
Happy Reading ❤❤❤
Susi dan Tio datang ke rumah Mira dan Lian, mereka meminta izin untuk libur kerja selama tiga hari.
Mereka akan pergi ke kampung Susi, untuk menemui keluarga Susi. Mira ingin ikut tetapi Lian melarang karena tidak enak dengan Tio.
"Mira, kita bisa lain kali ketempat Susi, sekalian liburan," ucap Lian.
"Tapi, aku ingin ke tempat Susi lagi!" kata Mira, mengerucutkan bibirnya karena suaminya melarang.
"Tidak apa-apa, Lian! lagian aku ke tempat Susi juga main!" sahut Tio.
"Sekalian kamu ikut juga boleh, Lian!" kata Susi.
"Kerjaan aku banyak!" ucap Lian singkat.
"Kalian besok kalau berangkat hati-hati, ya!" ucap Mira, dengan berat hati, sebenarnya dia ingin ikut ke tempat Susi.
Susi dan Tio pamit pulang, karena mereka juga harus ke toko oleh-oleh.
Lian masuk ke ruang kerjanya, sedangkan Mira ke kamar. Di dalam kamar dia menutupi tubuhnya dengan selimut, tetapi tetap saja tidak bisa tidur.
Tok... tok.. tok..
Mira mengetuk pintu ruang kerja Lian.
"Masuk, tidak di kunci pintunya!" sahut Lian, dari dalam.
"Lian, kamu sekarang pelit!" ucap Mira, duduk di depan Lian.
"Sayang, kamu harus kasih kesempatan buat Susi dan Tio, jangan seperti anak kecil!" ucap Lian, sembari mengacak rambut Mira.
"Oh... iya! aku tidak kepikiran sampai sana!" ucap Mira.
"Sekarang kamu juga sudah menjadi seorang istri, tidak bebas lagi!" ucap Lian, sambil tersenyum ke arah Mira.
"Iya, aku sudah paham posisiku sekarang!" ucap Mira.
Lian mencium kening Mira dengan lembut, membuat Mira merasakan benar-benar ada yang menyayanginya.
"Kapan kita bisa menikmati waktu berdua, sayang?" tanya Lian.
"Sekarang kita sudah berdua.. ucap Mira lirih.
"Maksud ku.... belum sempat selesai bicara ucapan Lian di sahut Mira.
"Tunggu seminggu lagi," ucap Mira.
"Sayang, mau bulan madu kemana?" tanya Lian, menatap tajam Mira.
"Di rumah saja! aku takut tidak bisa jalan!" ucap Mira polos.
Lian tertawa mendengar jawaban Mira, dia lalu mengajak Mira untuk pergi belanja bahan makanan di swalayan.
"Lian, kamu mau dimasakin apa?" tanya Mira, memilih sayuran di depannya.
__ADS_1
"Itu saja!" ucap Lian menunjuk sayur bayam yang di pegang Mira.
"Ini mau tidak? tanya Mira, menunjukkan satu buah labu siam.
"Aku tidak suka! tidak hijau warnanya!" ucap Lian, dia kalau memilih sayuran harus warna hijau.
"Ayo, kita ke sebelah sana!" tunjuk Mira, menunjuk rak buah-buahan.
"Kalau ini aku suka semua," ucapnya mengambil beberapa jenis buah.
"Lian, aku jadi ingat waktu kamu makan buah nanas!" ucap Mira, sambil tersenyum.
"Sudah! jangan Ingat- ingat lagi!" kata Lian, melirik ke arah Mira.
"Kenapa? lucu lho!" ucap Mira, meledek Lian.
Lian gemas dengan Mira yang meledek nya lalu mencubit pinggang Mira.
"Lian!" teriak Mira, orang yang ada di dekat mereka melihatnya, sehingga menjadi pusat perhatian.
"Jangan teriak-teriak! tuh pada di lihatin, kamu tidak malu!" bisik Lian.
"Kamu yang mulai!" ucap Mira.
Mereka lalu meneruskan belanja mereka, hingga keranjang yang mereka bawa penuh. Setelah itu Lian mengantri di kasih sedang Mira menunggu di tempat tunggu yang ada di swalayan itu.
Saat Mira menunggu Lian, tiba-tiba Clara datang menghampiri Mira, lalu memeluk tubuh Mira.
"Mira, kamu apa kabar?" ucap Clara.
"Baik tante! tante apa kabar juga?" tanya Mira, tersenyum ke arah Clara.
"Ada Lian, tante! dia sedang antri di kasir!" jawab Mira, sembari menunjukkan keberadaan suaminya.
"Oh... tante kira sendiri! Mira, tante mau minta maaf tidak bisa hadir di pesta pernikahan kamu!" ucap Clara.
"Tidak apa-apa, tante! yang penting doanya!" kata Mira.
"Mira, seandainya kamu yang menjadi menantu ku.. ucap Clara lirih.
"Sudah tante! sekarang Aldo sudah punya bahagia sendiri begitu juga dengan aku," jelas Mira, sudah tidak mau membahas dirinya dengan Aldo.
"Aldo tidak bahagia dengan Lisa, dia masih sangat mencintaimu!" jelas Clara.
"Tante! aku pamit pulang dulu, ya!" pamit Mira, dia melihat Lian sudah selesai membayar belanjaannya.
"Hati-hati, Mira! maafkan tante!" ucap Clara.
Mira lalu menghampiri suaminya, dan membantu membawa belanjaannya ke dalam mobil. Saat di jalan Lian hanya diam, akhirnya Mira yang membuka suara.
"Lian, kenapa kamu diam saja?" tanya Mira.
"Kamu selalu bertemu dengan mamahnya Aldo kan?" tanya Lian, tiba-tiba.
"Tadi kebetulan, mungkin dia sedang belanja juga," kata Mira.
__ADS_1
Lian diam dan fokus pada kendaraannya, sampai di rumah dia membantu Mira menurunkan belanjaan dan menata di kulkas, lalu Mira lanjut memasak sedang Lian kembali ke ruang kerja.
Mira datang ke ruang kerja Lian, sambil membawa secangkir kopi.
"Minum dulu nanti keburu dingin!" ucap Mira, meletakkan kopi itu di meja.
"Terimakasih, sayang!" ucap Lian, tersenyum ke arah Mira.
"Aku lanjut masak dulu, ya?" ucap Mira, membalas senyuman Lian.
Lian menatap istrinya itu, lalu dia melanjutkan pekerjaannya.
####
Hari ini kebetulan Aldo tidak ke kantor, dia ada di apartemen bersama Lisa.
"Lisa, rencana aku mau beli rumah!" ucap Aldo.
"Di mana, Do?" tanya Lisa.
"Kamu maunya dimana?" tanya Aldo.
"Yang dekat dengan kantor kamu saja," jawab Lisa.
"Ada sih, perumahan baru dan rumahnya lumayan besar!" ucap Aldo.
"Tidak masalah, aku akan belajar urus rumah sendiri!" ucap Lisa, begitu yakin dia mampu.
"Ini brosur nya, coba kamu yang pilih!" kata Aldo, menunjukkan beberapa gambar rumah.
"Yang model ini!" tunjuk Lisa.
"Ayo kita lihat sekarang, Do! aku sudah tidak sabar!" ucap Lisa.
"Aku belum menghubungi pihak marketing!" jelas Aldo.
Lisa lalu menyiapkan makan mereka di meja makan, semakin tambah hari semakin enak masakan Lisa.
Tetapi Aldo tidak pernah memuji istri kontraknya itu.
Setelah selesai makan Aldo segera menghubungi pihak marketing rumah tersebut, orang itu meminta Aldo untuk melihat lokasi dan rumahnya. Aldo mengajak Lisa untuk melihat rumah itu, Lisa sangat bahagia karena rumah itu sangat besar dan tertata rapi.
Ada yang dikhawatirkan Lisa saat ini, yaitu Aldo menceraikannya. "Kenapa aku senang sekali Aldo membeli rumah, bukannya aku akan di ceraikan! aku terlalu percaya diri!" ucap Lisa dalam hati.
"Lisa!" panggil Aldo, mengagetkan Lisa dari lamunannya.
"Iya, Do! kenapa?" tanya Lisa.
"Bagaimana kamu suka tidak?" tanya Aldo.
"Aku ikut saja, lagian kita juga akan cerai!" ucap Lisa, membuat Aldo terdiam.
"Lisa, kita jalani dulu pernikahan ini! jangan khawatir aku tidak akan merusak atau menyentuhmu!" ucap Aldo.
Lisa menatap Aldo dengan tajam, tak terasa air mata mengalir begitu saja di kedua pipinya.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca dan mendukung 🥰🥰🤗🤗
Baca juga karya saya yang berjudul "Sahabat" ❤❤