Mira

Mira
Bab 89


__ADS_3

Acara pernikahan Susi dan Tio akan diadakan di rumah Susi dan rumah Tio. Keluarga Tio sudah menyiapkan gedung untuk melangsungkan pernikahan mereka. Pastinya pernikahan itu akan sangat mewah, karena kerabat keluarga Tio sangat banyak.


Susi membantu mamah Tio untuk menyiapkan hidangan makan malam, karena tamu mereka sudah datang. Susi sangat malu karena diperkenalkan sebagai menantunya, ada yang tanya pekerjaan Susi.


Makan malam berjalan dengan lancar, semua tampak bahagia dan bisa menerima Susi apa adanya sebagai saudara mereka. Setelah saudara Tio pulang, Susi meminta Tio untuk mengantarkannya pulang. Awalnya mamah Tio ingin Susi menginap di rumahnya, tetapi dia tidak enak dengan tetangga.


Tio akhirnya mengantarkan Susi pulang ke rumah yang dia beli.


"Tio, kamu yang membeli rumah ini aku yang menempati," ucap Susi.


"Emang kamu mau aku tinggal bareng di sini?" tanya Tio.


"Jangan dulu, Tio. Aku tidak enak dengan tetangga," jawab Susi.


"Kamu serius sekali, aku pulang dulu!" pamit Tio.


"Iya, hati-hati kalau sudah sampai rumah kasih kabar," ucap Susi sembari tersenyum. Tio segera melajukan kendaraannya menuju rumah.


***


Mira dari kemarin pergi ke cafe sendiri, saat ini dia mengira kalau Susi tidak bisa ke cafe lagi jadi dia berangkat bareng dengan Lian.


"Mira, kamu kok ninggalin aku," ucap Susi, setelah sampai di cafe.


"Maaf, aku kira kamu tidak ke cafe lagi," kata Mira, sambil nyengir.


"Kan cuma sehari kemarin aja aku minta libur," ucap Susi.


Mira lalu menjelaskan pada Susi kenapa tadi tidak menunggunya, Susi akhirnya juga bisa mengerti kemudian mereka memulai berkerja seperti biasanya.


Siang hari Lian dan Tio datang ke cafe, mereka akan mengadakan meeting di cafe.


Teman-teman Lian sudah datang, mereka melihat sekeliling cafe.


"Lian, kamu pintar juga bisa mengelola cafe juga," kata teman Lian.


"Istri saya yang mengelola sekarang, aku hanya fokus di perusahaan saja," kata Lian.


"Aku gak nyangka sering makan disini, ternyata kamu pemiliknya," sahut teman satunya.


"Makanan di sini terkenal sangat enak," ucap temannya lagi.


"Kita mulai dulu saja meeting nya," ucap Tio.


Mereka memulai meeting sedangkan ada salah satu teman Lian yang tidak fokus karena lapar, akhirnya mereka beristirahat untuk makan dulu.


Mira sudah menyiapkan meja dan makanan khusus untuk teman Lian.

__ADS_1


"Kita bakalan minta meeting di cafe lagi, Lian," ucap temannya.


"Kalian tidak fokus kalau meeting di sini, besok di kantor saja," kata Lian.


"Di sini enak tempatnya sejuk, makan juga gratis," sahut teman yang lain.


"Lian, bagaimana proyek yang kamu kerjakan dengan Aldo?" tanya salah satu temannya.


"Sudah hampir selesai, aku hanya bantu kekurangan dari Aldo. Jadi tergantung Aldo cepat dan lambatnya proyek itu," jelas Lian.


"Sebenarnya aku ingin mengajak Aldo untuk kerjasama lagi, tetapi proyek kalian saja belum selesai," ucap teman Lian.


"Kita bisa kok ajak dia, nanti aku tanya kesibukan dia apa," kata Lian.


"Ayo kita makan dulu!" ajak Tio.


Setelah selesai makan mereka melanjutkan meeting lagi sampai sore hari, yang mereka bahas sangat banyak. Banyak pekerjaan yang menggantung juga, belum mereka selesaikan.


"Kita tutup meeting hari ini, seminggu ke depan pekerjaan yang menggantung harus segera selesai. Tidak ada alasan lagi," ucap Lian.


"Aku setuju," ucap Mereka dengan serempak.


Mereka kemudian pulang ke rumah masing-masing ada juga yang kembali ke kantor.


"Lian, nanti malam aku jadi ke rumah kamu," kata salah satu temannya.


"Datang saja, nanti kita bicarakan dengan Aldo," ucap Lian.


"Sayang, maaf kamu jadi kerepotan," ucap Lian.


"Tidak kok, justru mereka nanti akan kembali lagi," kata Mira.


"Mereka meminta meeting seminggu sekali di sini, tapi aku tolak," kata Lian.


"Kenapa di tolak, sayang?" tanya Mira dengan lembut.


"Karena kamu nanti kerepotan," alasan Lian.


"Mereka sudah mendapat konsumsi juga Mira, kalau meeting di kantor," sahut Tio.


"Kalau di sini bisa, boleh saja kok," ucap Mira.


"Bukan masalah boleh atau tidak, justru meeting di luar sangat membuang waktu," jelas Tio.


Dia memang sangat disiplin dalam masalah pekerjaan, makannya dia sering menasehati Lian agar tidak membuang waktu.


"Dengerin Tio sayang, ucapan dia kali ini banyak benarnya," ucap Lian.

__ADS_1


"Sebenarnya yang aku sesalkan adalah pekerjaan yang menggantung Lian," ucap Tio.


"Dari awal mengerjakan mereka sangat santai, begitu kita kejar mereka baru terburu-buru," jelas Lian.


"Kita tidak bisa juga memaksa mereka," kata Tio.


"Semoga saja dengan kita kasih waktu satu minggu mereka akan selesaikan," ucap Lian.


Mira dan Susi sudah selesai membereskan cafe, mereka kemudian mengajak Lian dan Tio untuk pulang.


Di perjalanan Mira tiba-tiba mengajak pulang ke rumah Ayahnya, dia ingin tidur di rumah itu. Karena sudah lama tidak berkunjung ke sana Lian menuruti permintaan istrinya.


"Sayang, kita menginap di sana aja," ucap Mira.


"Kamu sudah bawa ganti baju?" tanya Lian.


"Di kamar kita masih banyak baju kok," jawab Mira.


Rumah itu nampak bersih dan masih rapi, perabotan dalam rumah juga masih bagus semua.


"Sayang, kita tidak pernah kesini siapa yang membersihkan rumah ini?" tanya Mira.


"Ada yang membersihkan," jawab Lian.


Sebenarnya Lian menyuruh orang untuk merawat rumah ini agar tetap bersih dan terawat, bagaimanapun dia dulu tinggal lama di rumah ini bersama dengan Ayah Mira.


"Ayo kita ke kamar!" ajak Mira.


"Di sini kita punya kamar sendiri-sendiri, maksudnya kita tidur terpisah gitu?" tanya Lian.


"Tidak, kamu tidur saja di kamar ku," ucap Mira.


"Aku tidak mau, kamar itu kecil," ucap Lian.


Lian lalu mengajak Mira untuk melihat kamar dia yang dulu di tempati, ternyata kamar itu sangat luas.


"Kenapa kamar kita tidak sama," protes Mira. Kenapa aku dulu tidak pernah masuk dan melihat dengan jelas kamar ini," Lanjutnya.


"Karena kamu terlalu sibuk, sayang," ucap Lian.


"Sibuk berdebat dengan kamu," sahut Mira.


Lian teringat dengan temannya tadi kalau akan datang ke rumahnya, dia lalu memberitahu temannya kalau tidak pulang ke rumah.


Aldo pasti juga tidak akan berada di rumah, karena sibuk dengan Sandra yang masih terbaring sakit di rumah sakit.


Lian sudah tau kalau Aldo saat ini sedang sibuk untuk merawat Sandra, tetapi dia diam karena tidak mau terlalu ikut campur urusan Aldo.

__ADS_1


Urusan dia dengan Aldo cukup dalam kerjasama pekerjaan bukan masalah pribadi.


Mira masuk ke dalam kamar Ayahnya, dia sangat merindukan sosok Ayah dan Ibunya. Setiap dia melihat foto yang terpajang di dinding kamar Ayahnya, membuat air matanya menetes. Lian yang melihat istrinya menangis langsung memeluknya.


__ADS_2