
Usaha Lisa untuk mengajak Aldo bulan madu akhirnya berhasil, mereka akan berbulan madu di sebuah pantai dengan pemandangan yang sangat bagus di kota itu.
Perasaan Lisa sangat bahagia berbanding terbalik dengan perasaan Aldo, membayangkan seandainya Mira saat ini yang berada di sisinya menemani dalam keadaan suka maupun duka.
Semua sudah terlanjur tidak dapat terulang lagi, Mira juga sudah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.
"Aldo, pantai ini sangat indah ya? beda dengan yang kita bangun resort itu," ucap Lisa, sambil menatap Aldo.
"Di sini serba mahal," kata Aldo singkat.
"Perhitungan kamu, Do," ucap Lisa.
Aldo diam, dia melangkahkan kaki untuk berbaring di tempat tidur. Lisa mengikuti Aldo dan berbaring di sebelah Aldo berbatasan dengan guling.
Aldo tidur terlelap membuat Lisa sangat kesal karena di abaikan begitu saja.
Aldo sama sekali tidak menyentuh Lisa, padahal Lisa sudah penuh harap agar Aldo melakukan halnya sebagai suami istri pada umumnya.
🍃🍃🍃
"Mira, lebih baik kamu makan dulu!" kata Lian, menyuruh Mira makan karena dari pagi belum makan.
"Aku belum lapar Lian," ucap Mira, sambil merapikan bunga yang ada di dalam vas bunga.
"Nanti kamu bisa sakit, kalau tidak makan," sahut Susi, yang sedang membantu Mira di toko bunga.
"Bagaimana kalau kita makan bareng?" ucap Mira, dengan penuh semangat.
Mira, Lian dan Susi pergi ke tempat makan terdekat dengan toko, mereka bertemu dengan mamahnya Lisa yang kelihatannya sedang makan bersama teman-teman nya.
"Mira, apa kabar?" sapa mamah Lisa, dengan senyum palsunya.
"Baik tante," ucap Mira singkat.
"Lisa sama Aldo sedang bulan madu lho, kalian kapan nikah?" tanya mamah Lisa.
"Tunggu saja undangan kita tante," sahut Lian, memegang tangan Mira.
"Oh... tante kira tidak jadi," ucapnya ketus, lalu meninggalkan Mira, Lian dan Susi.
"Ayo kita pesan makanan! kalian mau makan apa?" tanya Susi, mengalihkan pembicaraan.
"Kita sama aja biar cepat," ucap Lian, sambil memilih daftar makan yang ada di meja.
Selesai makan siang mereka kembali lagi ke toko bunga milik Mira, terlihat Mira dari tadi diam membuat Lian dan Susi khawatir.
__ADS_1
"Mira, bunga ini taruh di mana?" tanya Lian, sengaja mencari bahan pembicaraan dengan Mira.
"Bunga apa itu?" tanya Mira, tidak fokus dengan bunga yang di pegang Lian.
"Bunga bangkai," ketus Lian, lalu menaruh bunga mawar yang dia bawa ke dalam vas.
Toko bunga milik Mira mulai ramai, mereka bertiga hampir kelelahan melayani pembeli dari tadi. Stok bunga di toko juga sudah menipis, pesanan dari kebun bunga langganan Mira belum datang.
"Susi, terimakasih ya? sudah membantu hari ini," ucap Mira, dia sangat senang mempunyai teman seperti Susi.
"Kan aku kerja disini sekarang, kenapa pakai terimakasih," protes Susi.
"Susi, kamu tinggal di rumah Ayah saja gimana?" tanya Lian, agar Mira tidak kesepian.
"Maaf Lian, aku tidak bisa," jelas Susi, dia tidak enak dengan Lian.
"Kenapa? kan kita bisa berangkat bareng lagi," jelas Mira.
"Sudah ada Lian yang tiap hari temani kamu, Mira," kata Susi.
"Aku tinggal di rumah ku sendiri, tidak betah aku tinggal bareng Mira," ucap Lian, yang sebenarnya ada sesuatu yang di sembunyikan.
"Ayo kita pulang! ke rumah masing-masing!" sewot Mira, mendengar ucapan Lian.
Mereka seperti biasa mengantarkan Susi pulang terlebih dahulu, lalu ke rumah Ayah Mira, lalu Lian pulang ke rumahnya sendiri.
****
"Masih ngantuk, Mira sayang," ucap Aldo, sambil memeluk Lisa yang ada di sampingnya.
"Mira! aku Lisa... Do! bukan Mira!" ucap Lisa, lalu menyingkirkan tangan Aldo.
"Maaf, aku lupa," ucap Aldo, lalu bangun dari tidur nya dan pergi ke kamar mandi.
Lisa sangat kesal dengan Aldo, ternyata dia tidak bisa melupakan Mira. Bahkan dia sangat kecewa dari kemarin, malam pertama yang seharusnya indah di lalui dengan kebahagiaan. Ini malah sebaliknya di sentuh saja tidak, malah sang suami membayangkan dirinya adalah wanita lain.
Selesai mandi Aldo mengajak Lisa untuk sarapan, tetapi Lisa menolak ajakan Aldo.
"Kita pulang saja, Do! untuk apa ke sini kalau kamu tidak memperlakukan aku dengan baik," ucap Lisa, dengan mata berkaca-kaca.
"Maksud kamu? tidak baik bagaimana?" tanya Aldo, tidak paham dengan apa yang di maksud Lisa.
"Kamu tidak mengerti juga!" bentak Lisa.
"Lisa, kamu bisa ngertiin aku tidak? aku belum siap untuk semua!" jelas Aldo, dia masih belum bisa menerima pernikahan ini.
__ADS_1
"Harusnya kamu yang ngertiin aku..." ucap Lisa lirih.
"Aku minta maaf, aku tidak bisa melakukan itu kepada wanita yang tidak aku cintai," ucap Aldo, dengan terpaksa dia mengucapkan itu.
Bak tersambar petir, hati Lisa sangat sakit mendengar ucapan Aldo. Dia lalu mengemasi barang-barang miliknya lalu pergi meninggalkan Aldo.
Aldo masih terdiam, dia merasa bersalah dengan ucapannya tadi. Tetapi yang namanya Lisa mana paham kalau tidak di jelaskan dengan detail.
****
Ayah Mira mendesak Mira dan Lian agar segera melangsungkan pernikahan, rencana Lian akhir bulan ini akan melamar Mira menjadi ratu di hidupnya.
Yang ditakutkan Lian adalah Mira belum siap menerimanya, Lian sudah mengakui perasaannya kalau dia dari awal bertemu Mira sudah suka.
"Mira, kamu sudah yakin akan menikah dengan ku?" tanya Lian, sedikit takut.
"Jangan ngomong saja, Lian! buktikan! aku butuh bukti bukan janji!" jelas Mira, jantung Mira berdetak tak karuan.
"Nanti malam aku lamar kamu, sekarang aku ke kantor dulu!" ucap Lian, mencium pipi Mira lalu pergi begitu saja.
"Lian!!! teriak Mira.
Setelah Lian tidak kelihatan batang hidungnya, Mira senyum-senyum sendiri.
Melihat Susi baru datang Mira langsung memeluk Susi, membuat Susi bingung.
"Mira, kamu kenapa?" tanya Susi.
"Nanti malam Lian, akan melamar ku," jawab Mira, dengan wajah bahagia nya.
"Aku turut berbahagia Mira," ucap Susi lalu memeluk kembali Mira.
Tiba-tiba ada seseorang datang membanting vas bunga di toko bunga milik Mira.
"Lisa! apa yang kamu lakukan?" tanya Mira, kaget dengan kedatangan Lisa yang tiba-tiba membanting vas bunga miliknya.
"Kenapa kamu selalu ada di bayangan Aldo? kenapa Mira?" ucap Lisa sambil menangis.
"Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Aldo," jelas Mira, lalu mendekati Lisa.
"Harusnya ini adalah hari bahagia buat aku, tetapi kenyataannya tidak, sangat menyakitkan buat aku, Mira," jelas Lisa.
"Lisa, kamu harus sabar menghadapi Aldo, karena sesuatu yang di paksakan terkadang tidak baik," sahut Susi.
Lisa menghapus air matanya, lalu dia berdiri dan pamit pulang. Mira dan Susi membersihkan pecahan vas bunga yang di lempar oleh Lisa.
__ADS_1
...❤❤❤❤❤❤❤❤❤...