Mira

Mira
Bab 56


__ADS_3

Lisa masih sedikit kecewa dengan perlakuan Aldo, bahkan dia ingin segera pulang ke rumah. Ingin rasanya dia mengadu dengan neneknya. Karena hanya nenek yang bisa mengendalikan Aldo menurut Lisa.


Malam hari Lisa duduk di sofa yang ada dalam penginapan itu, dia memandang ke arah luar jendela nampak pemandangan pantai di malam hari, sepi, sunyi, gelap. Dia nampak melamun, entar seberat apa beban yang ada dalam pikirannya. Hingga suara Aldo membuatnya tersadar dari lamunan itu.


"Lisa, kamu belum tidur?" tanya Aldo.


"Belum," jawab Lisa, singkat.


"Ayo kita keluar!" ajak Aldo.


"Tidak, aku ingin di sini," tolak Lisa.


"Aku keluar dulu kalau begitu," ucap Aldo, lalu melangkahkan kaki keluar dari penginapan.


Aldo berjalan sendiri di hamparan pasir yang sangat luas, lalu duduk di tepi pantai.


"Kamu sendirian, Do?" tanya Sandra, yang tiba-tiba muncul di samping Aldo.


"Sandra!" kaget Aldo.


"Iya, kenapa? kebetulan aku tadi melihat kamu keluar hotel, lalu aku mengikuti mu," ucap Sandra.


"Pergi!" usir Aldo.


"Kamu kenapa? tiba-tiba usir aku?" tanya Sandra lagi.


"Aku tidak mau ribut lagi dengan istriku," jelas Aldo.


Sandra bukannya pergi, tetapi malah tertawa mendengar Aldo mengusirnya.


"Aldo, wanita ada maunya saja kamu nikahi," ucap Sandra, lalu pergi dari hadapan Aldo.


Aldo diam tidak menanggapi apa perkataan Sandra, lalu dia kembali ke penginapan. Lisa masih dengan posisi yang sama, dia hanya diam tanpa menyapa Aldo.


"Lisa, kenapa belum tidur?" tanya Aldo.


"Aku belum mengantuk, Do," jawab Lisa.


Aldo mendekat ke arah Lisa, dia menatap Lisa.


"Kenapa melihat ku seperti itu?" tanya Lisa.


"Ayo kita tidur!" ajak Aldo.


"Kamu bisa tidur duluan, Do! aku masih ingin di sini," kata Lisa.


Aldo meninggalkan Lisa, dia beranjak ke tempat tidur, untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


Keesokan harinya Lisa mengajak Aldo untuk pulang, dia sudah kecewa dengan sikap Aldo. Tetapi Aldo menolak ajakan Lisa, karena sudah terlanjur memesan tempat itu selama tiga hari.


Aldo saat ini pergi menemui Sandra yang menginap di daerah itu karena ada kepentingan, kebetulan dia tadi malam melihat Aldo dan sengaja mengikutinya.


"Ada apa kamu menyuruhku kemari?" tanya Aldo.

__ADS_1


"Do, sabar dulu kenapa," ucap Sandra.


"Kamu tau tidak? aku kesini pergi berlibur dengan Lisa," jelas Aldo.


"Tidak perlu dijelaskan, aku juga sudah tau," ucap Sandra, dengan nyantainya.


"Jangan bikin aku marah! cepat katakan apa mau kamu?" tanya Aldo.


"Aku ingin kamu menemaniku, Do," jawab Sandra.


"Tidak bisa, lain kali saja," tolak Aldo.


"Aldo, jangan menolak," ucap Sandra, dia berpindah duduk di sebelah Aldo dan menyenderkan kepalanya di bahu Aldo.


Kebiasaan Sandra bila di dekat Aldo selalu seperti itu, Aldo lalu meninggalkan Sandra karena dia tidak tega dengan Lisa, kali ini Aldo benar-benar menolak kemauan Sandra.


***


Di saat Aldo pergi liburan, Lian sendirian mengerjakan proyek kerjasama mereka berdua. Ada salah satu pegawai Aldo yang benar-benar tidak tau konsepnya bagaimana, karena Aldo belum menjelaskan kepadanya.


"Pak, ini saya belum mengerti," ucap karyawan itu, sembari menunjukkan berkas kepada Lian.


"Harusnya kamu bertanya kepada Aldo, bukan ke saya," kata Lian.


"Tetapi, pak Aldo sedang keluar kota," ucapnya lagi.


"Padahal ini harus kita kerjakan lebih dulu, bagaimana kalau kamu hubungi Aldo!" ucap Lian.


"Ini bakalan rumit kalau Aldo tidak datang," ucap Lian.


"Lebih baik kita tunda saja, pak," kata karyawan Aldo.


"Waktu saya akan banyak terbuang, kalau Aldo tidak segera datang kesini," ucap Lian.


Lian dengan kesal meninggalkan lokasi proyek itu, dan menuju ke kantornya untuk mengerjakan pekerjaan lain, yang lebih menguntungkan dan tidak membuang-buang waktu.


Tio yang berada di kantor Lian, tertawa mendengarkan cerita Lian.


"Apa aku bilang, kamu terlalu percaya dengan Aldo," ucap Tio.


"Mungkin dia sedang sibuk, jangan berpikir buruk dulu kepada orang," ucap Lian, sok bijak membuat Tio tersenyum.


"Dia enak liburan, kamu suruh kerja," ucap Tio, meledek Lian.


"Kamu bisa diam tidak?" tanya Aldo.


"Oke, jangan marah bos!" ucap Tio, dengan nada bercanda.


"Meledek terus, tidak akan aku kasih restu kamu nikah sama Susi," ucap Lian.


Tio semakin tertawa mendengar ucapan Lian, terhibur saat ini dia bertemu dengan Lian.


"Ayo kita ke cafe saja, Lian!" ajak Tio.

__ADS_1


"Mira melarang aku ke sana," ucap Lian.


"Kenapa? aku ingin makan siang di sana," kata Tio.


"Sana balik kerja! jangan tanya terus," ucap Lian, dia mengusir Tio.


Tio lalu kembali ke ruangannya, dia masih senyum mengingat Lian.


***


Di cafe Mira dan Susi kedatangan ibu-ibu sosialita yang akan mengadakan arisan, mereka memesan banyak makanan. Setelah selesai memasak mereka menghidangkan di meja. Tanpa di sengaja Mira bertemu dengan mamah Lisa dan mamah Aldo.


"Ternyata kamu sekarang kerja di sini, Mira?" tanya mamah Lisa.


"Iya, tante," jawab Mira singkat.


"Kamu sudah punya suami yang katanya kaya, kenapa masih di suruh kerja?" tanya mamah Lisa lagi.


"Maaf tante, suami saya tidak pernah menyuruh saya kerja," jawab Mira, dia tidak terima dengan ucapan mamah Lisa.


"Buktinya? lihat itu Lisa sekarang dia tidak berkerja, bahkan dia di belikan mobil oleh nenek Aldo," ucap mamah Lisa.


"Saya sudah tau, tante! bahkan Lisa sering ke rumah saya," kata Mira.


"Tidak berkerja tapi mau kuras harta suami," sahut Clara, yang tiba-tiba datang.


"Jaga ucapan kamu, jeng!" ucap mamah Lisa.


"Itu kenyataan! Mira, kamu tidak perlu mendengarkan wanita ini," ucap Clara.


"Tante, tidak perlu ribut! kita semua punya kesibukan masing-masing, apalagi masalah kerja atau tidak," jelas Mira, lalu pergi dari meja itu dan menuju ke dapur.


Mira sangat heran dengan mamah Lisa yang selalu mencela dirinya ketika bertemu.


"Mbak, panggil Mira tadi dong!" suruh mamah Lisa, pada karyawan yang lain.


"Melayani pelanggan bukan tugas mbak Mira, bu," jawab karyawan itu.


"Mira juga karyawan, kan?" tanya mamah Lisa.


"Bukan, dia istri pemilik cafe ini dan hanya mengawasi saja," jelasnya.


Clara yang mendengar ucapan karyawan cafe itu langsung tersenyum mengejek ke arah mamah Lisa.


Mamah Lisa lalu terdiam, dia terlihat malu dengan apa yang baru saja dia katakan. Bahkan dia tidak berani melihat ke arah Clara.


Mira yang selalu di hina tidak pernah menyimpan dendam kepada mamah Lisa, bahkan dia tetap menghormati mamah Lisa.


Bersambung...


Saya ucapkan banyak terima kasih bagi yang sudah membaca dan mendukung karya ini ❤❤


Tunggu kelanjutannya ya 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2