
Karena Ayu begitu sangat takut dengan ayah tirinya.
Mau tidak mau dia berkata jujur.
“Du—dua ratus ribu ya sehari.” Ayu terbata-bata saat mengatakan 200rb itu.
Kevin menghela napasnya dengan dalam, menahan emosi yang sudah dia tahan.
“Rena?”
“I—iya Mas.”
“Apa uang yang Mas kasih masih kurang? Selama ini Mas selalu kasih gaji penuh untukmu, dan juga ongkos untuk Ayu dan juga Mira. Apa yang seperti ini kamu sebut adil?”
“....” Rena diam dan tidak berkutik.
Hancur sudah, jika suaminya sudah bersikap seperti itu.
Pastilah Rena akan dimarahi.
“Mas tidak pernah membeda-bedakan Mira dan Ayu, Mas selalu memberikan yang terbaik juga untuk Ayu. Tapi kenapa kamu memperlakukan anakku seperti ini.”
Rena menyadari kesalahannya, matanya sudah berkaca-kaca isak tangis juga sudah terdengar.
Rena sudah tidak bisa mengelak lagi.
“Jika kamu memberikan uang pada Mira untuk ongkos dibawah 50rb. Mana sisanya?”
“Untuk apa Mas?”
“Mau Mas berikan pada Mira, biarbagai mana pun itu adalah Hak Mira. Mana uangnya?”
Rena begitu panik saat suaminya meminta uang Mira.
Padahal uangnya sudah habis ia gunakan untuk shoping dan juga jalan-jalan berdua dengan anakknya.
“Maaf, Mas. Uangnya sudah habis.” Ucap Rena pelan.
“Apa? Kamu bilang apa? Mas enggak denger.”
“U-uangnya udah habis Mas.”
“Habis kamu bilang? Kenapa bisa habis? Itukan uang Mira.”
“Soalnya kebutuhan rumah lagi banyak, makanya uang Mira aku pake dulu.”
“Hoh, kalau begitu bisa Mas liat rinciannya. Kebutuhan apa aja yang banyak pengeluaran?”
Deg
Rena terkejut ketika suaminya meminta bukti.
Gelagat Rena begitu terlihat kikuk, sedangkan dia tidak punya rincian.
Sebenarnya itu hanya alasan saja. Tapi malah berbalik ke arahnya.
“Rena, mana bukti rincian kebutuhan rumah kita.”
“Enggak ada Mas.”
“Oke, besok kita bicarakan masalah ini. Sekaligus motor Mira yang tidak ada.”
Karena sudah tidak mood untuk makan, Kevin bergegas pergi meninggalkan meja makan dan masuk ke kamar.
Tinggalah di meja makan Mira, Rena dan juga Ayu.
“Kamu sengaja ya ngadu ke Ayah kamu!” Rena melotot ke arah Mira, emosinya sudah tidak bisa lagi dibendung.
“Apa ada yang salah kalau aku cerita ke Ayah aku sendiri?”
"Kamu ini emang anak kurang ajar! Mentang-mentang ada Ayah kamu." ujar Rena pelan penuh dengan tekanan.
Kalau saja tidak ada suaminya di rumah ini, pastilah Rena sudah bentak Mira.
“Awas kamu ya, bakalan aku balas perbuatan kamu.” Ancamnya.
“Ayo Yu, ikut Ibu.”
“Ayo.” Ayu menatap sinis ke arah Mira dan berdesis tak suka dengan Mira.
🌷🌷🌷
Tok..tok
“Mira? Boleh Ayah masuk?" ujar Kevin dari luar kamar.
Mendengar ada suara ayahnya, Mira segera bangkit dan membuka pintu kamarnya.
“Iya Yah? Masuk aja."
“Kamu lagi apa?”
“Lagi bikin tugas Yah.”
“Hoh, sebentar lagi kamu mau lulus ya?”
__ADS_1
“Iya.”
“Hmm, ada enggak hadiah yang kamu mau?”
Mira terdiam, sejujurnya dia tidak ingin hadiah apa-apa dari ayahnya.
Yang Mira mau, Mira ingin pergi dari rumah ini dan ikut bersama ayahnya.
Ikut kerja di luar kota.
“Mira mau ikut Ayah. Setelah lulus nanti Mira ingin pergi dari rumah ini dan tinggal berdua sama Ayah, Mira enggak mau tinggal di sini sama Ibu dan Ayu.”
“Kenapa kamu bisa bilang kaya gitu? Apa Ibu dan Ayu memperlakukan kamu buruk.”
“Iya.”
“Sialan si Mira, bisa-bisanya dia ngadu ke Ayahnya. Mentang-mentang ada Ayahnya, seenaknya aja dia bicara.” Gerutu Rena.
Diam-diam dia menguping pembicaraan Mira dan juga suaminya.
Rena mengintip dari luar saat kamar Mira terbuka sedikit.
“Terus gimana dong Bu? Aku enggak mau loh diusir dari rumah ini, apalagi sampai putus kuliah. Nanti siapa dong yang bayar uang kuliah Ayu?”
“Sama, Ibu juga enggak mau diusir dari rumah ini. Apalagi Ibu menikah sama Ayahnya Mira kerena uangnya banyak, udah gitu punya rumah segede ini lagi.”
“Terus rencana selanjutnya apa dong Bu?”
“Ibu juga lagi mikirin nih.”
🌸🌸🌸
Esok paginya Rena menyiapkan segela macam menu makanan sarapan.
Tentu saja ini ia lakukan agar hati suaminya luluh.
“Mas sarapan dulu ya. Udah aku siapkan semuanya.”
“Hmm.” Kevin hanya bergumam saja dan keluar menuju kamar anaknya.
Tok...tok..
“Mira, kamu udah bangun Nak? Ayo kita sarapan dulu.” ujar Kevin.
Ceklek.
Mira langsung keluar dari kamarnya.
"Kita sarapan dulu yuk."
Mira senang jika ayahnya ada di rumah ini, Mira merasa dirinya aman dan terlindungi selama ada ayahnya di sini.
"Anak Ayah manja banget ya." Kevin mencubit hidung mancung Mira.
"Iya dong, akukan anak Ayah. Jadi wajar aja Mira manja sama Ayah."
"Bisa aja kamu, hehe."
Melihat Mira bermanja dengan suaminya, membuat Rena semakin benci dengan Mira.
Rena muak sekali melihat tingkah Mira jika dekat dengan suaminya.
"Idih, lebay banget sih tuh anak." kesal Ayu.
"Biarian aja Yu, mumpung ada Ayahnya dia bisa kaya gitu. Nanti kalau Ayahnya udah balik ke tempat kerja, bakal Mamah kerjaiin tuh si Mira." ujar Rena bisik-bisik.
Ayu hanya menatap sinis ke arah Mira dan mencibik bibirnya.
Mira yang ditatap sini oleh Ayu, langsung melongos begitu saja.
"Sialan! Belagu banget si Mira." desis Ayu.
“Mira sayang, kita sarapan dulu yuk. Ibu udah masakin makanan kesukaan kamu loh.”
Mendengar hal itu Mira hanya diam saja dan tidak menanggapi ucapan ibu tirinya.
Mira segera duduk di meja makan begitu juga dengan ayahnya yang duduk di samping Mira.
Merasa diabaikan Rena sangat geram dengan sikap Mira.
Mentang-mentang ada ayahnya di sini, dia menjadi anak yang menyebelkan.
“Awas aja kamu Mira, kalau Ayah kamu sudah balik ke luar kota. Habis kamu sama aku.” Gerutu Rena.
“Ini Mas sarapanya. Khusus buat kamu.”
“Makasih ya.”
Rena tersenyum puas melihat suaminya yang sangat lahap sekali dengan masakan yang dia buat.
Rena akan melakukan apa pun untuk menarik hati suaminya agar tidak membahas masalah motor yang sudah ia jual.
Hari ini suaminya belum membahas perihal motor Mira.
Rena sedikit lega, bisa saja suaminya lupa.
__ADS_1
Untuk saat ini Rena akan bersikap baik pada Mira.
Setelah selesai makan, Mira membereskan piring bekas dirinya dan juga ayahnya.
Mira berjalan ke arah wastafel untuk mencuci piring.
“Eh, Mir. Kamu mau ngapain?” tanya Rena melihat Mira sudah ingin cuci piring.
“Mau cuci piring.”
“Enggak usah, buat apa kamu cuci piring.”
“Bukanya biasanya seperti ini? Biasanya setiap hari sehabis makan semua piring aku yang cuciin.”
Rena melihat ke arah suaminya yang sudah terlihat heran.
Bisa gawat kalau suaminya tahu anaknya sering disuruh-suruh.
“Aduh, Mira kamu ini ada-ada aja deh. Ibu suruh kamu cuci piring itukan kalau Ibu lagi repot aja.”
“Masa!” Mira menatap datar Ibu tirinya.
Membuat Rena semakin meradang.
Rena mengigit bibir bawahnya.
Sepertinya Mira sengaja melakukan hal ini, agar terlihat bahwa Rena sering menyuruhnya membereskan rumah.
Rena langsung menoleh ke arah anaknya yang masih saja sibuk makan.
Dari bawah Rena menyenggol kaki Ayu.
“Aduh, kenapa sih Mah?”
“Cuci piring sana!” Rena meloto ke arah anaknya.
“Loh kok aku, kan yang biasanya cuci piring Mira Mah. Kenapa jadi aku.”
Rena melotot lagi ke arah anaknya. “Dasar anak oon.” Rena bergumam.
“Yu, emang yang setiap hari cuciin piring siapa?”
“Mira Yah.” Jawab Ayu enteng.
Ayu tidak tahu jika ibunya sedang berada di fase rasa takut.
Kevin melirik istrinya yang saat ini sudah tersenyum kecut.
“Kamu pernah cuci piring?”
“Enggak, buat apa Ayu cuci piring. Kan ada Mira. Kata Mamah kalau aku cuci piring tangan aku bisa rusak.”
Kevin menatap dingin ke arah istrinya.
“Anu Mas, sebenarnya aku cuma minta bantuan aja kok. Kalau Mira lagi enggak sibuk, lagian enggak setiap hari aku nyuruh Mira buat cuci piring.”
“Habis sarapan kamu cuci semua piring ini.” Perintah Kevin.
“I-iya Mas.”
“Mira, duduk dulu sama Ayah. Biar Ibu kamu aja yang cuci piring.”
Selama ada ayah Mira di rumah, semua pekerjaan dilakukan oleh Rena.
Rena merasa lelah dengan pekerjaan ini, kalau tidak ada suaminya.
Maka Miralah yang mengerjakannya.
“Brengsek! Kalau aja enggak ada Mas kevin. Pasti sudah Mira yang ngerjain ini semua.”
Rena terus saja mengerutu meratapi nasibnya.
Rena yang masih sibuk mengepel dapur, tiba-tiba matanya melihat Mira yang ingin mengambil minum.
Rena segera membanting pel-pelan dan melemparnya begitu saja.
“Heh! Anak kurang ajar! Kamu ngomong apa aja sama Ayah kamu?”
Rena menahan tubuh Mira dan mencengram pundak Mira.
"Sakit." lirih Mira.
"Sakit ini belum seberapa Mir, kalau Ayah kamu sudah balik ke tempat kerjanya. Saya akan bikin kamu tersakiti, bahkan lebih dari ini."
"Ngomong apa aja kamu sama Ayah kamu, saya yakin banget! Kamu pasti ngadu macem-macemkan sama Ayah kamu!"
“Ibu ngomong apa sih?”
“Jangan pura-pura bego kamu, kamu sengajakan ngomong yang enggak-enggak sama Ayah kamukan.”
“Ngomong yang enggak-enggak bagai mana maksud Ibu?”
“Itu, kamu bilang yang cuci piring setiap hari itu kamu.”
“Tapi emang benerkan, setiap hari aku yang cuci piring. Dan setiap hari aku yang beres-beres rumah. Bahkan Ayu yang bilang sendiri kalau dia enggak pernah cuci piring, dan Ibu yang melarangnya.”
__ADS_1