Mira

Mira
Bab 50


__ADS_3

Sore ini Mira sedang menyirami bunga di depan rumahnya, karena belum di perbolehkan untuk ke toko bunga oleh Lian, dia menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah.


Lisa yang melihat Mira di depan rumah langsung menghampirinya.


"Mira, kamu jarang kelihatan di rumah, kamu kemana saja?" tanya Lisa, yang belum mengetahui kalau Ayah Mira telah meninggal.


"Aku dari rumah Ayah," jawab Mira.


"Emang ada apa, Mira? kok lama sekali," ucap Lisa.


"Ayah sudah tiada, Lisa..." ucap Mira lirih.


"Maaf, aku tidak tau, turut berdukacita, ya," ucap Lisa.


"Terimakasih, Lisa, ayo silahkan duduk!" ajak Mira.


Mereka lalu duduk di teras rumah Mira, sambil berbincang-bincang layaknya tetangga yang akur.


"Bagaimana hubungan kamu dengan Aldo?" tanya Mira.


"Aldo masih sama, dingin sikapnya," jawab Lisa.


"Kamu kurang perhatian mungkin," ucap Mira.


"Aku sudah berusaha, Mira! tapi tetap tidak ada perubahan, bahkan Aldo sekarang pulang malam terus!" jelas Lisa.


"Lisa, kamu harus lebih perhatian lagi, jangan suka keluar rumah sendiri, setau ku Aldo tidak suka," kata Mira.


"Kok kamu bisa tau, Mir?" tanya Lisa.


"Kamu lupa, kalau aku mengenal Aldo?" tanya Mira.


Lisa terdiam, lalu berfikir apa yang di katakan Mira banyak benarnya. Selama ini dirinya yang kurang perhatian dengan Aldo.


"Mira, aku pulang dulu!" pamit Lisa.


"Iya, maafkan aku, kalau kata-kata ku tadi ada yang menyinggung," ucap Mira.


Lisa menganggukkan kepalanya lalu dia melangkahkan kaki untuk pulang. Di dalam rumah Lisa mencoba menghubungi Aldo, dia meminta waktu untuk makan malam berdua. Tetapi Aldo mempunyai janji dengan rekan kerjanya, sehingga tidak bisa makan bersama Lisa.


Lisa sangat kesal dengan Aldo, kemudian dia pergi untuk makan malam dengan temanya.


🌹🌹🌹


Di sebuah restoran mewah Aldo makan malam dengan Sandra, bule cantik pilihan neneknya dulu.


"Kalau suami kamu melihat kita bagaimana?" tanya Aldo.


"Tidak masalah! dia pasti juga bersama wanita lain!" ucap Sandra.

__ADS_1


"Kamu gila, Sandra!" ucap Aldo.


"Em.... kalau istri kamu yang melihat?" tanya Sandra.


"Kita ajak makan bareng!" ucap Aldo.


"Hahaha... pasti dia akan marah!" kata Sandra, sembari tertawa.


Aldo terlihat begitu bahagia saat bersama Sandra, selain ramah dia juga baik, tapi sayang agresif.


"Sandra, aku mengerjakan proyek mall bersama Lian, karena perusahaan dia mampu mengerjakan!" ucap Aldo.


"Apa? bodoh kamu! aku berikan kamu proyek besar malah di bagi sama orang!" kata Sandra.


"Karena perusahaan dia lebih mampu untuk proyek sebesar itu," jelas Aldo.


"Terserah kamu, Do! tapi aku tetap maunya desain kamu!" ucap Sandra.


"Tentu saja desain aku!" kata Aldo, sambil tersenyum ke arah Sandra.


Mereka lalu melanjutkan makan malamnya, makanan yang mereka pesan sudah datang. Dari kejauhan Lisa melihat Aldo dan Sandra tetapi dia tidak berani mendekat, Lisa datang ke restoran itu bersama teman-temannya.


"Lisa, kamu melihat apa? serius gitu kelihatannya?" tanya salah satu teman laki-laki yang bernama Niko.


"Tidak... tidak, aku hanya melihat.... ucapannya terpotong, salah satu temannya menyahut.


"Kebiasaan Lisa, Nik, melihat hantu," sahut Meli.


Saat berada di toilet Lisa mencoba menghubungi Aldo, menanyakan keberadaan Aldo. Aldo menjawab kalau sedang makan malam di restoran bersama rekan kerjanya. Tanpa menaruh curiga Lisa percaya saja dengan perkataan Aldo.


"Istri kamu?" tanya Sandra.


"Iya, sudah biarkan! aku juga tidak berbohong kan?" ucap Aldo.


"Aldo, kamu mau tidak menemaniku malam ini?" tanya Sandra.


"Temani, kemana?" tanya Aldo.


"Ayo ikut aku!" ajak Sandra.


Sandra mengajak Aldo untuk ke apartemen miliknya, karena tinggal sendirian jadi bebas melakukan apa saja.


"Aldo, kenapa kamu dulu menolak menikah dengan ku?" tanya Sandra, sambil duduk di sebelah Aldo, tangannya bergelayut manja memeluk Aldo. Tidak ada penolakan dari Aldo, dia justru menikmati belain dan sentuhan Sandra.


"Aku dulu benci sama kamu!" ucap Aldo, dia berkata jujur, tetapi setelah lama tidak bertemu dengan Sandra dia merasa wanita itu bertambah cantik dengan body yang ramping.


"Kelewatan kamu, Do!" kata Sandra, menyenderkan kepalanya di dada bidang Aldo. Sedangkan Aldo mengusap dengan lembut rambut pirang milik Sandra.


Aldo pamit pulang pada Sandra karena sudah larut malam dan dia tidak enak dengan tetangganya kalau terlihat pulang lewat jam kerja.

__ADS_1


***


Di tempat lain Lisa nampak mondar mandir dan merasa gelisah, karena sudah larut malam Aldo belum pulang juga.


"Bagaimana aku mau perhatian! yang di perhatikan saja tidak peduli, bahkan aku selalu di abaikan!" ucap Lisa dalam hati.


Lisa sudah putus asa dengan sikap Aldo, dia lalu masuk ke dalam kamarnya dan bersiap untuk tidur.


Beberapa menit kemudian Aldo sampai juga di rumah, dia melihat ke kamar Lisa terlebih dahulu. Dalam benaknya dia juga merasa kasihan dengan Lisa selalu dia abaikan.


Saat melihat Lisa dia selalu teringat dengan Mira, Aldo sebenarnya belum bisa melupakan Mira dengan Sandra dia hanya menjadikan pelampiasan, agar bisa melupakan Mira.


Dia menganggap Sandra sebagai penghibur di kala sedang suntuk, Sandra sendiri juga tidak pernah mempermasalahkan sikap Aldo. Karena dia juga butuh hiburan dan kesenangan semata.


####


Mira belum bisa tidur dia sangat gelisah, ingatan tentang kedua orang tuanya masih nyata di dalam pikirannya. Hanya foto yang bisa dia peluk saat ini, Lian juga sangat memahami keadaan Mira.


"Sayang, mau sampai kapan kamu seperti ini?" tanya Lian, memeluk tubuh Mira yang duduk di tempat tidur sembari memeluk sebuah foto.


"Aku tidak tau! apa aku bisa menjalani hidup ini tanpa mereka lagi!" ucap Mira.


"Apa kamu tidak ingin kita hidup bahagia?" tanya Lian lagi.


"Bahagia? untuk apa!" jawab Mira, membuat Lian sedikit kesal.


"Sayang, apa kamu tidak mau punya anak?" pertanyaan Lian kali ini menusuk hati Mira.


Dia membayangkan kalau mempunyai anak dirinya tidak akan kesepian lagi, pasti akan lebih fokus mengurus anak-anaknya kelak.


Jika dia terus berada dalam kesedihan kasihan Lian juga, Mira akhirnya tersadar dan membalas pelukan Lian.


"Ayo kita tidur! kalau sudah ada waktu kita berkunjung ke makam Ayah dan Ibu!" kata Lian.


"Maafkan aku, Lian!" ucap Mira.


Keduanya tertidur lelap, sampai menjelang matahari menampakkan wujudnya.


"Sayang! bangun kita kesiangan!" ucap Mira.


"Masih pagi, sayang!" kata Lian, memeluk kembali tubuh Mira.


"Kamu tidak kerja?" tanya Mira.


"Kamu lupa! hari ini minggu?" ucap Lian, mengecup kening Mira.


"Aku ingin memasak!" kata Mira, lalu membuka selimutnya saat akan beranjak dari tempat tidur Lian memeluknya dengan erat.


"Nanti kita makan di luar! lebih baik kita tidur lagi!" ajak Lian.

__ADS_1


Akhirnya kedua sepasang suami istri itu menghabiskan waktu di dalam kamar.


Bersambung.....


__ADS_2