
"Pagi Lina," sapa Lisa saat melewati meja kerja Lina. Seperti biasa Lisa ketika datang ke kantor Aldo, dia langsung masuk ke ruangannya.
"Pagi juga, bu," sahut Lina sembari tersenyum. Bu, pak Aldo belum datang," Lanjutnya.
"Maksudnya?" tanya Lisa, menghentikan langkahnya dan menghampiri Lina.
"Iya, Pak Aldo belum datang," Lina mengulang perkataannya.
"Lina, suamiku berangkat pagi tadi. Masa belum sampai kantor, kamu tidak salah lihat, kan?" tanya Lisa.
"Tidak bu, kantor juga baru saja buka," jawab Lina.
Lisa mulai berfikir kalau Aldo telah membohonginya, dia lalu menitipkan berkas itu pada Lina. Kemudian dia meninggalkan kantor Aldo.
Tak lama setelah kepergian Lisa, Aldo baru sampai di kantor.
"Pak, tadi ibu Lisa datang," kata Lina. Bu Lisa menitipkan berkas ini," Lanjutnya. Menyerahkan berkas ke Aldo.
Aldo kemudian menerima berkas itu, lalu masuk ke dalam ruangannya.
"Sial, kenapa biasa ketinggalan," gerutu Aldo.
Aldo kemudian menelpon Lisa, tetapi tidak ada jawaban dari Lisa karena Lisa sudah terlanjur kesal. Lisa merasa di bohongi oleh Aldo.
Lina menyerahkan jadwal Aldo untuk hari ini, ternyata sangat padat.
"Lina, kenapa jam istirahat di undur?" tanya Aldo.
"Maaf Pak, kemarin perusahaan x meminta waktu siang hari. Karena pemimpin perusahaan x sendiri yang ingin bertemu bapak," jelas Lina.
"Ya sudah, kembali ke meja kerjamu!" suruh Aldo.
Aldo bingung karena nanti siang dia tidak bisa merawat Sandra, dia harus meeting dengan orang penting. Berkas di meja kerjanya juga sudah sangat menumpuk, dia mulai mengerjakan satu per satu.
***
Saat ini Mira dan Susi sedang berkunjung di sebuah taman milik teman Lian, di sana mereka melihat pemandangan yang sangat indah dan berbagai jenis sayuran hijau.
Teman Lian ingin menjadi pemasok sayur untuk cafe yang Mira kelola. Teman Lian seorang pemasok sayuran yang sudah terkenal, karena langsung petik dari kebun sendiri.
Reza dan Nena adalah teman Lian saat masih sekolah, mereka adalah pasangan suami istri. Kebetulan mereka bertemu saat ada acara di kantor Lian dan membicarakan soal pekerjaan masing-masing.
Kebun itu tempatnya tidak terlalu jauh dari kota, sehingga masih terjangkau.
"Reza, kenalkan ini istri saya dan temanya," ucap Lian, memperkenalkan Mira dan Susi pada Reza.
__ADS_1
Mereka saling berkenalan dan berjabat tanggan, Reza juga memanggil Nena untuk ikut berkenalan.
"Kalian sudah lama membuat kebun sayur ini?" tanya Lian.
"Semenjak kita menikah, Lian. Awalnya aku sendiri bingung mau kerja apa, di kota juga tidak diperbolehkan oleh orang tua," jelas Reza.
"Reza idenya sangat cerdas Lian, dia meminta istrinya yang cantik ini untuk berpanas-panas menanam sayuran," sahut Nena.
"Kenapa kamu mau menikah dengan Reza? kalian dulu seperti tikus dan kucing tidak pernah akur," ucap Lian lagi.
"Nena yang melamar aku," ucap Reza.
"Kalau perjodohan itu tidak ada, mungkin aku sekarang bukan istri kamu," ucap Nena.
Mereka berdua memang dijodohkan oleh nenek Reza dan kakek Nena, dulu waktu masih muda kakek nenek itu berteman dan berencana menjodohkan cucu mereka. Karena mempunyai kebun yang sama-sama luas, syarat dari perjodohan itu tidak ada yang boleh menolak. Reza dan Nena dulu tinggal di kota tetapi setelah menikah mereka harus berkebun karena kebun milik kakek dan nenek mereka tidak ada yang merawat.
Awalnya Reza hanya menjual sayuran itu di pasar tradisional, kadang masih sisa. Sayuran yang layu tidak bisa di jual lagi, sekarang dia mempunyai ide untuk menjadi pemasok sayuran segar di cafe yang berada di kota dan beberapa swalayan. Usaha mereka berhasil, sehingga banyak warga yang ikut kerja dengan Reza.
"Aku bisa kerja di kota jadi pengusaha seperti Lian," ucap Reza.
"Sayang, mereka memang selalu berdebat jangan heran," ucap Lian kepada Mira.
"Pasti seru, ya," kata Mira.
"Justru itu pasangan yang serasi," kata Susi.
"Ayo kita lihat kebun saja, kak Nena!" ucap Mira.
"Panggil Nena saja, Mira. Biar kita cepat akrab," kata Nena.
Nena kemudian mengajak Mira dan Susi untuk berkeliling kebun sayuran miliknya. Dia menunjukkan berbagai jenis sayur.
Kira-kira seperti ini kebun sayur dan hasil panen kebun milik Nena.
"Awalnya aku hanya menanam sayur kangkung saja, yang terbilang cepat panen," ucap Nena.
"Nena, apa kamu menanam sendiri?" tanya Susi.
"Dulu iya, aku hanya jual sayur di pasar desa ini," ucap Nena.
"Seru juga ya, bisa punya kebun sendiri," sahut Mira.
"Kulitku jadi berubah kena panas, dulu aku sangat benci sama Reza karena menyetujui permintaan kakek ku menjadi petani sayur," ucap Nena.
__ADS_1
"Tapi sekarang suka, kan?" tanya Susi.
"Jangan di tanya kalau sekarang, Susi," sahut Mira.
Nena bercerita bagaimana dia berjuang dan cara berkebun yang benar, awalnya mereka berdua terpaksa karena begitu menikah nenek dan kakek mereka pindah ke kota. Sedangkan Reza dan Nena di tinggal begitu saja di kampung. Mau tidak mau mereka berdua harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup mereka.
"Hehehe... aku bahagia walaupun kita hidup di pinggir kota," ucap Nena.
"Di sini tidak terlalu jauh, Nena," kata Mira.
"Beruntung tanah di sini subur, jadi bisa dimanfaatkan," kata Susi.
"Kebun ini apakah masih luas?" tanya Mira.
"Iya, sebelah sana ada yang punya warga," kata Nena.
Reza dan Nena adalah pasangan yang hebat, mereka tidak gengsi untuk berkebun. Semangat mereka sungguh luar biasa jadi wajar saja jika mereka sekarang berhasil dalam mengelola kebun.
Setelah berkeliling kebun mereka berpamitan untuk pulang, mereka juga sudah menyetujui kerjasama.
Di perjalanan pulang Mira dan Susi mengajak Lian untuk langsung ke cafe, tetapi Lian menolak.
"Kalian harus istirahat jangan memaksakan diri," ucap Lian.
"Lian, kita harus semangat," ucap Susi. Awas nanti kalau gajiku tidak cukup untuk biaya pernikahan," Lanjutnya.
"Gajimu sesuai kerja kamu," kata Lian.
"Sayang, jangan pelit," kata Mira.
"Aku ngomong apa adanya kok, sayang," ucap Lian.
"Padahal aku bulan ini banyak tidak masuk," kata Susi.
Lian melajukan mobilnya di sebuah toko buah, dia turun dari mobil dan membeli buah strawberry.
"Pak, kalau mau bisa petik sendiri," ucap penjaga toko.
"Di mana, mbak?" tanya Lian.
"Belakang toko, pak. Disini banyak yang petik sendiri," jelas pelayan itu.
"Lain kali saja, mbak," ucap Lian, lalu membayar buah yang diambilnya kemudian kembali ke dalam mobil.
Lian melajukan kembali kendaraannya, dia langsung melajukan mobilnya ke rumah. Susi merasa kesal dengan Lian karena tidak menurunkannya di cafe.
__ADS_1
Padahal bagi Susi ini masih siang, jika digunakan untuk berkerja terlebih dahulu.