Mira

Mira
BAB 51


__ADS_3

Sandra saat ini mengunjungi rumah nenek Aldo, dia membawakan banyak oleh-oleh buat nenek dan mamah Aldo.


"Sandra, kapan kamu pulang?" tanya nenek.


"Sudah lama nek, Sandra sekarang tinggal di apartemen," ucap Sandra.


"Tinggal sendiri?" tanya nenek lagi.


"Iya, ini ada oleh-oleh buat nenek dan tante Clara," sembari memberikan oleh-oleh itu kepada nenek.


"Wah, banyak banget! terimakasih Sandra," ucap nenek.


"Tante Clara kemana, nek? kok tidak kelihatan," tanya Sandra.


"Clara tinggal di kota X bersama suaminya, tiap hari juga datang kesini," jelas nenek.


Karena lama tidak bertemu mereka saling bertukar cerita. Sandra juga menceritakan tentang proyek yang sudah diberikan kepada Aldo.


Tak lama kemudian Lisa datang ke rumah nenek, dia terkejut dengan adanya Sandra di tempat nenek.


"Itu kan wanita yang bersama Aldo tadi malam, ngapain dia kesini?" dalam hati Lisa bertanya-tanya.


Lisa lalu duduk bersama nenek dan Sandra, nenek memperkenalkan Lisa dengan Sandra. Sandra tersenyum melihat Lisa.


"Akhirnya aku bisa bertemu dengan istri Aldo," ucap Sandra.


"Senang berkenalan dengan mu, Sandra," kata Lisa, sebenarnya dia sangat kagum dengan Sandra, cantik, bodynya bagus.


"Lisa, dulu Sandra pernah nenek jodohkan sama Aldo," ucap Nenek.


"Pasti serasi ya, nek? jika Aldo mau menerima ku," sahut Sandra sembari tersenyum ke arah Lisa.


"Iya, kamu semakin saja," puji nenek.


Lisa hanya bisa terdiam mendengar percakapan Sandra dan nenek, belum lagi kalau ada Clara bisa semakin sakit hatinya.


"Aldo kenapa menolak, nek?" tanya Lisa, penasaran dengan cerita Sandra dan Aldo.


"Dia tidak suka dengan ku dulu, karena aku terlalu bar-bar," ucap Sandra.


"Yang dia sukai hanya Mira, saat ini juga masih mencintai Mira," kata Lisa.

__ADS_1


"Jangan sebut nama wanita miskin itu lagi, Lisa!" ujar nenek, membuat Sandra dan Lisa langsung diam.


Aldo memang lebih suka dengan wanita yang kalem seperti Mira, tetapi apa daya kalau tidak berjodoh. Sandra saat ini yang hanya menjadi pelampiasan buat Aldo, sedangkan Lisa istri yang tidak pernah dia anggap.


"Nenek, aku pamit pulang dulu," pamit Lisa, dia merasa hanya di banding-bandingkan dengan Sandra.


"Lebih baik nanti saja, kita makan siang dulu, Lisa," ucap Nenek.


"Kenapa buru-buru, kita baru kenal?" tanya Sandra.


"Baiklah kalau begitu, nek," ucap Lisa, lalu duduk kembali.


Sandra diam-diam mengirim sebuah pesan ke Aldo, dia bilang kalau berada di rumah nenek dan bertemu dengan istrinya. Aldo yang mendapat pesan itu masa bodoh dengan Lisa, mau tau atau tidak dengan kedekatannya dengan Sandra. Karena hubungan Aldo dan Sandra saat ini sudah tidak wajar lagi.


Kehidupan Aldo setelah menikah bukan kebahagiaan yang dia dapat, tetapi masalah yang silih berganti karena istrinya. Seandainya Aldo bisa menerima Lisa pasti mereka bisa bahagia, tetapi karena cinta tumbuh dengan sendirinya tidak bisa dipaksakan. Aldo belum bisa membuka hatinya untuk Lisa, nama Mira masih tersimpan di dalam relung hati yang paling dalam.


###


Lian meminta Mira untuk menutup toko bunganya, karena akan memberikan cafe yang berada di taman.


Taman bunga dan cafe milik Ayah Mira harus dia kelola tetapi keterbatasan waktu yang tidak dia miliki. Dia berencana menyerahkan kepada Mira dan di bantu oleh Susi.


Awalnya Mira menolak menutup toko miliknya, setelah Lian memberikan pengertian dia mau menuruti apa kata Suaminya. Saat dia mengelola cafe dan taman banyak yang akan membantunya.


"Kamu tidak perlu khawatir, banyak yang membantu nanti," jelas Lian.


"Tetapi apa tidak disayangkan toko bunga di tutup?" tanya Mira.


"Aku tidak mau kamu terlalu capek berkerja, Mira," ucap Lian lagi.


Mira sangat beruntung memiliki suami seperti Lian, rajin berkerja dan bertanggung jawab. Dia juga sangat sayang kepada Mira, apa keinginan Mira berusaha dia penuhi.


Lian dan Mira segera memberitahukan hal ini kepada Susi dan Tio, karena saat ini Susi sedang bersama Tio.


Mereka saat ini sedang membicarakan penutupan toko di cafe yang berada di taman. Lian juga memperkenalkan karyawan yang akan membantu Mira nanti. Karyawan mereka juga menyambut Mira dan Susi dengan baik, mereka juga senang mempunyai atasan wanita.


"Tio, minggu depan aku sibuk, harus mengerjakan proyek dengan Aldo," ucap Lian.


"Aldo suaminya Susi? kenapa kamu terima?" tanya Tio.


"Kinerja dia bagus Tio, aku sudah melihat beberapa proyek besar yang dia kerjakan," terang Lian.

__ADS_1


"Bukan itu, maksud ku dia kan mantan pacar istri kamu, " ucap Tio, menoleh ke arah Mira.


"Tio! teriak Susi.


"Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, Tio," sahut Mira.


"Yang kerjasama aku bukan istriku," ucap Lian, tersenyum ke arah Tio.


Tio kurang setuju dengan keputusan Lian yang begitu mudahnya percaya dengan Aldo. Tetapi Aldo sendiri tidak mampu mengerjakan sendiri proyek sebesar itu. Perusahaan milik Aldo masih jauh di bawah di banding dengan punya Lian.


Lian menjelaskan semua tentang kerjasama yang akan dia kerjakan dengan Aldo. Tio di minta Lian untuk membantu tetapi Tio tidak mau karena masih sakit hati dengan Lisa. Sungguh alasan yang tidak masuk di akal bagi Lian.


Mira dan Susi mengelilingi cafe yang akan dia kelola, mereka juga tidak percaya diri masih ragu bisa mengelola atau tidak. Susi dan Mira sama-sama pintar dalam hal masak-memasak mereka pasti punya ide baru dalam menciptakan menu makanan.


"Mira, aku jadi karyawan biasa saja," ucap Susi.


"Tidak bisa, ini sudah keputusan Lian," jelas Mira.


"Tetapi aku takut tidak bisa mengelola, Mira," ucap Susi lagi.


"Kita sama-sama belajar, cafe ini juga peninggalan Ayah," kata Mira.


"Aku masih ingat saat kita kesini, Ayah sedang menyirami bunga yang berada di taman," tunjuk Susi.


"Kenangan dengan Ayah sedikit, belum cukup aku merasakan kasih sayangnya," ucap Mira.


"Mira, maaf aku membuatmu sedih," kata Susi.


"Ayo kita ke tempat Lian lagi!" ajak Mira, sembari mengusap air matanya yang menetes.


Mereka berdua kembali ke meja di mana Lian dan Tio sedang duduk. Lian dan Tio masih membicarakan proyek yang akan dikerjakan dengan Aldo. Tio masih bersikeras tidak mau membantu Lian, dia memilih proyek yang berada di luar kota.


"Kamu mau ke luar kota lagi, Tio?" tanya Susi.


"Apa boleh buat kalau Lian masih mengerjakan proyek Aldo," ucap Tio.


"Jangan seperti anak kecil, Tio," ucap Susi.


"Masalah pribadi lebih baik di selesaikan secara pribadi, Tio," sahut Mira.


Kedua wanita itu sedang memberi pengertian kepada Tio, sedangkan Lian tersenyum melihat keras kepalanya Tio. Tidak ada yang mampu membujuk Tio kali ini.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2