
Happy Reading ☕☕☕☕☕
Mira dan Lian saat ini tengah berbahagia, mereka langsung menempati rumah barunya. Perlengkapan sudah di isi dari kemarin sebelum mereka menikah, jadi langsung bisa di tempati.
"Lian, kamar ku sebelah mana?" tanya Mira.
"Kamar kamu? bukannya kalau sudah menikah itu satu kamar!" ucap Lian.
"Iya, maksud aku kamar kita!" ucap Mira.
"Sebelah sana," ucap Lian, menunjukkan salah satu kamar yang lumayan besar.
Mira masuk ke dalam kamar itu, betapa terkejut dia melihat isi kamar.
"Lian!" panggil Mira.
"Ada apa, Mira?" tanya Lian.
"Kamar ini terlalu besar buat kita, seperti di hotel saja!" protes Mira.
"Sudahlah jangan protes terus!" ucap Lian.
"Aku mau mandi! di mana baju ganti ku? katanya sudah kamu siapkan semua?" tanya Mira.
"Buka almari yang besar itu! semua ada di sana!" tunjuk Lian.
Mira berjalan menuju di mana almari itu berada, setelah dia buka betapa terkejut, hanya ada beberapa baju dan modelnya terbuka semua.
"Lian, kenapa bajunya seperti ini?" tanya Mira.
"Aku tidak tau, Mira! tadi orang butik yang mempersiapkan!" ucap Lian, duduk di sofa dan memainkan ponsel genggamnya.
Mira membawa baju itu ke kamar mandi lalu dia membersihkan tubuhnya, setelah selesai dia keluar menggunakan baju yang dia bawa tadi.
"Mira!" teriak Lian.
"Kenapa? jangan teriak!" ucap Mira.
"Kamu sengaja pakai baju seperti itu, untuk memancing ku!" ucap Lian, memalingkan muka.
"Aku tadi sudah bilang! baju yang ada begini semua ini paling tertutup!" ucap Mira, berjalan ke arah Lian, lalu duduk di samping Lian.
Lian lalu menaruh ponsel genggamnya dan menatap wajah Mira, saat dia akan mencium bibir Mira tiba-tiba Mira berdiri.
"Sebentar ada yang tidak beres sepertinya!" ucap Mira, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu kenapa, Mira?" tanya Lian, dia berpikir kalau Mira masih takut untuk dia sentuh.
Mira tidak menjawab pertanyaan Lian, dia membuka pintu kamar mandi lalu keluar dan duduk di atas tempat tidur. Lian berpikir kalau Mira meminta sesuatu yang lebih, lalu dia mendekati Mira.
"Jangan sentuh aku!" ucap Mira.
"Kamu kenapa? aku sekarang suami kamu bukan orang lain!" ucap Lian, dalam hati dia kecewa dengan Mira.
"Lian, aku bisa minta tolong!" ucap Mira.
__ADS_1
"Tolong apa?" tanya Lian, dengan ketus.
"Belikan aku pembalut wanita!" ucap Mira, dia sebenarnya takut bilang pada Lian.
"Tunggu di sini, jangan keluar!" ucap Lian, lalu dia pergi ke sebuah toko terdekat.
Setelah sampai di toko itu Lian terlihat bingung memilih pembalut untuk Mira, akhirnya dia bertanya kepada salah satu penjaga toko itu. Lian kembali ke rumah dengan membawa berbagai merek dan ukuran dengan jumlah yang banyak.
"Mira! ini pesanan kamu!" ucap Lian, sembari memberikan satu kantong plastik besar kepada Mira.
"Kenapa banyak sekali?" tanya Mira.
"Aku tidak tau merk mana yang sering kamu pakai!" ucap Lian.
Mira memilih salah satu dan segera memakainya.
"Lian!" panggil Mira.
Lian sudah tertidur di sofa kamar itu karena kelelahan, Mira tidak tega untuk membangunkan Lian. Akhirnya dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Keesokan harinya saat Mira terbangun dia tidak mendapati Lian di dalam kamar, dia mencari Lian ternyata ada di ruang makan sedang menikmati sarapan pagi degan segelas susu dan roti.
"Lian, maaf aku baru bangun," ucap Mira.
"Duduk! minum susu ini!" ucap Lian, dia sudah membuatkan Mira segelas susu hangat.
"Terimakasih, Lian!" ucap Mira.
Lian dan Mira tengah menikmati sarapan paginya, setelah selesai sarapan Lian berpamitan untuk ke kantor.
Lisa pagi ini sedang berdebat dengan Aldo, karena mamah Lisa yang tidak berhenti mendesak Aldo agar mengadakan pesta ulang.
"Aku sudah pusing, Lisa! dengar mamah kamu!" ucap Aldo.
"Terus, apa yang harus aku lakukan, Do?" tanya Lisa.
"Aku berangkat kerja dulu!" pamit Aldo, tanpa menjawab pertanyaan Lisa.
"Kamu tidak sarapan dulu?" tanya Lisa lagi.
Tidak ada jawaban dari Aldo, Lisa lalu pergi ke rumah mamahnya.
"Mah! mamah!" teriak Lisa.
"Ada apa, Lisa? jangan berisik kenapa?" ucap mamah Lisa.
"Mah! tolong mamah berhenti menekan Aldo untuk mengadakan pesta lagi!" ucap Lisa.
"Tidak bisa begitu! ini harga diri keluarga kita!" mamah Lisa tetap kekeh dengan pendiriannya.
"Lisa juga bisa cepat di ceraikan Aldo!" ucap Lisa.
"Enak saja, main cerai!" kata mamah Lisa.
"Aldo sudah hampir luluh hatinya dengan Lisa, mamah jangan menghancurkan begitu saja!" ucap Lisa, kesal dengan mamahnya.
__ADS_1
"Kalau dia tidak bisa terima kamu, mamah carikan yang lebih kaya!" kata mamah Lisa, hanya harta yang dia pandang selama ini.
Lisa sudah capek menghadapi mamahnya, dia pergi ke rumah nenek Aldo, tetapi nenek sedang berlibur ke rumah saudaranya. Di rumah nenek hanya ada Clara yang sedang menyiram tanaman di depan rumah. Karena ada Lisa, dia berhenti dan duduk di teras rumah sambil berbicara dengan Lisa.
"Ada apa kamu kesini?" tanya mamah Lisa.
"Mah! Lisa ingin berbicara!" ucap Lisa, sedikit ada rasa takut saat berbicara dengan mamah mertuanya.
"Bicaralah, Lisa!" suruh Clara.
"Menurut mamah bagaimana kalau pesta pernikahan Lisa dan Aldo di ulang?" tanya Lisa.
"Kamu benar-benar sudah gila!" ucap Clara, melotot ke arah Lisa.
"Bukan keinginan aku, mah... ucap Lisa lirih, sambil menundukkan kepalanya.
Lisa akhirnya menceritakan semua pada Clara, lalu Clara menyuruh Lisa untuk pulang dan beristirahat di rumah.
Posisi Lisa selalu tertekan oleh mamahnya sendiri, Clara bisa memahami hati Lisa saat ini.
"Seandainya Aldo menikah dengan Mira, semua pasti tidak akan seperti ini!" ucapnya dalam hati.
####
"Mira, bagaimana malam pertama kamu?" tanya Susi.
"Kamu tanya apa, Si?" jawab Mira, dengan malu.
"Masa kamu tidak mau cerita!" ucap Susi.
"Tidak ada yang perlu di ceritakan!" ucap Mira, tersenyum.
"Pasti sukses kan, Mira!" ucap Susi lagi.
"Udah jangan di bahas lagi!" kata Mira.
"Mira, menurut kamu bagaimana Tio?" tanya Susi.
"Tanya saja sama Lian, aku kan tidak kenal!" jawab Mira.
"Dia mau datang ke rumah," ucap Susi.
"Baguslah kalau dia langsung datang ke rumah kamu!" kata Mira.
"Tapi aku takut!" ucap Susi.
"Kamu harus belajar membuka hati kamu, Sus!" ucap Mira. Dia bermaksud untuk menasehati Susi, karena Susi tipe orang yang tidak mudah menerima laki-laki.
Susi menganggap kalau semua laki-laki sama saja. Dia takut mengecewakan juga. Karena berasal dari kampung dan keluarganya terbilang kurang mampu.
Beruntung Susi mempunyai teman yang bisa mengerti dan selalu ada seperti Mira.
...🌹🌹...
Terimakasih semuanya atas dukungannya 🤗 semoga menjadi berkah untuk kita semua 🥰🥰
__ADS_1