Mira

Mira
Bab 82


__ADS_3

Lisa mencoba menghubungi Aldo tetapi tidak bisa, lalu dia ke kamar untuk istirahat.


Keesokan harinya dia bangun lebih pagi dari biasanya karena perutnya lapar. Lisa beranjak untuk ke dapur, di lihatnya makanan masih utuh dan tertata rapi.


Hatinya terasa sakit sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik tetapi Aldo malah mengabaikannya. Lisa memakan sisa makanan tadi malam yang masih layak, tak terasa air mata membasahi kedua pipinya.


"Aldo, seandainya kamu benar-benar tidak bisa menerima aku, lebih baik aku mundur. Aku sudah tidak tahan kamu perlakukan seperti ini," ucapnya dalam hati.


Terdengar ketukan pintu dari luar, Lisa segera menghapus air matanya dan membuka pintu.


"Aldo, kenapa kamu baru pulang?" tanya Lisa.


"Aku ngantuk Lisa, nanti saja aku jelaskan," ucap Aldo, lalu pergi ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya.


Lisa melanjutkan membersihkan meja makan, dia tidak mau memasak lagi. Sikap Aldo benar-benar membuatnya kecewa saat ini.


Setelah selesai Lisa ingin pergi untuk memenangkan diri, tetapi Aldo sudah bangun dari tidurnya.


"Lisa, aku ingin bicara sebentar," ucap Aldo.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Do," ucap Lisa.


"Aku minta maaf tadi malam tidak pulang ke rumah, aku tidur di rumah nenek," jelas Aldo.


"Iya, kah?" tanya Lisa.


"Kalau tidak percaya kamu tanya sama nenek," ucap Aldo.


"Benarkah kamu tidak ke tempat lain?" tanya Lisa.


"Aku dari kantor ke apartemen Sandra, untuk membicarakan masalah kita," ucap Aldo.


"Maksud kamu apa, Do? kamu punya masalah dengan Sandra?" Lisa semakin penasaran dengan suaminya itu.


Aldo kemudian menceritakan semua tentang dirinya dan Sandra, dari awal bertemu sampai sekarang. Dia berkata dengan jujur kepada Lisa.


"Berati selama ini kamu sudah... Lisa tidak mampu meneruskan ucapannya, dia menangis lagi. Aldo memeluk Lisa dan meminta maaf, dia berjanji tidak akan mengulangi lagi kesalahannya.


"Aku janji tidak akan mengulangi lagi," ucap Aldo, masih memeluk Lisa dan mencium keningnya.


Kecewa dan kecewa yang teramat dalam yang di rasa oleh Lisa saat ini. Bagai di hantam sebuah batu besar, teramat sakit untuk mengetahui kenyataan yang ada.


"Mungkin semua ini karma, aku telah merebutnya dari Mira. Dan sekarang aku terluka yang teramat perih," ucapnya dalam hati.


🌾🌾🌾


Mira sedang membantu Susi untuk membersihkan rumah barunya, mereka tidak jadi untuk ke cafe karena Lian melarang mereka.

__ADS_1


"Mira, lihatlah Aldo baru pulang pagi-pagi begini. Apa tidak kasihan ya dengan Lisa," ucap Susi, saat melihat Aldo baru pulang.


"Kamu bisa-bisanya malah ngintip Aldo," ucap Mira.


"Coba lihat aja dari sini," kata Susi, masih mengawasi Aldo masuk ke dalam rumah.


"Tidak mau, kurang kerjaan aja," tolak Mira.


Susi kemudian melanjutkan membersihkan rumah, setelah selesai mereka duduk di teras dan melihat keadaan di sekitar rumah.


"Kamu beneran sudah tidak peduli dengan Aldo?" tanya Susi.


"Sudah jangan ngomongin orang," ucap Mira.


"Aku hanya khawatir kalau kamu masih ada rasa sama dia," ucap Susi.


Mira menjelaskan kepada Susi, agar tidak membahas Aldo lagi.


"Aku kasihan dengan Lisa, bagaimanapun dia pernah menjadi sahabat ku," ucap Mira.


"Kelihatannya dia sekarang sudah berubah, tidak seperti dulu," kata Susi.


"Banyak perubahan dia, sudah tidak sombong lagi. Bahkan dia sekarang sering datang ke rumah," ucap Mira.


"Alhamdulillah, dia bisa berubah. Aku ikut senang," ucap Susi.


"Tentu, kita bisa berteman lagi seperti dulu. Bermain bersama pergi bareng," ucap Mira dengan tersenyum.


Lian dan Tio sudah menunggu sejak satu jam yang lalu, hingga ada salah satu karyawan cafe yang menegur mereka.


"Pak, kalian berdua ini jadi pesan makanan tidak?" tanya pelayan itu, mereka makan di cafe dekat kantor Lian.


"Sabar mbak, istri saya belum datang," ucap Lian.


Pelayanan itu lalu pergi ke pelanggan lain, untuk menanyakan pesanan.


"Mereka lama sekali," ucap Tio.


"Lagi di jalan mungkin, kamu juga gak sabaran banget," kata Lian.


Tiba-tiba ponsel Lian berbunyi, sekretarisnya memberitahukan kalau ada tamu di perusahaan. Tamu itu ingin bertemu dengan Lian untuk menyelesaikan masalah pekerjaan.


Lian kemudian mengajak Tio untuk segera kembali ke kantor, karena tamu ini sangat penting tidak bisa di tunda.


Mereka juga lupa harus mengabari Mira dan Susi terlebih dahulu, karena tergesa-gesa.


Tiga puluh menit setelah kepergian Lian dan Tio, mereka baru datang dan mencari keberadaan Lian dan Tio.

__ADS_1


"Susi, Lian sama Tio dimana?" tanya Mira.


"Kita cari dulu, tapi kok tidak ada kelihatannya," jawab Susi.


"Coba aku telepon dulu," ucap Mira, mengambil ponselnya di dalam tas lalu mencoba menghubungi Lian tetapi tidak bisa.


"Bagaimana Mir?" tanya Susi.


"Tidak bisa dihubungi, mungkin mereka sibuk," ucap Susi.


"Kalau sibuk kenapa juga tadi minta kita datang kesini coba," kata Mira.


"Apa kita makan dulu saja?" tanya Susi.


"Aku sudah tidak lapar, ayo kita pulang saja!" ajak Mira.


"Mira, aku ingin ke kantor mereka saja," ucap Susi.


Mira kemudian mengajak Susi untuk ke kantor Lian, mereka jalan kaki menuju ke sana.


"Baru kali ini aku menginjakkan kaki di perusahaan sebesar ini, Mira," ucap Susi dengan pelan.


Mira tersenyum ke arah Susi, dia mengajak Susi untuk ke ruangan Lian.


"Mbak, pak Lian ada tidak?" tanya Mira, pada karyawan perusahaan itu.


"Baru ada meeting, mbak," jawab karyawan itu dengan sopan. Silahkan di tunggu dulu!" Lanjutnya.


Mira dan Susi kemudian duduk di ruang tunggu sambil berbincang-bincang.


"Kenapa tidak langsung ke ruang kerja Lian saja, Mira?" tanya Susi.


"Kita harus mengikuti aturan perusahaan, kalau kita bandel kasihan mereka juga kalau di pecat," ucap Mira.


"Memangnya mereka tidak tau kalau kamu istri pemilik perusahaan ini?" tanya Susi lagi.


"Mungkin mereka lupa atau mungkin karyawan baru," ucap Mira.


Saat ini Lian dan Tio masih berada di ruang meeting, karena banyak yang harus di bahas. Walaupun mereka berkerja dengan keadaan lapar Lian dan Tio tetap semangat.


"Lama sekali," gerutu Mira.


"Mira, aku lapar," ucap Susi.


"Tahan bentar, siapa tau mereka selesai meeting. Terus kita marahin saja," ucap Mira.


Tak lama kemudian Lian dan Tio sudah keluar dari ruang meeting, mereka mengantar tamu sampai ke depan. Lian melihat Mira di ruang tunggu lalu menghampiri Mira dan Susi.

__ADS_1


"Sayang, sebentar aku antar mereka ke depan dulu," ucap Lian pada Mira.


Mira hanya mengangguk, dia duduk lagi di kursi yang dia duduki tadi. Selesai mengantar tamu Lian menemui Mira dan Susi untuk di ajak keruangan nya.


__ADS_2