
Lian masih marah dengan Mira, bahkan saat Mira membuatkan minuman atau makanan dia tidak mau menyentuhnya.
Keesokan harinya saat akan pergi ke kantor Lian langsung berangkat, dia tidak pamit seperti biasanya.
Mira hanya bisa pasrah karena merasa bersalah dengan Lian, kalau seandainya dia berkata jujur mungkin Lian tidak akan marah begini.
"Apa yang harus aku lakukan," ucap Mira dalam hati.
Mira memutuskan untuk pergi ke cafe dan ikut membantu berkerja seperti biasanya.
"Mira, jangan ikut kerja dulu!" larang Susi, yang masih khawatir dengan keadaan Mira.
"Tidak apa-apa Susi, aku sudah baikan," ucap Mira.
"Nanti Lian marah sama kita semua, Mira. Kamu jangan ngeyel kenapa," ucap Susi.
Mira hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya, karena cafe hari ini lumayan ramai pengunjung.
"Mbak Mira, ada tamu di depan," kata Siska.
"Siapa Siska?" tanya Mira.
"Gak tau Mbak, dia nyari yang punya cafe," jawab Siska.
Kemudian Mira menyuruh Siska untuk menggantikan pekerjaannya, dia menemui tamu yang dimaksud oleh Siska tadi. Ternyata yang datang ke cafe Reza dan Nena.
__ADS_1
"Reza, Nena... kalian sudah lama?" tanya Mira.
"Belum, kita baru saja sampai," jawab Nena.
"Mira, maksud kedatangan kita kesini untuk memberhentikan pengiriman sayur sementara waktu," jelas Reza.
"Kenapa dihentikan? kita sangat membutuhkan," ucap Mira.
"Sayuran kita tidak aman untuk dikonsumsi Mira. Ada orang yang mungkin iri dengan kita, sehingga dia membuat sayuran kita beracun," kata Nena.
"Iya, kita akan berhenti kirim sayur mulai besok sampai satu bulan mendatang," ucap Reza.
"Kenapa lama sekali? apa kalian sudah bilang sama Lian?" tanya Mira.
"Kita masih beruntung Mira, tidak semua lahan yang mereka taburi racun. Pelakunya sudah tertangkap, jadi dia bisa tau orang yang menyuruh mereka," jelas Nena.
Mira mencoba mengirim pesan kepada Lian, dia memberitahukan soal kedatangan Reza dan Nena. Tetapi Lian hanya membuka pesan yang saja tanpa dia balas.
Tak lama kemudian Lian sampai di cafe, dia menemui Reza dan Nena.
Reza menjelaskan kepada Lian maksud kedatangannya, Lian bisa mengerti dan akan mencari pengirim sayur lain untuk sementara waktu.
Setelah selesai mengutarakan kedatangannya dan selesai makan, Reza dan Nena berpamitan untuk pulang.
"Lian, kenapa kita belanja sendiri saja ke pasar seperti dulu," ucap Mira.
__ADS_1
"Kita tutup saja cafe ini," kata Lian.
"Tidak, aku yang akan meneruskan," ucap Mira.
"Terserah kamu!" kata Lian, berlalu pergi begitu saja. Dia masih marah dengan Mira.
Susi yang tidak sengaja mendengar ucapan Mira dan Lian hanya diam, dia tidak berani mendekat apalagi ikut campur.
"Kasihan juga Mira, tidak punya siapa-siapa lagi. Suaminya malah marah sama dia," ucapnya dalam hati.
Setelah Lian benar-benar pergi Susi mendatangi Mira yang nampak sedih, Susi bertanya pada Mira sebenarnya apa yang sedang terjadi.
"Mira, tumben Lian buru-buru perginya?" tanya Susi.
"Dia sedang marah, karena aku tidak jujur dengan kejadian kemarin," jawab Mira dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu sabar, ya. Lian siapa yang memberitahu?" tanya Susi lagi.
Mira menggelengkan kepalanya dan mengusap air matanya yang menetes di kedua pipinya.
"Ayo kita lanjut keja saja!" ajak Mira.
"Mira, kamu istirahat dulu! jangan dipaksakan untuk kerja terus," kata Susi.
Mira tidak menghiraukan ucapan Susi, karena saat dia tidak melakukan pekerjaan masalah yang sedang dia hadapi akan menguras pikirannya.
__ADS_1