Mira

Mira
Bab 127 Raka & Alya


__ADS_3

Kini kedua bocah itu sudah beranjak dewasa, mereka tidak pernah akur. Saat ini mereka sudah memasuki bangku sekolah menengah atas.


"Alya! buruan kita berangkat, keburu telat!" teriak Raka, yang menunggu Alya saat akan berangkat sekolah.


"Bentar!" sahutnya dari dalam rumah, bergegas lari keluar.


"Alya, sarapan dulu! ini Mamah buatkan sup kesuka... Susi seketika diam, melihat ke arah luar. Ternyata putri semata wayangnya sudah berada di atas motor Raka.


"Sudah biar Papah yang makan," ucap Tio, mengambil semangkok sup yang di bawa oleh Susi dan memakannya.


Di sekolah.


Alya langsung turun begitu saja dari motor Raka, membuat Raka berteriak memanggilnya lagi.


"Alya! tunggu!" teriak Raka.


"Nanti saja, aku belum mengerjakan pr!" teriak Alya.


"Kebiasaan itu anak," omelnya, kemudian berjalan menuju kelas untuk menyusul Alya.


Sampai di kelas Raka berdiri di depan meja Alya, dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Apalagi, Raka?" tanya Alya.

__ADS_1


"Ini dari Mamah," ucap Raka, memberikan satu bok nasi pada Alya.


"Pasti enak ini, masakan tante Mira! tolong sampaikan terimakasih buat tante, Raka," ucap Alya.


"Bilang aja sendiri!" ketus Raka, pergi meninggalkan kelas Alya.


Mira setiap pagi selalu membuatkan bekal untuk Raka dan Alya. Kalau sampai lupa tidak di bawa, dia akan menitipkan pada satpam di sekolahnya.


"Perhatian sekali Raka sama kamu, Al," ucap Melisa, teman satu kelas Alya.


"Mamahnya yang perhatian, kalau Raka galak," kata Alya.


Alya menceritakan kalau tadi pagi Raka sudah kesal karena menunggu lama dirinya, memang salah Alya biasanya jam setengah tujuh mereka sudah berangkat tapi Alya baru bangun tidur.


Di rumah.


"Susi, aku mau ke pasar. Kamu ikut tidak?" tanya Mira.


"Boleh Mira, sebentar aku ambil tas dulu," jawab Susi, kemudian masuk ke dalam rumah untuk mengambil tasnya.


Seperti biasa mereka selalu menawar barang yang dibelinya, karena mereka ibu-ibu yang sangat hemat dan cermat alias pelit.


Mereka berangkat ke pasar dengan jalan kaki, walaupun agak jauh. Kebiasaan mereka dari dulu tidak pernah hilang.

__ADS_1


"Mira, aku ingin berkerja lagi," ucap Susi.


"Kerja dimana? bukannya Tio melarang kamu?" tanya Mira.


"Aku bosen di rumah, nitip Alya lagi boleh?" ucap Susi, balik bertanya.


"Emang dari dulu Alya sama siapa? dia sudah seperti anakku sendiri, sampai Raka cemburu," ucap Mira.


"Ayo kita naik angkot saja! biar cepet!" ajak Susi, mereka kemudian pulang dengan naik angkot.


Di rumah mereka melanjutkan memasak, karena sebentar lagi Raka dan Alya pulang dari sekolah.


***


Di sebuah rumah kecil yang berada di pinggir kota, telah terjadi perdebatan penghuni rumahnya.


"Hidup kita tidak akan seperti ini, kalau kamu tidak bercerai dengan Aldo!" teriak Ane.


"Mah, sabar kenapa? kalau gitu Lisa kerja ke kota saja!" ucap Lisa.


"Nenek sama Mamah jangan bertengkar terus," sahut seorang gadis.


"Diam kamu, anak haram!" bentak Ane pada cucunya.

__ADS_1


Dania menangis mendengar ucapan Neneknya, bukan cuma sekali dia kali gadis itu di katakan anak haram. Dia selalu di salahkan karena di anggap sebagai beban keluarga.


Memang dulu Lisa sempat menikah dengan Fandy yang tak lain ayah Dania, tetapi di tinggalkan karena tidak betah dengan Ane.


__ADS_2