Mira

Mira
Bab 98


__ADS_3

Lian benar-benar kecewa dengan Aldo, karena dia tidak jadi datang ke lokasi mall yang di bangun. Banyak pekerja yang kebingungan, karena Aldo belum juga menjelaskan bagaimana konsepnya.


"Aku datangi lagi saja Aldo, kemarin dia bilang mau datang," ucap Tio.


"Tidak usah, hanya membuang waktu saja," larang Lian.


"Kita sudah jauh-jauh datang, Lian," kata Tio.


"Maaf, aku terlambat. Apa kalian sudah lama menunggu?" tanya Aldo, yang tiba-tiba datang ke lokasi proyek pembangunan mall milik Sandra.


"Hampir saja aku membatalkan," ucap Lian, sedikit kesal dengan Aldo.


"Tadi ada pohon tumbang yang menghalangi jalan, kalau tidak pasti sudah dari tadi aku sampai," jelas Aldo.


"Kita mulai saya!" ajak Tio, yang sudah tidak sabar lagi.


Aldo memulai menjelaskan semua desain dia dengan detail, setelah semua mengerti para pekerja menyiapkan semua alat mereka.


Lian dan Tio segera berkemas untuk kembali ke kantor, karena pihak pekerja Lian sudah ada yang di situ.


"Kita balik kantor dulu," pamit Lian.


"Tunggu!" teriak Aldo.


"Ada apa lagi? kita masih ada meeting di kantor," kata Lian.


"Bagaimana keadaan Mira?" tanya Aldo.

__ADS_1


Lian heran kenapa Aldo menanyakan soal Mira, dia menjadi curiga dengan Aldo. "Kamu tau kalau Mira sakit?" tanyanya.


Dengan rasa takut Aldo menceritakan kejadian kemarin, Lian tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Aldo. Hampir saja Aldo terkena tonjokan dari Lian, untung saja Tio menahannya.


"Maafkan aku Lian, semua salah ku," ucap Aldo.


"Gara-gara kamu! aku kehilangan calon buah hati ku!" bentak Lian.


"Aku tidak tau kalau Mira sedang hamil," jelas Aldo.


"Alasan tidak masuk akal!" ucap Lian.


"Ayo kita pulang!" ajak Tio.


Tidak sampai di situ saja, Lian sudah sangat emosi dengan Aldo. Dia menarik kerjasama dengan Aldo, sudah tidak peduli berapa kerugian yang dia tanggung.


"Jangan lakukan semua itu Lian, aku mohon," ucap Aldo.


"Tidak bisa! aku kecewa!" kata Lian, lalu pergi meninggalkan Aldo yang masih mematung.


Aldo sekarang bertambah pusing, dia harus segera menyelesaikan proyek ini sendiri.


"Lian, bagaimana dengan kerugian perusahaan kita?" tanya Tio.


"Aku tidak peduli, nanti kamu urus dengan pihak keuangan," jawab Lian.


Lian memacu kendaraannya dengan kencang, menuju ke cafe untuk bertemu dengan Mira.

__ADS_1


"Lian, kenapa kita ke cafe?" tanya Tio.


Lian sudah tidak menjawab pertanyaan dari Tio, dia langsung turun dari mobilnya dan mencari Mira.


"Mira!" teriak Lian.


"Ada apa sayang, kok datang - datang teriak gitu?" ucap Mira dengan lembut.


"Ayo kita pulang!" ajak Lian, menyeret tangan Mira.


"Lian, pelan-pelan. Aku bisa jalan sendiri," kata Mira.


Susi dan yang lain tidak berani berkata-kata, karena mereka sudah takut melihat raut wajah Lian yang memerah.


Tio ditinggalkan begitu saja oleh Lian di cafe, dengan langkah yang berat Tio masuk ke dalam cafe.


"Apa yang terjadi, Tio?" tanya Susi.


"Entah, aku tidak tau," jawab Tio, tidak mau ikut campur urusan rumah tangga temannya.


Mira dan Lian sudah sampai di rumah, mereka bertengkar karena masalah Aldo. Mira masih menutupi semua dan tidak mau jujur.


"Aku suami kamu bukan? kenapa tidak mengatakan dengan jujur apa yang terjadi!" bentak Lian.


"Lian, aku menunggu waktu yang tepat. Aku takut... " ucap Mira lirih.


"Yang kehilangan anak bukan cuma kamu!" ucap Lian dengan keras.

__ADS_1


Mira hanya bisa menangis dan menangis, kalau Lian sudah marah. Sebaiknya Mira dari awal jujur dengan suaminya, untuk menghindari hal ini.


__ADS_2