
Happy Reading 🖤🖤🖤
Pagi ini Mira kehilangan semangat, pikirannya masih memikirkan Ayahnya dan Lian. Dia terus berusaha menghubungi Lian tetapi, tidak bisa.
"Susi, kita di rumah saja! aku ingin menenangkan diri!" ucap Mira.
"Iya, ayo kita sarapan dulu! aku sudah membuatkan sup untukmu!" ajak Susi.
"Kamu duluan! aku ingin ke kamar dulu!" tolak Mira.
"Mira, kesehatan kamu juga penting! ayo kita sarapan dulu, kalau kamu sakit nanti Lian dan Ayah pasti khawatir!" ucap Susi.
"Tidak! mereka tidak menghawatirkan aku! buktinya aku hubungi tidak bisa!" kata Mira, melangkahkan kaki menuju kamar.
Susi kebingungan bagaimana menghadapi Mira yang sedang sedih, dia menghubungi Lian tetapi tidak bisa. Lalu menghubungi Tio untuk menanyakan keberadaan Lian, tetapi Tio berkata tidak tau.
Di dalam kamar Mira mondar-mandir sambil menggenggam telepon genggamnya, dia merasa sangat khawatir dengan Lian dan Ayahnya. Lalu keluar kamar untuk menemui Susi yang sedang bersih-bersih rumah.
"Sudah, Sus! biarkan saja! nanti juga ada yang membersihkan!" ucap Mira.
"Bingung, Mir! mau ngapain!" kata Susi, melanjutkan pekerjaannya.
"Susi, kenapa perasaan aku semakin tidak enak, ya!" ucap Mira.
"Mira, kamu makan dulu! jangan banyak pikiran, mungkin itu perasaan kamu saja!" kata Susi.
Telepon genggam Mira akhirnya berbunyi, Lian telah menghubungi Mira, tetapi yang dia dengar adalah isak tangis Lian. Mira menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi Lian tidak berbicara dia hanya meminta maaf dan menyebut nama Ayahnya, hal ini membuat Mira bertambah panik.
Mira kemudian mengajak Susi untuk berangkat ke luar kota menyusul Lian dan Ayahnya. Air mata Mira tak terasa menetes membasahi pipinya.
"Kamu tenang dulu, Mira! sekarang kamu makan terus kita siap-siap ke sana!" ucap Susi, menghibur Mira.
"Aku tidak tau apa yang terjadi... ucap Mira lirih.
Susi lalu memeluk Mira dan menghapus air mata Mira, setelah Mira agak tenang dia mengambilkan makan buat Mira.
"Ayo kita berangkatkan sekarang juga, Susi!" ajak Mira, dia sudah memesan tiket menuju ke kota di mana keberadaan Lian dan ayahnya.
Mereka lalu berangkat ke bandara, setelah perjalanan kurang lebih tiga jam mereka sampai juga di kota itu. Mira menghubungi Lian menanyakan di mana keberadaan mereka.
"Susi, kenapa Lian memberi alamat sebuah rumah sakit?" tanya Mira.
__ADS_1
"Kamu tenang, ya!" ucap Susi.
"Bagaimana aku bisa tenang!" ucap Mira, meneteskan air mata.
Di rumah sakit Mira mendapati Lian sedang duduk dan menundukkan kepalanya.
"Lian, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Mira, Lian tidak menjawab pertanyaan Mira, dia langsung memeluk tubuh Mira.
"Maafkan aku, Mira!" ucap Lian.
"Ayah, dimana?" tanya Mira.
Lian tak kuasa menahan tangisnya, dia menceritakan apa yang terjadi dengan Ayahnya kepada Mira. Seketika Mira pingsan mendengar apa yang di katakan Lian, lalu Lian dan Susi membawa Mira ke ruangan yang sudah di siapkan oleh suster rumah sakit.
"Susi, tolong jaga Mira! aku harus melihat keadaan Ayah!" ucap Lian.
"Iya, kamu tenang saja, Lian!" jawab Susi.
Penderitaan Mira tidak ada habisnya, baru juga merasakan kebahagiaan bertemu dengan Ayahnya, dia harus menerima kenyataan kalau Ayahnya sakit keras.
Lian juga benar-benar terpukul dengan kejadian ini, Ayah Mira baginya juga orang tua bagi dia. Dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Mira akhirnya tersadar dari pingsannya, dia sudah bisa menerima kenyataan yang di hadapi saat ini.
"Permintaan Ayah, aku tidak bisa berbuat apa-apa!" jelas Lian.
"Kenapa Ayah tega sama aku... ucap Mira lirih.
Mereka melihat Ayah nya yang sedang di rawat di dalam ruangan dari luar lewat sebuah kaca. Hal ini juga membuat keduanya sangat sedih.
Lian membawa Mira dan Susi ke sebuah rumah kecil, yang berada di sebelah rumah sakit. Rumah itu di tempati Ayah Mira sejak sakit.
"Rumah siapa ini?" tanya Susi, penasaran dengan rumah kecil tetapi sangat rapi terdapat beberapa jenis bunga di depan rumah itu.
"Rumah Ayah!" jawab Lian.
"Sejak kapan? kenapa Ayah tidak pernah cerita?" tanya Mira.
"Sejak Ayah sakit, dia menempati rumah ini sendiri! dia tidak ingin membuat kita semua khawatir, Mira!" jelas Lian.
"Ayah begitu tega menyembunyikan rasa sakitnya sendiri! apa Ayah tidak menganggap aku anak!" ucap Mira, dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Itu semua karena Ayah merasa bersalah sudah meninggalkan kamu, Mira! dia ingin melihat kamu bahagia, memberikan kamu kebahagiaan yang dulu belum pernah dia kasih!" jelas Lian.
"Aku tidak minta apa-apa, Lian! yang aku inginkan kita berkumpul kembali, kenapa Ayah masih menyembunyikan kalau dia sakit!" ucap Mira.
"Mira, kamu tenang! maksud Ayah kamu baik!" sahut Susi.
Lian kemudian pamit untuk kembali ke rumah sakit, dia memberi waktu buat Mira dan Susi untuk istirahat. Setelah Lian pergi Mira menangis, dia teringat saat merawat ibunya seorang diri. Kepedihan itu harus terulang lagi sekarang, walaupun dengan keadaan yang berbeda tetapi rasa kehilangan itu tidak bisa hilang begitu saja.
****
Nenek Aldo saat ini berkunjung ke rumah Aldo dan Lisa, dia memprotes Aldo kenapa membeli rumah kecil. Nenek juga berencana membelikan rumah buat Aldo yang lebih besar tetapi Aldo menolak, hal itu membuat Lisa geram.
Lisa menceritakan keadaan nya di rumah itu, membuat nenek merasa kasihan dengan Lisa. Nenek juga akan membelikan Lisa sebuah mobil setelah mendengar cerita dari Lisa.
"Lisa, kenapa kamu cerita seperti itu ke nenek?" tanya Aldo.
"Aku cerita juga apa adanya! lagian benar kan kalau di sini jauh dari fasilitas umum!" jawab Lisa.
"Kendaraan umum juga banyak!" kata Aldo.
"Panas, Do!" alasan Lisa.
Aldo lalu meninggalkan istrinya yang membuatnya kesal, dari kecil Aldo tidak pernah meminta apapun dari neneknya. Kenapa ini justru istrinya yang memanfaatkan neneknya. Aldo pergi ke tempat nenek, dia meminta nenek untuk membatalkan permintaan Lisa.
"Nek, tolong jangan turuti permintaan Lisa!" kata Aldo.
"Tidak apa-apa, Do! sebentar lagi kalian akan memberikan cicit buat nenek!" ucap Nenek.
"Aldo tidak pernah menyentuh Lisa, Nek! jangan berharap lebih!" jelas Aldo.
"Aku tidak mau tau, Do! nenek akan menuruti permintaan Lisa!" kata nenek, keras kepala.
"Sampai harta nenek habis!" ucap Aldo lagi.
"Aldo, kenapa kamu ngomong seperti itu?" tanya nenek.
"Nenek, jangan manjakan Lisa!" kata Aldo, lalu pergi dari rumah neneknya.
Aldo masih marah dengan Lisa, dia tidak pulang ke rumah. Dia pergi ke tempat temanya dan menginap di sana.
Lisa tidak merasa bersalah dia justru senang, dan memberi kabar mamahnya kalau nenek akan memberinya sebuah mobil.
__ADS_1
Bersambung....