Mira

Mira
Bab 72


__ADS_3

Lian menghubungi Mira lewat telepon genggamnya, dia merindukan istrinya yang begitu dia sayangi. Baru juga beberapa hari di tinggal rasanya sudah seperti satu tahun tidak bertemu.


Dia berpesan kepada istrinya agar tidak pergi kemanapun sendirian, Mira sangat nurut dengan suaminya itu, bahkan dia tidak ingin mengecewakan. Mira juga tidak ikut Susi ke cafe, karena setiap ada kesempatan Lian selalu menghubunginya.


"Mira, aku berangkat ke cafe dulu," pamit Susi.


"Hati-hati Susi, maaf aku belum bisa ikut," ucap Mira dengan wajah sedihnya, sebenarnya dia ingin ikut Susi.


"Udah kamu di rumah saja, dari pada Lian marah," kata Susi.


Susi segera berangkat meninggalkan Mira yang berada di rumah, sementara Mira melanjutkan membersihkan rumah dan taman.


🌾🌾🌾


Mamah Lisa sedang marah-marah karena papah Lisa mengirimkan surat cerai.


"Apa-apaan sudah tua main cerai saja," gerutu mamah Lisa, kemudian menyuruh Lisa untuk segera membujuk papahnya agar membatalkan perceraian itu.


Tak lama kemudian Lisa berpamitan pada Aldo, dia mau pergi ke kantor papahnya yang lumayan dekat dengan kantor Aldo.


"Pa, sebenarnya ada apa? mamah kok marah-marah?" tanya Lisa, saat ini dia berada di ruang kerja papahnya.


"Lisa, mamah kamu sudah keterlaluan," ucap papahnya, lalu menceritakan permasalahan dengan mamahnya.


"Mamah terlalu egois, Lisa juga sangat malu sebenarnya. Apa sebaiknya papah jangan bercerai dengan mamah, Lisa tidak ingin mempunyai keluarga yang berantakan," ucap Lisa.


"Tidak bisa Lisa, papah sudah memutuskan semua. Mamah kamu tidak mau berubah, papah sudah kasih kesempatan bahkan kesabaran," jelas papah Lisa.


"Pa, Lisa mohon," ucap Lisa, sambil bersimpuh di kaki papahnya.


"Tolong kamu juga harus mengerti perasaan papah, sebenarnya papa juga sangat menyayangi kalian," jelasnya. Lisa terus membujuk papahnya agar tidak jadi menceraikan mamahnya.


"Kenapa Lisa seperti ini pa, punya keluarga yang sama-sama egois, tidak mau mengalah," kata Lisa, sambil menangis, papah Lisa memeluk anaknya.


Dalam hatinya dia tidak mau kehilangan keluarga, tetapi istrinya yang tidak bisa di atur membuatnya marah. Yang papah Lisa inginkan istrinya itu mau berubah jadi orang baik, tidak memperlakukan keluarga dengan melakukan tindakan yang mencelakai atau merugikan orang lain. Tetapi bukan Ane namanya kalau tidak berbuat jahat.


"Bagaimana hubungan kamu dengan Aldo?" tanya papahnya.

__ADS_1


"Aldo sudah mulai membuka hati untuk Lisa, dia juga perhatian sekarang," jawab Lisa.


"Papah senang dengarnya, semoga keluarga kalian langgeng. Papah hanya ingin melihat kamu bahagia Lisa," ucapnya lagi.


Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya bahagia, seperti yang dilakukan orang tua Lisa. Tetapi cara yang mereka lakukan salah, dengan cara yang licik. Saat ini papah Lisa sudah sadar, dia ingin menyadarkan istrinya tetapi sulit rasanya untuk membuat baik.


Karena tidak berhasil membujuk papahnya, Lisa berjalan dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya. Dia pergi ke kantor Aldo menemui suaminya, saat ini yang dia butuhkan adalah tempat berkeluh kesah.


"Bu Lisa, tumben datang ke sini?" sapa Lina.


Lisa tidak menjawab pertanyaan Lina dia hanya menganggukkan kepala, lalu masuk ke dalam ruangan Aldo.


"Lisa, kamu kenapa?" tanya Aldo, melihat ada orang membuka pintu ruang kerjanya dan ternyata Lisa yang datang, Aldo lalu berdiri dari duduknya dan memeluk Lisa.


"Papah, Do," ucap Lisa.


"Iya, ada apa dengan papah?" tanya Aldo, mengajak Lisa untuk duduk di sofa.


Lisa lalu menceritakan masalah keluarganya kepada Aldo, dia juga meminta tolong pada Aldo agar papahnya tidak jadi menceraikan mamahnya.


"Sekarang kamu tenang dulu, mereka juga sudah tua tidak seharusnya masalah yang dulu menjadi alasan perceraian," ucap Aldo.


Aldo berencana mempertemukan papah dan mamah Lisa, agar mereka tidak jadi bercerai.


🌾🌾🌾


Di Luar Kota.


Lian dan Tio saat ini sedang berada di pusat perbelanjaan, mereka ingin membeli oleh-oleh untuk di bawa pulang. Ternyata pekerjaan mereka lancar dan bisa selesai dalam waktu tiga hari.


"Kita ke toko itu!" ajak Tio, menunjuk sebuah toko boneka.


"Aku rasa Susi akan bilang, sayang uangnya untuk membeli boneka semahal ini," ucap Lian, menirukan gaya bahasa Susi. Seketika mendapat tinjuan di lengan dari Tio.


"Jangan ngeledek kenapa? Susi dan istrimu itu kan sama-sama pelit," ucap Tio.


"Mereka tidak pelit tetapi menghargai uang, dari pada untuk membeli barang yang tidak bermanfaat mending mereka tabung," jelas Lian.

__ADS_1


"Hehehe... iya juga, terus kita beli apa?" tanya Tio, bingung membelikan oleh-oleh buat Susi.


"Di sini terkenal dengan manisan, kita beli manisan buah saja buat mereka," kata Lian.


"Kenapa kita jadi belanja begini, harusnya kita ajak mereka biar memilih sendiri," gerutu Tio.


Lian hanya tersenyum mendengar ucapan Tio, Mira dan Susi tidak akan tertarik masuk mall sebesar ini. Apalagi jika mereka melihat harga, pasti sudah tidak jadi beli. Soal makan saja Susi masih pakai perhitungan apalagi belanja di mall.


"Yakin mereka mau kamu ajak kesini? pasti mereka akan tertarik dengan pasar depan mall ini," ucap Lian.


"Kamu sok tau, kita belum mencoba," kata Tio.


"Oke, kita buktikan. Nanti pulang dari sini kita ajak mereka ke mall," Lian sudah tau bagaimana Mira dan Susi.


"Wanita itu ketika di ajak belanja tidak akan menolak, justru mereka sangat bahagia. Apalagi kalau di ajak ke salon betah sekali mereka," kata Tio pengalaman bersama Lisa, pasti berbeda jauh dengan Susi.


"Emang kamu sudah pernah ngajak Susi ke mall?" tanya Lian.


"Belum, makanya kita coba," jawab Tio, membuat Lian terkekeh.


Mereka lalu masuk ke sebuah cafe yang berada di mall, Lian mengajak Tio untuk makan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan pulang.


🌾🌾🌾


Malam hari telah tiba Mira dan Susi sudah selesai makan malam, mereka menonton televisi di ruang tengah.


"Kok ponsel Tio tidak bisa di hubungi ya, Mir? coba kamu telepon Lian," ucap Susi masih memainkan telepon genggamnya.


"Tidak bisa juga, aku jadi khawatir," kata Mira dengan wajah cemasnya.


"Duduk kenapa, Mir! jangan mondar-mandir begitu," ucap Susi, Mira kalau sedang gelisah pasti tidak bisa tenang.


"Kamu coba hubungi Tio terus, Sus! perasaan aku gak enak," ucap Mira.


Padahal yang mereka khawatirkan saat ini sedang berada di perjalanan pulang, Lian dan Tio sengaja mematikan ponselnya.


"Mungkin mereka sedang meeting, berfikir positif saja," ucap Susi.

__ADS_1


"Ini sudah malam kantor pasti tutup, tidak mungkin mereka berkerja larut malam begini," ucap Mira.


Mira kemudian duduk di sebelah Susi, dia mencoba membuang pikiran buruknya. Walaupun perasaannya saat ini sedang khawatir.


__ADS_2