Mira

Mira
Bab 79


__ADS_3

Saat ini Mira dan Susi sudah kembali berkerja di cafe, Siska sangat senang melihat Mira dan Susi sudah datang. Karena tanpa mereka karyawan cafe sangat kerepotan, apalagi kalau jam makan siang.


Selain harganya yang terjangkau, masakan mereka juga enak. Orang yang pernah makan di tempat itu pasti akan kembali lagi di lain waktu.


"Siska, bagaimana keadaan cafe saat kita gak ada?" tanya Mira.


"Jujur ya mbak, tambah karyawan saja. Kita benar-benar kewalahan kalau pas rame," ucap Siska.


"Nanti ya, aku bilang ke Lian dulu," ucap Mira.


"Jangan mbak, aku tidak enak. Kalau sekarang sudah ada mbak Mira sama mbak Susi," ucap Siska.


"Siska, tidak usah minta tambah karyawan. Kita minta naik gaji saja," sahut Susi.


"Kerja dulu," canda Mira.


"Mbak Susi, nanti aku di pecat gimana," kata Siska.


"Majikan kita tidak bisa memecat kita, karena mereka tidak akan tega," ucap Susi.


Mira hanya tersenyum mendengar pembicaraan Susi dan Siska, memang benar yang di katakan Susi. Lian tidak akan mungkin asal memecat orang, dia juga tau kalau mencari pekerjaan itu susah.


Cafe sudah mulai di padati oleh pengunjung, mereka mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"Mira, sayurannya sudah habis," ucap Susi, memberitahu Mira.


"Kita beli lagi atau gimana? tapi sudah nanggung," kata Mira.


"Aku kurang lima pesanan lagi, bagaimana ini?" tanya Susi.


Mira menanyakan pada pelanggan cafe itu, ada yang mau tanpa sayur, ada juga yang marah.


"Maaf, mbak persediaan sayur kita habis bagaimana kalau di ganti tanpa sayur?" tanya Mira dengan lembut.


"Buatin saja mbak, kita mau," ucap salah satu pelanggan.


"Gimana ini? kenapa tadi tidak bilang kalau habis!" marah seorang pelanggan.


"Tadi sangat rame, kita salah memperhitungkan," jelas Mira.


"Kita tidak jadi saja," ucap pelanggan itu, lalu keluar meninggalkan cafe.


"Yang sabar mbak, karena sifat orang tidaklah sama. Ada yang bisa mengerti dan tidak peduli," ucap seorang ibu, dia pelanggan cafe juga yang sedang menunggu pesanan.


"Iya bu, kita selalu sabar kok. Maaf Bu kalau hari ini pelayanan kita kurang memuaskan," ucap Mira.


Pesanan ibu tadi sudah datang, Mira lalu melanjutkan pekerjaannya. Mereka akan beres-beres karena bahan sayur sudah habis.


"Mira, kita jalan ke taman lagi yuk!" ajak Susi.


"Nanti Lian nyariin lagi, gimana?" ucap Mira.

__ADS_1


"Aku ikut mbak," sahut Siska.


"Cepat kamu kasih kabar ke Lian, mumpung kita pulang cepat," ucap Susi.


Mira segera mengambil telepon genggamnya dari dalam tas, dia mengirimkan sebuah pesan untuk suaminya. Tetapi Lian tidak langsung membalas pesan itu, Mira masih menunggu balasan pesan dari Lian.


"Ayo Mira!" ajak Susi.


"Lian belum menjawab pesanku," ucap Mira.


"Siska, kamu jadi ikut kan?" tanya Susi.


"Kalau boleh ikut, jadi mbak," jawab Siska.


Lian akhirnya menjawab pesan Mira, dia memperbolehkan Mira ke taman asal tidak pulang terlalu malam, karena dia tidak bisa menjemput.


"Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Mira.


"Tuh kan, boleh sama pak Lian," ucap Siska.


"Asal tidak pulang malam, dia tidak bisa jemput kita," kata Mira.


"Nanti biar Tio yang menjemput kita," ucap Susi.


Mereka bertiga lalu berjalan menuju taman kota, di sana kebetulan ada pameran bunga.


"Ayo ke sebelah sana!" ajak Mira, ke tempat bunga-bunga di pajang.


"Mbak, kalau cuma mau lihat pelan-pelan!" bentak penjaga stand bunga.


"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Mira, hendak membersihkan pecahan vas itu.


"Kalau begini saya bisa rugi! mbak harus ganti sepuluh kali lipat dari harga vas itu!" ucap penjaga stand.


"Kalau ngomong yang sopan," sahut Susi. Teman saya tidak sengaja," Lanjutnya.


"Tidak usah ikut campur kalian!" bentak orang itu.


"Sudah, jangan ribut! saya ganti, berapa?" tanya Mira.


"Seratus juta, cepat mana uangnya!" ucap penjaga stand.


"Bentar, saya telepon suami dulu," ucap Mira.


Mira menghubungi Lian, tetapi panggilan itu tidak terjawab karena Lian sedang berada di ruang meeting.


"Gimana mbak? cepetan ganti rugi!" bentaknya lagi.


"Bos kamu ada?" tanya Mira.


"Tidak ada! sudah jangan cari alasan, mana bayar sekarang!" bentaknya lagi.

__ADS_1


"Susi, bagaimana ini? apa Lian punya uang sebanyak ini," ucap Mira dengan khawatir.


"Kamu tenang dulu, ayo kita duduk dulu!" ajak Susi.


"Acara kita ke taman jadi hancur, gara-gara aku. Maaf ya Susi, Siska... " ucap Mira lirih.


"Gak papa, mbak. Namanya juga lagi sial," ucap Siska.


Susi mencoba menghubungi Tio, dia meminta agar Tio datang ke taman itu karena Lian tidak bisa dihubungi.


"Sebentar lagi Tio datang, kamu tenang Mira," ucap Susi.


Tak lama kemudian Tio datang juga, dia tidak sendirian tetapi bersama Lian. Tio memberitahu ke Lian, karena sangat panik dia meninggalkan meeting nya.


"Sayang, ada apa? tadi aku lagi meeting," ucap Lian.


Mira kemudian menjelaskan soal vas yang tidak sengaja dia jatuhkan.


"Mana cepat kalian harus ganti rugi," ucap penjaga stand bunga.


"Vas seperti ini, kamu minta di ganti seratus juta?" tanya Lian.


"Iya, tidak usah banyak bicara!" bentak orang itu.


"Aku tidak mau mengganti, ini terlalu mahal! apa kamu mau memeras istri saya!" marah Lian. Dia kesal dengan orang itu, vas yang dipecahkan oleh Mira hanya seharga satu jutaan, tetapi orang itu meminta seratus juta.


Perdebatan antara Lian dan penjaga stand itu pun terjadi, hingga pemilik stand bunga itu datang melerai keduanya.


"Ada apa ini ribut di stand saya?" tanya pemilik itu.


"Karyawan anda mau memeras istri saya," jawab Lian.


"Bohong pak, mbak itu tadi memecahkan vas yang terpajang di depan. Saya minta ganti rugi malah memanggil suaminya ke sini," jelas orang itu.


"Vas seperti itu, dia minta ganti seratus juta. Apa itu tidak memeras?" ucap Lian.


"Apa? kamu minta ganti seratus juta?" tanya pemilik pada penjaga stand dengan kaget.


"Iya, pak. Karena saya butuh uang," ucap orang itu.


Pemilik stand itu lalu meminta maaf kepada Lian dan hanya meminta ganti rugi dua juta, karena vas itu tidak mahal.


Lian memberikan uang itu dan mengajak Mira untuk pulang ke rumah. Sedangkan Susi dan Siska pulang bersama Tio.


Di perjalanan pulang Mira meminta maaf kepada Lian, dia merasa bersalah telah merepotkan suaminya. Lian sangat memaklumi istrinya, karena dia tau kalau Mira sangat senang dengan bunga.


"Lain kali kamu harus hati-hati," ucap Lian, mengacak rambut Mira.


"Besok aku ganti uangnya kalau sudah ada," ucap Mira. Langsung mendapat tatapan mata dari Lian.


...❤❤❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2