
Mira harus menelan kenyataan pahit, harapannya untuk tinggal bersama sang Ayah hancur sudah. Ayah Mira telah meninggalkan Mira dan Lian untuk selama-lamannya. Susi mencoba menenangkan Mira dan Lian.
Setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit, mereka membawa jenazah Ayah Mira ke kota tempat ibu Mira di makamkan.
"Sekarang Ayah sudah bersama ibu..." ucap Mira lirih.
"Mira, ikhlaskan mereka sudah tenang tidak merasakan rasa sakit lagi," ucap Susi.
"Kalian pulanglah! aku ingin menemani Ayah dan ibu!" kata Mira.
"Sayang, kita harus kuat menghadapi cobaan ini, aku juga kehilangan Ayah," ucap Lian, sembari memeluk Mira.
"Lian, hanya kamu dan Susi yang aku punya sekarang," kata Mira, air mata masih membasahi kedua pipinya.
"Aku janji akan menjaga kamu, Mira," ucap Lian, menghapus air mata Mira lalu memeluknya.
"Kita sudah seperti saudara, aku juga akan ada untuk kamu, Mira," sahut Susi.
Acara pemakaman Ayah Mira telah selesai, dengan berat hati mereka meninggalkan makam itu dan pulang menuju rumah Mira.
Tinggal rumah ini yang menjadi kenangan saat Mira masih bersama Ayah dan Ibunya. Sampai kapanpun Mira tidak akan menjual rumah itu. Salah satu peninggalan yang paling berkesan dalam hidupnya.
Mira dan Lian sekarang sudah tidak mempunyai orang tua lagi, sudah tidak punya panutan lagi. Mereka sangat terpukul dengan hal ini, kesedihan yang mendalam masih mereka rasakan.
Kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup kita memanglah sangat berat, kita harus belajar ikhlas dalam berbagai hal.
Mira saat ini masih bersedih, dia duduk termenung sambil memeluk foto Ayah dan ibunya. Dia benar-benar terpukul saat ini, semangat hidupnya seketika hilang.
"Mira, ayo kita makan dulu!" ajak Susi, yang telah selesai memasak.
"Aku tidak lapar, aku mau makan bareng Ayah dan Ibu lagi..." ucap Mira lirih.
"Kamu boleh sedih, boleh nangis, tapi ingat kesehatan," kata Susi.
"Ayah dan Ibu akan sedih kalau melihat kamu seperti ini, tunjukkan kalau kamu bisa membuat mereka bangga," kata Susi lagi.
"Percuma, mereka sudah tiada buat apa aku bahagia?" ucap Mira, air matanya mulai menetes kembali, Susi memeluk sahabatnya itu.
Seminggu sudah berlalu, mereka kembali ke kota untuk melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda. Walaupun buat Mira masih berat untuk meninggalkan rumah Ayah dan Ibunya.
Dia juga harus memenuhi kewajiban sebagai seorang istri, kasihan Lian kalau dia harus bersedih terus. Apa yang pernah di alami Lian juga berat, Mira tidak boleh egois mementingkan perasaan sendiri saja.
"Mira, kita akan tinggal di mana?" tanya Lian.
"Kita ke rumah Ayah dulu, Lian," jawab Mira.
__ADS_1
"Tapi, kamu jangan sedih lagi," ucap Lian.
"Aku pasti kuat," kata Mira.
Mereka lalu menuju ke kediaman Ayah Mira, setelah sampai Mira masuk ke dalam kamar Ayahnya, dia melihat foto yang masih terpampang di dinding kamar membuatnya teringat dengan orang tuanya.
"Lian, ternyata Ayah masih menyimpan foto lama ini," kata Mira, air matanya mulai menetes kembali.
"Foto itu selalu dia bawa, Mira," ucap Lian.
"Ayah ternyata tidak pernah melupakan aku dan ibu..." ucapnya lirih.
"Tidak, bahkan Ayah pernah bercerita tentang masa kecil kamu," ucap Lian.
"Benarkah?" tanya Mira.
"Iya, Ayah adalah orang yang baik, bahkan aku yang bukan anak kandungnya selalu dia perhatikan," kata Lian.
"Aku iri sama kamu, Lian, mendapatkan perhatian Ayah, sedangkan aku, baru juga bertemu sudah di tinggalkan," ucap Mira, air mata semakin deras membasahi pipinya.
"Ayah selalu berusaha mencari keberadaan, mu," kata Lian.
Mira menyesal tidak mencari Ayahnya, dia malah memilih untuk berkerja. Penyesalan selalu datang di akhir maka janganlah selagi masih ada.
Keesokan harinya Lian sudah mulai berkerja kembali, dia tidak tega meninggalkan istrinya di rumah sendiri sebenarnya.
"Mira, ayo ikut ke kantor!" ajak Lian.
"Aku siap-siap dulu," kata Mira.
"Apa kerjaan kamu banyak?" tanya Mira.
"Tidak, tapi ada pertemuan dengan Aldo," ucap Lian.
"Aldo!" kaget Mira.
"Iya, dia sudah dari seminggu yang lalu minta kerjasama," jelas Lian.
"Lalu kamu terima?" tanya Mira lagi.
"Menurut, kamu?" Lian malah balik bertanya.
"Aldo orang yang sportif dalam berkerja, tidak ada salahnya," ucap Mira.
"Aku tau itu, kalau dia mengambil kamu dari aku bagaimana?" canda Lian.
__ADS_1
"Lian, aku tidak akan mau," ucap Mira.
Lian tertawa melihat istrinya yang sedang cemberut itu, setelah sampai di kantor ternyata Aldo sudah menunggu di ruangan Lian.
"Maaf menunggu lama," ucap Lian.
"Tidak apa-apa, aku juga baru datang," kata Aldo, melihat ke arah Mira yang ada di belakang Lian.
"Mira," sapa Aldo. Mira tidak menjawab sapaan Aldo, dia menundukkan kepalanya.
"Ayo kita bahas masalah proyek yang akan kita kerjakan!" sahut Lian. Mira lalu duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu. Aldo mulai membahas soal proyek itu, kerjasama yang sangat menguntungkan bagi mereka. Ini pengalaman pertama bagi Aldo menjalankan proyek besar bersama Lian. Setelah selesai Aldo kembali ke kantornya, sedangkan Lian dan Mira melihat usaha peninggalan Ayahnya yang lain.
Taman bunga menjadi tempat tujuan utama, sebenarnya Ayahnya sudah memberikan kepada Mira, tetapi Lian belum memberikan pada Mira. Dia khawatir Mira akan kecapean mengurus semua sendiri, usaha peninggalan Ayah Mira sangat banyak bahkan sampai di luar kota.
"Mira, kamu harus siap sendiri di rumah," ucap Lian.
"Maksudnya? kamu mau ninggalin aku?" tanya Mira, melotot ke arah Lian.
"Tidak begitu, sayang, tapi aku pasti sering ke luar kota," terang Lian.
"Ngapain?" tanya Mira.
"Kamu tidak tau? kalau usaha Ayah sangat banyak?" kata Lian.
"Ayah tidak pernah kasih tau," ucap Mira.
Lian lalu menjelaskan dan memberitahu Mira, tetapi dia tidak bilang kalau ada yang sudah di berikan pada Mira.
"Apa kamu mampu mengurus sendiri, Lian?" tanya Mira.
"Aku akan berusaha," jawab Lian, selama Ayahnya sakit padahal Lian yang mengurus semua.
"Ayo kita pulang! kamu harus istirahat!" ajak Lian.
Mereka akhirnya pulang ke rumah yang mereka beli, sudah lama tak di kunjungi tetapi rumah itu tetap kelihatan bersih dan terawat. Itu karena Lian selalu menyuruh orang untuk membersihkannya.
###
Mamah Lisa sangat bahagia mendengar kabar kalau, Ayah Mira sudah tiada. Dia mulai memikirkan cara licik untuk mendekati Mira lagi, sampai kapanpun dia tidak akan pernah menyerah membuat hidup Mira menderita.
Tiba-tiba dia datang ke toko bunga milik Mira, lalu menyuruh orang untuk membakar toko itu, tetapi rencana buruknya di ketahui oleh suaminya dan di gagalkan. Sekarang dia marah dengan suaminya karena telah menghancurkan rencananya.
Mira dalam bahaya, mamah Lisa kembali ingin mengusik kebahagiaan Mira.
Bersambung........
__ADS_1