
Lisa kaget saat melihat Sandra mencium Aldo, sehingga membuat gelas dan minuman yang dia bawa jatuh ke lantai.
"Lisa, ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Aldo.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan merebut Aldo," kata Sandra.
"Tanpa kalian jelaskan aku sudah paham... " ucap Lisa lirih, lalu meninggalkan Aldo dan Sandra.
"Sandra, kamu cari masalah saja," ucap Aldo.
"Biar kamu cepat cerai sama Lisa," kata Sandra.
"Kamu tunggu di sini dulu!" kata Aldo, lalu pergi menyusul Lisa yang berada di kamarnya.
Lisa menangis melihat perlakuan Sandra pada Aldo, sakit hatinya semakin bertambah. Aldo masuk ke dalam kamar Lisa, dia memeluk Lisa lalu meminta maaf.
"Aku tau, aku salah," ucap Aldo.
"Tidak, aku yang salah karena sudah memaksa nenek untuk menjodohkan kita," ucap Lisa.
"Dari awal aku juga sudah bilang, jangan banyak berharap dari pernikahan kita," jelas Aldo.
"Yang aku harapkan kita bisa hidup bahagia, saling menyayangi bukan ribut terus, Do," ucap Lisa.
"Lisa, awalnya aku juga berharap bisa menerima kamu," kata Aldo.
"Bagaimana kalau kita mulai dari awal, kalau kamu tidak mau kita cerai saja," ucap Lisa.
Aldo masih terdiam, dia tidak menjawab karena kalau bercerai bagaimana nanti neneknya. Disisi lain dia tidak bisa bahagia bila bersama Lisa. Aldo keluar dari kamar Lisa, lalu menemui Sandra.
"Sandra, lebih baik kamu pulang dulu," ucap Aldo.
"Kamu ngusir aku, Do?" tanya Sandra.
"Maaf, tetapi aku sedang ada sedikit masalah dengan istriku," jelas Aldo.
"Oke, aku pulang dulu!" pamit Sandra.
Setelah Sandra pergi Aldo kembali ke kamar Lisa, dia menghibur Lisa.
"Aldo, sekarang keputusan ada di kamu," ucap Lisa.
"Aku mau memperbaiki semuanya," kata Aldo, sembari memeluk tubuh Lisa.
Aldo mengajak Lisa untuk pergi berlibur lagi, dia akan mencoba membuka hatinya untuk Lisa. Lisa juga berharap agar Aldo tidak berubah pikiran.
Mungkin karma buat Lisa, sudah merebut Aldo dengan berbagai cara. Walaupun berhasil memiliki Aldo tetapi tidak dengan hatinya.
***
Hari ini cafe kembali ramai, Mira dan Susi terlihat sangat sibuk, saat jam makan siang Lian dan Tio datang ke cafe.
"Mira, ada Lian di depan," ucap Susi, memberitahukan pada Mira.
"Biar aja, nanti juga kesini," kata Mira, sembari mengaduk masakannya.
"Kurang berapa lagi, Mir?" tanya Susi.
__ADS_1
"Masih kurang sepuluh porsi lagi, Susi," jawab Mira.
"Mbak, pesanan meja nomor tiga siap belum?" tanya seorang karyawan.
"Ini sudah, tolong kamu antar," ucap Susi, yang sedang menyiapkan makanan.
"Kalian tidak istirahat dulu?" tanya Lian, tiba-tiba datang.
"Kita masih masak," jawab Mira.
"Biar di ganti sama yang lain, kalian lebih baik istirahat," ucap Lian.
"Tidak bisa Lian, mereka pesan menu yang baru semua," sahut Susi.
Lian menyarankan agar Mira dan Susi melatih karyawan lain untuk memasak, tetapi buat mereka berdua berdua itu tidak perlu. Bagi Mira dan Susi biar menjadi ciri khas cafe untuk menarik pelanggan.
"Aku tidak mau kalian kecapean," ucap Lian.
"Kita justru senang, bisa berkerja," kata Mira.
"Kalau kalian masih ingin cafe ini buka, harus nurut apa yang aku mau," ucap Lian lagi.
"Baru juga buka dua hari, Lian," kata Susi.
"Lian, kita hanya ingin cafe ini rame," ucap Mira.
"Besok aku tutup," kata Lian, dia tidak mau melihat istrinya kecapean dan turun tangan sendiri, dari awal dia hanya ingin Mira dan Susi untuk mengawasi cafe tetapi mereka berdua malah ikut memasak. Hobi Mira dan Susi adalah memasak, masakan mereka sangat enak.
"Suami sendiri tidak di masakin malah masak buat orang lain," timpal Tio.
"Tio!" bentak Susi.
"Memperkeruh suasana saja," sahut Mira.
"Tinggal satu lagi Mir, kita selesai," kata Susi.
"Ini sudah aku siapin," kata Mira, tangannya sangat lincah dalam menyiapkan makanan.
Lian dan Tio saling berpandangan melihat cara Mira dan Susi berkerja, menurut Tio kerja tim yang bagus. Tio terus meledek Mira dan Susi tetapi mereka berdua tidak terpengaruhi dengan Tio.
"Akhirnya selesai juga," ucap Mira.
"Mir, ini buat meja nomor berapa?" tanya Susi.
"Buat kita berempat, ayo kita makan dulu!" ajak Mira.
Lian dan Tio makan dengan lahap masakan Mira dan Susi.
"Boleh nambah tidak?" tanya Lian.
"Bahan sudah habis," jawab Mira.
"Mira, kita belanja banyak lho," ucap Lian.
"Tapi sudah habis Lian," kata Mira.
"Kalian benar-benar pintar memasak," puji Tio.
__ADS_1
"Sebagai wanita kita harus bisa memasak," sahut Susi.
Lian sebenarnya sangat kagum dengan Mira dan Susi, mereka pekerja keras, tidak mengenal lelah. Tetapi di sisi lain dia juga tidak tega, melihat cara kerja mereka.
"Susi, kapan aku bisa ke rumah kamu lagi?" tanya Tio.
"Tabungan ku belum cukup untuk di bawa pulang, Tio," jawab Susi.
"Padahal aku ingin makan masakan Ibu," ucap Tio.
"Aku juga kangen mereka, Bapak, Ibu dan Leny," sahut Mira.
"Minggu depan kita ke sana," kata Lian.
"Beneran sayang, kita akan ke sana?" tanya Mira.
"Iya, biar kalian sekalian liburan," ucap Lian.
"Aku boleh ikut?" tanya Tio.
"Tidak, kamu harus kerjakan proyek dengan Aldo," ucap Lian, dia berbohong pada Tio.
"Aku tidak mau," tolak Tio.
"Kalau aku pergi, kamu ikut yang kerja siapa?" tanya Lian.
"Proyek di luar kota masih belum selesai, aku mau ke sana besok," ucap Tio.
Mereka kembali berdebat soal proyek yang di kerjakan bareng Aldo, membuat Tio semakin kesal. Setelah terlihat kesal Lian baru bilang kalau dia hanya bercanda, mereka semua tertawa melihat Tio yang kesal.
"Kalian semua sama saja, ya," ucap Tio.
"Siapa tau kalau kamu bisa ketemu Lisa," canda Susi.
"Ke rumah ku aja," sahut Mira.
"Sudah Tio jangan diledekin terus," ucap Lian.
"Lian, ayo kita kembali ke kantor!" ajak Tio.
Lian dan Tio akhirnya kembali ke kantor untuk melanjutkan berkerja, sedangkan Mira dan Susi melanjutkan memasak lagi.
Kali ini pelanggan cafe sangat banyak yang berdatangan, karena di taman ada pertunjukan.
"Susi, buat menu baru bahan sudah habis," ucap Mira.
"Apa kita perlu pesan lagi, Mir?" tanya Susi.
"Jangan! nanti Lian marah," jawab Mira.
"Lebih baik kita bilang habis, mbak," ucap salah satu karyawan.
"Lian kenapa begitu, menyebalkan sekali," ucap Susi.
"Dari dulu juga begini mbak, apalagi kalau ada bapak porsi jual bapak yang menentukan," jelas karyawan itu.
"Maksudnya? gak boleh jual lebih?" tanya Mira ada karyawan tadi.
__ADS_1
Karyawan itu bernama Siska, dia sudah lama berkerja pada Ayah Mira, karena Ayah Mira orang baik jadi dia betah berkerja di tempat itu. Siska menceritakan semua tentang Ayah Mira, membuat Mira kembali meneteskan air mata.
Bersambung......