Mira

Mira
Bab 113


__ADS_3

Lisa merasa iri dengan kebersamaan Mira dan Susi, dia berfikir harusnya dialah yang berada di posisi Susi saat ini. Di balik tirai jendela dia mengintip kedua tetangganya itu, nampak akur dan saling tolong-menolong.


"Kamu lihat apa, Lisa?" tanya Aldo, yang tiba-tiba berada di belakang Lisa.


"Lihatlah! keluarga mereka sangat bahagia sepertinya," ucap Lisa.


"Kamu tidak perlu iri atau merasa ingin seperti mereka, karena kamu tidak akan bisa," kata Aldo.


"Maksud kamu?" tanya Lisa.


"Mira dan Susi itu sangat baik dan ramah ke semua orang, bahkan kamu jahat saja mereka masih baik," jelas Aldo.


Lisa terdiam, karena apa yang di bilang Aldo ada benarnya juga. Saat Mira kehilangan bayinya dia juga tidak pernah menyalahkan Lisa atau Nenek Aldo.


"Menurut kamu aku bukan orang baik," ucap Lisa.


"Ayo sarapan! jangan bahas hal itu lagi," ajak Aldo, kemudian mereka menuju ke ruang makan untuk sarapan pagi.


"Lisa, kenapa sarapan nasi? rotinya mana?" tanya Aldo.


"Habis, aku lupa tidak beli kemarin," jawab Lisa.


"Apa uang bulanan sudah habis?" tanya Aldo.

__ADS_1


"Masih, tapi aku mau minta tambah," ucap Lisa.


"Aku sudah memberikan lebih itu uang, kenapa kamu masih kurang terus? coba lebih hemat lagi," kata Aldo.


Uang jatah bulanan Lisa sangat banyak, Aldo memberinya lima puluh juta per bulan tetapi tidak pernah cukup buat Lisa.


"Uang segitu kamu bilang banyak, Do? coba kamu hitung yang benar," kata Lisa.


"Pagi-pagi tidak usah ngajakin ribut! aku ke kantor dulu!" pamit Aldo, yang mengurungkan niatnya untuk sarapan pagi.


"Aldo!" teriak Lisa.


Aldo tidak menyahuti teriakan Lisa, walaupun dia mendengar. Dia melajukan kendaraannya menuju kantor.


***


Susi memaksa Tio untuk mengantarkan ke cafe, dia ingin kembali berkerja lagi. Di rumah merasa sangat bosan, apalagi tidak ada yang menemani.


"Tio, antar aku ke cafe! aku ingin kerja lagi," ucap Susi.


"Istirahat saja dulu, untuk tiga hari ke depan," kata Tio.


"Aku tidak lelah, aku hanya ingin kerja lagi. Di rumah sendiri sangat membosankan," ucap Susi.

__ADS_1


"Baiklah, kalau itu mau kamu," kata Tio.


Tio mengantar Susi ke cafe terlebih dahulu, dia tidak ingin membuat istrinya merasa jenuh di rumah. Sampai di kantor Tio masuk ke dalam ruang kerja Lian.


"Punya istri di suruh istirahat di rumah saja tidak mau," gerutu Tio, sembari duduk di sofa dalam ruangan Lian.


"Baru juga sehari sudah ngomel terus," sahut Lian.


"Aku ingin Susi tidak berkerja Lian, tetapi kelihatannya tidak bisa. Wanita itu terlalu mandiri dan susah di bilangin," kata Tio.


"Kamu mau punya istri yang manja, nurut sama kamu?" tanya Lian.


"Jangan manja, tapi nurut sama suaminya," kata Tio.


"Hahaha... tidak ada yang seperti itu," kata Lian.


"Kapan kita honeymoon?" tanya Tio. Aku sudah lembur kerja untuk mendapatkan cuti," Lanjutnya.


"Minggu depan kita baru bisa pergi," kata Lian.


Tio sudah tidak sabar untuk mendapatkan cuti, dia ingin segera mengajak Susi untuk honeymoon. Lian dan Mira juga akan ikut.


Lian juga pengertian dengan temanya, karena dulu juga pernah merasakan menjadi pengantin baru.

__ADS_1


__ADS_2