


Mira pergi meninggalkan Ayu di dapur, Mira sudah sangat muak hidup dengan sodara tirinya.


Ibu dan anak sama aja, sama-sama jahat dan tidak punya hati.


Dia tidak peduli dengan tumpukan cucian kotor.


Biar saja Ayu yang mengerjakan semuanya.


Paginya Mira siap berangkat kuliah. Tak lupa Mira menyiapkan segelanya agar tidak ada yang ketinggalan.


“Mira?! Buka pintunya.” teriak Ayu dari luar kamar Mira.


“Aduh, ngapain lagi sih. Berisik banget!” gerutu Mira.


Malas meladeni teriakan Ayu.


Mira terus melanjutkan pekerjaanya, Mira tidak peduli dengan teriakan Ayu yang terus saja menggendor pintu kamarnya.

__ADS_1


Dor..Dor..!


“Mira, buka pintunya.”


Karena sudah tidak tahan lagi dengan teriakan Ayu. Mira pun melangkah keluar kamar.


“Ada apa sih? Kenapa harus teriak-teriak? Berisik tau!"


“Lagian lu budek banget sih! Dipanggil-panggil bukanya langsung buka pintu.” Ayu terus saja merancu.


“Ya terus kenapa? Lu ada perlu apa?”


“Gue pinjem laptop lu dong.”


“Lah, buat apaan?”


“Laptop gue rusak! Gue mau kerjaiin tugas nih enggak ada laptop.”


“Terus gue pake ape? Pake talenan buay kerjain tugas! Gue juga butuh laptop ini buat kerjain tugas.”


“Lu pinjem aja dulu ke temen lu dah, gue lagi kepepet nih.”


“Lu nyuruh gue buat minjem ke temen, kenapa enggak elu aja pinjem ke temen-temen yang lain?” Mira tidak terima jika laptop miliknya dipakai oleh Ayu.


Mira juga butuh laptop ini, apalagi tugas skripsi sudah hampir selesai.


Sebentar lagi Mira akan lulus kuliah.


“Pelit banget sih lu, gue pinjem dulu sebentar.”


“Enggak bisa!”


Mira segera melongos pergi meninggalkan Ayu.


Baru saja Mira membuka pintu hendel.


Tiba-tiba Rena ibu tiri Mira menarik rambut Mira.


Hingga dia merintih kesakitan.


"Heh! Mau ke mana kamu? Anak kok enggak ada sopan santunnya." ujar Rena masih menarik rambut Mira.


“Aduh, sakit!”


“Aku mau kuliah Bu. Aduh Bu sakit.”


“Sebelum kamu berangkat kuliah, pinjamkan dulu laptop kamu ke Ayu.”


“Hah!”


Rena langsung melepaskan tangannya dari rambut Mira.


Dan langsung merampas laptop milik Mira.


“Ya Allah Bu, itu punya aku. Aku mau pakai laptop itu.”


“Pinjamin dulu buat Ayu, kamu enggak denger dia ada tugas buat kuliahnya.”


“Aku juga ada tugas Bu, aku juga butuh laptop itu.” Mira berusaha mengambil laptop miliknya dari tangan Ibu tirinya.


Tapi tidak berhasil, Rena langsung mendorong tubuh Mira.


Hingga Mira hampir terjatuh.


“Ini sayang laptop kamu, buruan gih berangkat. Nanti kamu telat loh.”


“Makasih ya Mah. Mamah emang paling baik deh.”


“Ini ongkos kamu.” Rena menyerahkan uang 200ribu ke Ayu.


Ayu menerima uang itu dengan senang hati.


"Kalau gitu Ayu berangkat kuliah dulu ya Mah."


"Hati-hati Nak dijalan."


Ayu segera berangkat menggunakan motor milik mamahnya


Setelah anaknya berangkat Rena menatap sinis ke arah Mira.


“Nih!” Rena menyondorkan uang 20rb ke Mira.


“Bu, ini apa?”

__ADS_1


“Ongkos buat kamu kuliah.”


“Ya Allah. Kok aku cuma dikasih 20rb? Sedangkan Ayu dikasih 200rb.”


“Kamu mau protes? Wajar aja Ayu saya kasih 200ribu, Ayukan anak saya. Sedangkan kamu, bukan anak saya!"


"Bu, Ayahkan udah kasih jatah uang masing-masing buat Mira sama Ayu. Kok aku cuma dikasih sedikit."


"Masih untung ya, kamu saya kasih uang. Bukanya ucapin makasih, malah protes aja bisanya."


“Iya, itu enggak adil Bu. Kampus aku itu jaraknya lumayan jauh, uang segini mana cukup. Kalau naik motor aja lebih dari 30 menit, itu juga pake motor."


“Salah sendiri, kenapa bekas cucian piring kemarin enggak kamu cuci.”


“Bu, piring itu bekas Ayu dan teman-temannya makan somay. Harusnya Ayu dong yang cuci piring.”


“Eh..eh.. Berani bantah orang tua kamu ya. Ayu itu anak saya, saya enggak mau kalau Ayu cuci piring. Saya enggak mau tangan Ayu jadi rusak gara-gara cuci piring. Paham kamu!”


Mira berdengus kesal ketika ibu tirinya memperlakukan dirinya tidak adil.


Seharusnya uang 200rb itu juga harus diterima oleh Mira.


Tapi pada kenyataannya Mira tidak pernah mendapatkan ongkos lebih.


Lelah dengan ocehan ibu tirinya, dia langsung pergi menuju kampus.


"Heh, anak kurang ajar. Main nyelong aja perginya." kesal Rena.


Mira sudah malas berhadapan dengan ibu tirinya.


Untungnya Mira masih ada uang tabungan untuk ongkos dan jajan.


Sebelum naik gojek, Mira jalan ke arah jalan besar.


Tujuan dia jalan agar ongkos naik ojek online lebih murah.


“Mira?”


Mira langsung menoleh ketika namanya dipanggil.


Ternyata itu teman sekelasnya.


“Bayu.”


“Kok lu jalan sih? Enggak takut ketinggalan kelas lu?”


“Enggak apa-apa? Lagian udah biasa kok.”


“Dulu lu sering naik motor, kok sekarang jalan kaki?”


“Itu—“


Dulu Mira punya motor, dan sering naik motor saat ingin berangkat ke kampus.


Tapi semenjak ayahnya menikah dengan ibunya Ayu.


Motor miliknya dijual oleh ibu tirinya.


“Motor kamu Ibu jual ya?”


“Lah, kok dijual? Terus aku naik apa dong kalau mau kuliah?”


“Kan kamu bisa naik gojek. Nanti masalah ongkos biar Ibu yang kasih.”


“Tapi Bu, motor itukan punya aku.”


“Aduh, kamu enggak tahu ya. Kalau Ayah kamu itu punya utang banyak. Lagian Ayah kamu kok yang nyuruh jual tuh motor.”


“Masa sih?”


“Kalau enggak percaya tanya aja sam Ayah kamu.”


Dan benar saja motor milik Mira satu-satunya dijual oleh ibu tirinya.


Dengan alasan untuk membayar hutang ayahnya.


Dan hasil sisa jual motor milik Mira pun lenyap.


Mira tidak dapat bagian sama sekali.


Dan yang paling mengejutkan, ibu tirinya membelikan motor baru untuk Ayu anaknya.


“Mira?”

__ADS_1


__ADS_2