
Di rumah nenek Aldo.
Nenek menyuruh Clara untuk pergi ke rumah sakit menjenguk Lisa, tetapi Clara menolak. Dia beralasan akan pergi arisan dengan teman sosialita nya.
"Clara, menantu kamu baru di rumah sakit, lebih baik kamu jenguk dulu," ucap nenek.
"Aku harus pergi arisan, mam," tolak Clara, dia tidak mau pergi ke rumah sakit. Apalagi berhubungan dengan Lisa, yang dia tau Lisa hanya pura-pura.
Clara pergi meninggalkan rumah maminya, dia arisan bersama teman-teman sosialita nya di sebuah restoran mewah.
"Jeng, kabarnya menantu kamu sakit?" tanya salah satu teman arisan.
"Apa? aku malah tidak mendengar kabar, kira-kira di rawat di rumah sakit mana?" ucap Clara, pura-pura kaget. Dia heran kenapa teman arisan sudah tau kabar kalau Lisa sedang sakit.
"Bentar ya, saya tanya jeng Ane dulu. Tadi pagi dia kasih kabar kalau tidak bisa hadir untuk arisan," jelas temannya.
"Kebiasaan sekali itu Ane, mungkin mau mangkir arisan lagi," ucap salah satu temannya. Dulu pernah aku bayarin belum di ganti," Lanjutnya.
"Sekarang jeng Clara aja yang bayarin! mungkin di ganti kalau di bayar sama besannya," kata teman lainnya.
"Udah tidak usah ribut! kalau saya gak berangkat biasanya juga transfer, gak ada acara bayar membayar," sahut Clara.
Ibu-ibu arisan pada ribut masalah ketidak hadiran Ane, ternyata sudah beberapa kali dia minta dibayarkan oleh teman lainnya, tetapi dia belum mengganti uang tersebut.
Sepulang dari arisan Clara menggerutu sepanjang jalan, dia menuju ke rumah sakit tempat di mana Lisa di rawat.
"Aldo, mana Lisa?" tanya Clara, saat melihat Aldo sedang duduk di ruang tunggu.
"Mah, ayo Aldo antar ke ruangan Lisa!" ajak Aldo, di dalam ruangan itu ada mamah Lisa yang menunggu Lisa.
"Lisa, bagaimana keadaan kamu?" tanya Clara, pura-pura perhatian dengan menantunya.
"Sudah baikan, mamah kok tau Lisa ada disini?" tanya Lisa.
Clara lalu menceritakan pada Lisa, kalau nenek yang memberi tahu.
"Jeng, bagaimana arisan tadi, saya nungguin Lisa jadi tidak bisa datang," ucap Ane.
"Bikin malu saya saja kamu jeng, punya kekurangan tapi tidak di bayar," ketus Clara, merasa kesal dengan besannya itu.
"Mah, jangan bahas hutang kenapa," sahut Aldo, bermaksud menegur mamahnya karena bukan di tempat yang pas untuk membicarakan hal seperti itu.
Clara lalu diam karena di tegur Aldo, sedangkan Lisa merasa malu karena mamahnya. Clara akhirnya berpamitan untuk pulang.
__ADS_1
Karena keadaan Lisa sudah semakin membaik, maka diperbolehkan pulang oleh dokter. Lisa tidak mau pulang dengan Aldo.
"Sebentar aku urus administrasi dulu," ucap Aldo, berlalu pergi dari ruangan di mana Lisa dirawat.
Setelah Aldo pergi Lisa berkata kepada mamahnya, kalau dia tidak mau pulang ke rumah Aldo. "Mah, aku tidak mau pulang ke rumah dengan Aldo, bolehkan Lisa pulang ikut mamah?"
"Lisa, kamu jangan bodoh! kalau kamu tidak pulang dengan Aldo mau tinggal dimana? papah kamu sudah pergi meninggalkan mamah tidak ada yang mencari nafkah buat kita!" bentak mamah Lisa.
"Tapi, mah....
"Tidak ada tapi-tapian! jangan bikin orang tua susah!" jelas mamah Lisa.
Lisa hanya pasrah mengikuti apa kata mamahnya, kalau sampai Clara tau masalah ini dia akan bertambah malu. Mamahnya yang egois bahkan tidak tau diri sama sekali.
Setelah menyelesaikan administrasi Aldo mengajak Lisa untuk pulang, mamah Lisa tidak ikut ke rumah Lisa karena ada keperluan. Setelah sampai di rumah Aldo memberikan berbagai pertanyaan kepada Lisa.
"Kamu dari mana saja? kenapa bisa Tio menemukan kamu pingsan di jalan?" tanya Aldo, yang sebenarnya dia kesal juga Lisa pergi tanpa pamit terlebih dahulu.
"Maafkan aku, Do. Aku gak tau mau kemana, aku hanya asal jalan akhirnya kelelahan," jelas Lisa, merasa bersalah dengan Aldo.
"Iya sudah, lebih baik kamu istirahat!" ucap Aldo, berlalu pergi ke ruang kerjanya.
Aldo tak habis pikir dengan istrinya, kenapa tiba-tiba pergi. Dia juga merasa bersalah karena belum bisa membuka hati buat Lisa, bagi dia masih berat untuk melupakan Mira. Alasan Aldo selalu Mira dan Mira, padahal Mira sudah bahagia dengan hidupnya sendiri.
Tio kembali menemui Susi untuk menagih jawaban Susi, tetapi Susi pura-pura tidak paham dengan kedatangan Tio.
"Tio, silahkan duduk!" ucap Susi, jantungnya berdetak karena takut Tio menagih jawaban darinya.
"Kamu hari ini sibuk tidak?" tanya Tio, bermaksud mengajak Susi untuk ke luar.
"Ini di cafe Tio, aku masih kerja," jawab Susi.
"Aku kira kita lagi berdua," ucap Tio bercanda, membuat Susi tersenyum.
Karena Tio datang bersama Lian, dia berlalu pergi dari tempat Susi berada dan mengikuti Lian duduk di kursi depan.
"Dasar aneh," gerutu Susi, setelah Tio pergi.
"Kamu kenapa, Sus?" tanya Mira, yang tiba-tiba berada di dekat Susi.
"Tidak ada apa-apa kok," ucap Susi, sambil meneruskan pekerjaannya.
"Pasti Tio, kan?" tebak Mira.
__ADS_1
"Iya, tadi dari sini dia. Untung saja dia tidak tanya soal kemarin, apa dia hanya bercanda, ya?" ucap Susi, tidak yakin dengan ucapan Tio.
"Aku rasa tidak, dia pasti akan bertanya lagi kalau benar-benar serius dengan kamu," kata Mira.
"Kalian ngomongin aku?" tanya Tio, membuat Mira dan Susi kaget.
"Tidak, jangan merasa diomongin," jawab Susi, melirik ke arah Mira.
"Aku dengar semua," ucap Tio.
"Aku tidak ikut-ikut, ya," ucap Mira, hendak memberikan minuman untuk Lian, tetapi Tio merebutnya dan langsung dia minum.
"Tio, itu minuman buat Lian," ucap Mira, sambil mengerucutkan bibirnya.
"Jangan pelit-pelit, Mira. Susi tidak membuatkan untukku," kata Tio.
Tingkah Tio hari ini benar-benar sangat menyebalkan, dia seperti anak kecil yang suka usil mengganggu temannya. Kalau tidak ada Tio mungkin keadaan akan tegang karena tidak ada kelucuan diantara mereka.
Pekerjaan mereka telah selesai, Tio mengajak Susi untuk pulang bareng, tetapi saat di jalan Tio melajukan kendaraannya menuju ke suatu tempat yang penuh gemerlap lampu malam.
Di sebuah pasar malam Tio mengajak Susi untuk berjalan-jalan.
"Ayo kita turun!" ajak Tio.
"Tio, kenapa kamu ajak aku kesini? Mira kenapa juga tidak di ajak?" tanya Susi.
"Mereka kalau di ajak hanya akan menggangu kita berdua," jawab Tio.
Susi mengikuti Tio berjalan menyusuri pasar malam itu, dia sangat senang karena sudah lama tidak pergi ke pasar malam.
"Sebenarnya aku mau menagih jawaban kamu," ucap Tio, membuat Susi tersedak makanan ringan yang sedang dia makan, lalu Tio memberikan minuman untuk Susi. "Pelan-pelan kalau makan!" Lanjutnya.
"Aku...
"Kamu pasti mau, kan?" sahut Tio, tidak sabar mendengar jawaban dari Susi.
"Tio, aku masih berfikir," ucap Susi.
Tio langsung terdiam mendengar jawaban Susi, dia merasa selama ini kurang beruntung dalam hal percintaan.
Perlu usaha keras Tio untuk mendapatkan hati Susi😂😂
Bersambung....
__ADS_1