
Kali ini Lisa memberanikan diri untuk bertanya kepada Aldo, apakah dia ingin melanjutkan pernikahannya atau tidak. Lisa merasa kesabarannya untuk menghadapi Aldo sudah habis, Aldo kelihatan sama sekali tidak menghargai Lisa. Dia sudah mencoba berubah namun sikap Aldo masih sama, belum bisa memberikan cinta untuk Lisa.
"Aldo, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Lisa, saat berada di ruang makan.
"Iya, bicara apa?" tanya Aldo, kemudian menyesap kopi yang masih sedikit panas.
"Sebenarnya tujuan kita menikah untuk apa?" tanya Lisa.
"Kenapa kamu tanya begitu? kita menikah atas kemauan kamu sama nenek, kan?" ucap Aldo.
Ucapan Aldo ada benarnya juga, tujuan Lisa menikah dengan Aldo karena harta tetapi dia malah jatuh cinta pada Aldo. Tak bisa di pungkiri Aldo memang tampan dan pekerja keras, tapi sayang dia plin-plan kalau soal cinta dan wanita.
"Kenapa diam?" tanya Aldo, Lisa tidak menjawab pertanyaannya sama sekali.
"Aldo, sebenarnya aku cinta sama kamu, sayang sama kamu, tapi kenapa kamu tidak bisa membuka hatimu... " ucap Lisa lirih.
"Aku harus berapa kali bilang sama kamu, aku butuh waktu untuk melupakan masa lalu yang ada dalam diriku," ucapnya, selama ini Aldo masih sulit untuk melupakan Mira.
Mira lagi dan lagi alasan Aldo, entah benar atau tidak. Kenapa dengan Sandra dia bisa meluangkan waktu, bahkan menemani Sandra saat sedang kesepian.
"Kita cerai saja," kata Lisa, berlalu pergi masuk ke dalam kamar.
Aldo tampak cuek dengan Lisa, dia tidak mengejar Lisa tetapi malah berangkat ke kantor. Saat hendak berangkat Aldo melihat Mira sedang merapikan bunga-bunganya di depan rumah. Berdiri mematung melihat Mira tanpa menyapanya, suara dering ponsel miliknya membuyarkan tatapan Aldo.
Mira tidak melihat kalau Aldo sedang memperhatikannya, dia fokus dengan bunga-bunga yang sedang dia rapikan.
"Sayang, ayo kita berangkat sekarang!" ajak Lian, berencana mengajak Mira ke makam Ayah dan Ibunya.
"Ayo, kemana sayang?" tanya Mira, yang memang tidak tau rencana Lian.
"Ke suatu tempat yang akan membuat kamu senang tentunya," jawab Lian.
Mira menyetujui ajakan Lian, mereka segera berangkat. Di perjalanan Mira penasaran mau di ajak kemana, dia bertanya kepada Lian tetapi suaminya tidak mau memberi tahu.
#
#
#
Susi di cafe di temani oleh Tio, dia membantu Susi memotong sayuran dan menyiapkan yang akan di masak.
__ADS_1
"Susi, kapan kita menikah?" tanya Tio, langsung mendapat tatapan dari Susi.
"Pacaran saja tidak, tanya kapan nikah," ucap Susi, mengaduk-aduk masakannya.
Walaupun Tio sebenarnya sangat berharap, tetapi dia tidak berani mengungkapkan pada Susi. Dia masih trauma disakiti oleh wanita, seperti Lisa yang mengkhianati nya.
"Kamu mau jadi pacar aku? aku tanya serius walaupun di waktu yang tidak tepat," ucap Tio, melanjutkan memotong sayuran.
"Bentar gosong nanti masakan aku," jawab Susi, dengan tersenyum.
"Aku tunggu jawaban kamu," kata Tio.
"Jawaban apa ini? kok aku penasaran," sahut Siska, memberikan sayuran untuk di potong.
"Anak kecil jangan ikut- ikutan," ucap Tio, karena memang Siska masih di bawah umur mereka.
Siska berasal dari kampung juga seperti Susi, karena keterbatasan ekonomi makanya dia memilih untuk mencari uang dan tidak melanjutkan pendidikannya.
"Mbak Mira, kok tidak kelihatan?" tanya Siska, yang memang dari pagi tidak melihat Mira.
"Kenapa yang di cari yang tidak ada, aku disini dari tadi, lho," ucap Tio asal.
"Tio, lama-lama aku goreng kamu," ucap Susi, bercanda.
Tio kesal sendiri karena di ledek oleh Susi dan Siska, kemudian dia menyuruh mereka untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sepulang dari cafe Tio mengantarkan Susi pulang ke kontrakan, dia menagih jawaban pada Susi.
Susi sendiri masih bingung mau menjawab apa, dia masih takut kalau Tio hanya bercanda atau mempermainkannya.
Tio tidak menyerah begitu saja kali ini, dia tetap menunggu jawaban Susi saat ini juga, karena dia sudah berencana untuk melamarnya kalau Susi mau menerima cintanya.
"Tio, aku pikir kamu tadi hanya bercanda," ucap Susi.
"Tega kamu, aku serius! bagaimana kamu mau kan, menjadi kekasih sekaligus pendamping hidupku?" tanya Tio, dengan wajah yang serius.
"Tio, aku takut kamu menyakiti aku," ucap Susi, menundukkan kepalanya.
"Percayalah itu tidak akan terjadi, aku akan menjaga kamu," rayu Tio, sembari memegang tangan Susi.
"Aku jawab besok, sekarang sudah malam lebih baik kamu pulang," ucap Susi, dalam hatinya sebenarnya sangat bahagia.
__ADS_1
"Oke, aku tagih besok," kata Tio, kemudian dia pulang ke rumahnya.
Setelah Tio pergi Susi masuk ke dalam kamarnya, dia menghubungi Mira lewat telepon genggamnya. Dia berniat untuk meminta pendapat dengan temannya itu.
🌹🌹🌹
Mira sangat terkejut karena Lian mengajaknya ke pemakaman Ayah dan Ibunya. Dia sangat berterimakasih kepada suaminya, karena bisa mengerti apa yang di butuhkan olehnya.
Mereka berdua lalu mendoakan Ayah dan Ibunya, setelah selesai mereka ke rumah Mira.
"Sayang, terimakasih," ucap Mira, sambil memeluk Lian.
Lian membalas pelukan istrinya, dia juga bahagia melihat Mira senang. Lian mengajak Mira untuk menginap di rumah karena kalau langsung pulang pasti akan kelelahan.
Di saat mereka akan beristirahat tiba-tiba Mira mendapat panggilan dari Susi. Susi bercerita panjang lebar tentang Tio, dia juga meminta pendapat pada Mira. Susi bingung mau menerima Tio atau tidak, dia tidak ingin menyakiti hati Tio, tetapi juga tidak ingin terluka karena cinta.
Mira sendiri tidak tau harus bagaimana memberi pendapat ke Susi, karena soal hati mereka sendiri yang merasakan dan menjalani.
"Sayang, Tio itu orangnya bagaimana? cocok tidak sama Susi?" tanya Mira, kepada Lian yang berbaring di sebelahnya.
"Itu tergantung mereka, sebagai teman kita hanya bisa mendukung mana yang terbaik," ucap Lian, tersenyum ke arah Mira.
Jawaban dari Lian benar, mereka yang nantinya akan menjalani, biar mereka sendiri yang menentukan. Kalau salah satu ada yang terpaksa nanti ujung-ujungnya akan seperti Aldo dan Lisa.
Keesokan harinya Mira dan Lian sudah kembali ke kota lagi, mereka langsung beraktivitas seperti biasanya. Mira dan Lian seperti orang yang tidak pernah punya lelah dalam hal pekerjaan, mereka sangat giat berkerja.
Di cafe Susi menemui Mira, dia juga menagih saran dari Mira, sebelum Tio kembali menemuinya lagi.
"Mira, aku harus bagaimana? terima Tio apa tidak?" tanya Susi, yang sedang kebingungan.
"Kamu suka tidak sama Tio? jawab yang jujur," ucap Mira.
"Aku suka sama Tio, tetapi takut kalau dia menyakiti aku," kata Susi.
"Ikuti kata hatimu saja Susi! itu Tio datang," ucap Mira sambil menunjuk dimana Tio berada.
"Bagaimana dong, Mir?" tanya Susi lagi.
Mira tidak menjawab pertanyaan Susi, dia pergi ke dapur meninggalkan Susi yang masih mematung melihat kedatangan Tio.
Kira-kira cinta Tio di terima tidak ya?🤔🤔🤔
__ADS_1
Bersambung...
...❤❤❤❤❤...