Mira

Mira
Bab 73


__ADS_3

Mira kembali mondar-mandir tidak bisa tidur padahal sudah larut tengah malam. Terdengar suara ketukan pintu membuat dirinya terpaksa membangunkan Susi untuk menemaninya membuka pintu.


"Lian!" teriak Dira saat membuka pintu, lalu memeluknya. Aku khawatir, kamu pulang kenapa tidak bilang-bilang?" Lanjutnya.


"Kalau bilang gak surprise, dong," kata Lian.


Susi dan Tio saling bertatapan melihat kedua insan yang sedang berpelukan.


"Tio, ayo masuk dulu!" ajak Susi.


"Engga, yang punya rumah saja tidak nyuruh," ucap Tio melirik ke arah Mira dan Lian.


"Maaf, aku khawatir banget tadi. Ayo kita masuk!" ajak Mira.


Mereka lalu masuk ke dalam rumah, Susi dan Mira membuat minuman dan membawa makanan ringan untuk mereka.


"Kenapa tadi kalian tidak bisa di hubungi?" tanya Susi.


"Ini kan surprise, kalau bilang dulu namanya bukan surprise dong," ucap Lian.


"Seharusnya kita belum pulang, tapi karena kerjaan sudah selesai terpaksa kita pulang," sahur Tio.


"Jadi kalian pulang karena terpaksa?" tanya Mira, melotot ke arah Lian.


"Tidak sayang, kerjaan kita sudah selesai jadi pulang," jelas Lian.


"Kalau terpaksa aku suruh pergi lagi," ucap Mira, mengerucutkan bibirnya.


Tio menceritakan kalau semua ini rencana Lian, membuat Mira kesal.


"Aku di rumah sangat khawatir kalian malah jalan-jalan ke mall, buang duit lagi," omel Mira.


"Sayang, kita ke mall beli oleh-oleh buat kamu," ucap Lian dengan lembut.


"Kamu juga Tio, tidak bisa hemat," sahut Susi.


"Ayo kita tidur, Susi! percuma kita khawatir mereka malah senang-senang," kata Mira, lalu Mira dan Susi masuk ke dalam kamar untuk istirahat.


"Gara-gara kamu, Tio! aku jadi tidur di luar," ucap Lian, merebahkan tubuhnya di sofa.


"Biar aku ada teman," ucap Tio seenaknya.


Keesokan harinya Mira menyiapkan sarapan untuk Lian dan Tio, karena dia dan Susi akan segera berangkat ke cafe. Susi juga sudah mengemasi barang-barangnya karena sepulang dari cafe dia kembali ke kontrakannya.


Lian terbangun dari tidurnya, melihat istrinya sudah cantik dan rapi dia tiba-tiba menciumnya.

__ADS_1


"Aku masih marah Lian, kamu mandi dulu!" suruh Mira.


"Sayang, udah jangan marah lagi. Nanti kita jalan-jalan, ya?" bujuk Lian, tetapi tidak membuat Mira terpengaruh.


Karena tidak berhasil membujuk istrinya Lian lalu mandi.


"Mira, kamu beneran marah sama Lian?" tanya Susi.


"Tidak, aku cuma kesal saja," jawab Mira.


"Susi, ayo kita jalan-jalan," ajak Tio.


"Aku sama Mira harus ke cafe, Tio," tolak Susi.


"Lian menutup cafe nya selama satu minggu, karena Mira marah dengannya," jelas Tio.


"Apa? tidak, Lian saja gak bilang sama aku," sahut Mira.


"Iya, aku tutup cafe karena mau mengajak kalian jalan-jalan," ucap Lian, yang baru selesai mandi.


Setelah selesai sarapan mereka berangkat ke mall yang ada di kota itu, sesampainya di parkiran Susi tidak mau turun dari mobil. Mira membujuk Susi hingga mau masuk ke dalam mall itu.


"Mir, kita ngapain ke tempat ini?" tanya Susi sambil melihat ke sekeliling toko yang harganya lumayan menguras dompet.


"Gaji ku satu bulan buat di beli baju di sini hanya dapat tiga potong, nasib kalau punya teman orang kaya," ucap Susi dalam hati.


"Tio, kamu dengar sendiri kan?" tanya Lian.


"Aku ngaku kalah," ucapnya menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Kalian berdua kenapa?" tanya Mira, melihat Lian dan Tio secara bergantian.


"Susi, ayo kita ke sana!" ajak Tio, menunjuk salah satu toko boneka.


Susi mengikuti Tio masuk ke dalam boneka itu, Tio menyuruh Susi untuk memilih boneka yang dia suka, tetapi Susi tidak mau dan menolak.


"Tio, dari pada uangnya buat membeli boneka semahal ini mending di tabung. Keperluan kamu masih banyak," ucap Susi dengan bijak.


Lian dan Mira yang mengikuti mereka terdiam mendengar pembicaraan Susi dan Tio.


"Aku hanya ingin membuat kamu bahagia, apa itu salah?" tanya Tio.


"Bukan cara seperti ini membuat aku bahagia, tapi... Susi tidak meneruskan ucapannya.


"Tapi apa?" tanya Tio penasaran.

__ADS_1


"Masa kamu tidak peka, Tio," sahut Mira.


Lian tersenyum melihat temannya itu, kemudian mereka tidak jadi membeli apa-apa di dalam mall. Mira mengajak mereka ke taman kota, di sana banyak penjual makanan dengan harga yang masih merakyat.


"Lian, mereka berdua benar-benar beda dengan wanita yang aku kenal," ucap Tio, berbicara dengan Lian saat Susi dan Mira sedang membeli jajanan.


"Kemarin aku juga sudah bilang, kalau mengajak mereka ke tempat yang murah saja," ucap Lian.


"Tapi aku tidak tega, mereka kok bisa perhitungan seperti itu," kata Tio memandang ke arah Susi.


Lian menjelaskan kepada Tio kenapa Mira dan Susi begitu perhitungan, Mira dan Susi sudah terbiasa hidup susah jadi mereka sangat hemat dan teliti dalam menggunakan uang.


🌾🌾🌾


Mamah Lisa dan papahnya saat ini sedang berkumpul di rumah Aldo, keluarga itu membicarakan permasalahan mereka.


"Mah, sekarang apa mamah mau berubah?" tanya papah Lisa.


"Berubah bagaimana? dari dulu juga begini," ucapnya, dia kesal karena suaminya di nilai lebih membela orang lain.


"Papah hanya ingin mamah jangan ganggu hidup Mira lagi, apa susahnya mah?" tanya papah Lisa.


"Kenapa belain Mira? papah lebih memilih orang lain, Lisa sekarang kamu tau bagaimana papah kamu," ucap Ane.


"Sudah pa, mah jangan berdebat lagi. Lisa hanya ingin keluarga ini utuh," kata Lisa.


"Semua tergantung mamah kamu, kalau dia mau berubah papah gak jadi menceraikan mamah," jelas papah Lisa.


Mamah Lisa masih menyangkal, dia mengelak atas kelakuan yang pernah dia lakukan.


"Mah, tolong jangan keras kepala," ucap Lisa.


"Anak kita sudah dewasa mah, mau sampai kapan mamah seperti ini?" tanya papah Lisa.


"Mamah sudah bilang, kalau mamah tidak pernah mengganggu siapapun," elaknya lagi.


"Kalau mamah mau meminta maaf kepada Mira dengan tulus, kita gak jadi cerai. Papah berangkat ke kantor dulu Lisa!" pamitnya. Meninggalkan rumah Lisa dan segera pergi.


"Apa yang dikatakan papah benar mah," sahut Aldo, memulai buka suara, dari tadi dia hanya diam mendengar perdebatan mertuanya.


"Lisa, kamu juga tau kalau mamah tidak suka dengan Mira. Jangan paksa terus!" kata mamah Lisa.


Lisa dan Aldo lalu memberikan banyak cerita tentang Mira, tetapi mamah Lisa tetap bilang kalau tidak mau meminta maaf.


"Mah, Mira itu tidak pernah berbuat jahat dengan Lisa, tolong mah," ucap Lisa.

__ADS_1


Mamah Lisa marah dengan Aldo dan Lisa, karena mengira mereka lebih membela papah Lisa.


__ADS_2