
Pagi harinya Susi dan Mira japan-jalan keliling kompleks, udara yang masih segar menjadi semangat buat mereka untuk jalan-jalan di pagi hari.
"Di sini enak ya, masih bisa menghirup udara segar," ucap Susi. Berbeda dengan dikontrakkan aku pagi-pagi sudah berisik kendaraan," Lanjutnya.
"Jangan disamain juga, penduduk sini belum banyak makannya Lian membeli rumah di sini," kata Mira.
Memang tempat tinggal Mira dan Lian masih asri belum tercemar seperti di kota pada umumnya, kendaraan masih jarang yang melintas kecuali penduduk setempat. Untuk mencari angkot saja Mira dan Susi harus berjalan ke jalan besar. Jadi wajar saja kalau dulu Lisa sering merengek minta mobil.
"Ayo kita ke pasar saja, mumpung masih pagi!" ajak Mira.
"Emang kita mau masak apa, Mir?" tanya Susi.
"Aku bingung mau masak apa, yang jelas kita belanja aja dulu," jelas Mira.
Mereka berdua berjalan kaki menuju ke pasar tradisional yang dekat dengan rumah Mira, mereka membeli berbagai jenis sayur dan lauk.
Biasanya juga ada tukang sayur yang lewat di depan rumah Mira, tetapi Mira jarang membeli karena dia pergi ke cafe.
Dulu waktu masih tinggal bersama Susi, mereka juga sering memasak. Bahkan kerja saja Mira dan Susi membawa bekal dari rumah.
"Mira, kamu masih saja pelit kaya dulu," ucap Susi melihat Mira masih juga menawar saat belanja.
"Ini bukan pelit, tapi namanya juga belanja di pasar harus nawar," kata Mira.
"Tapi sekarang kamu sudah menjadi orang kaya," ucap Susi.
"Sama saja aku juga masih makan nasi, kan," kata Mira.
"Bisa saja kamu ngeles," cibir Susi.
Selesai berbelanja mereka pulang ke rumah Mira, Susi memulai menata sayur yang dia beli ke dalam kulkas, sebagian di siapkan untuk memasak hari ini.
Mira sudah mulai menyiapkan bumbu-bumbu untuk memasak.
"Lian tidak ada di rumah aku malah masak, sedangkan kalau dia di rumah masak saja tidak sempat," gerutu Mira.
"Kenapa tidak sempat?" tanya Susi.
mi
"Dia kadang melarang, bagaimana mau bangun pagi," jawab Mira.
"Kalian berduaan terus, tapi gak papa biar ponakan aku cepat jadi," ucap Susi membuat Mira melirik ke arahnya.
__ADS_1
"Aku belum siap, Susi," ucap Mira.
"Namanya juga sudah menikah siap tidak siap kamu harus mempunyai keturunan, apa kamu mau suami kamu selingkuh?" tanya Susi.
Mira termenung mengingat ucapan Lian beberapa hari yang lalu, kalau Lian ingin segera mempunyai seorang anak agar di rumah Mira tidak lagi kesepian. Karena tidak mungkin juga Susi menemaninya terus, apalagi sebentar lagi Susi akan segera di lamar oleh Tio.
"Mira!" teriak Susi melihat Mira melamun.
"Berisik kamu, aku lagi membayangkan bagaimana kalau aku punya seorang anak," kata Mira.
"Pasti seru, aku saja kalau sudah menikah tidak akan menunda lagi," ucap Susi.
Susi memang memiliki pemikiran yang lebih dewasa, ucapannya kali ini membuat Mira berfikir dan akan menyuruh Lian untuk segera pulang.
Lisa mengetuk pintu rumah Mira, setelah Aldo pergi ke kantor dia merasa kesepian. Susi membukakan pintu untuk Lisa.
"Lisa, kita baru masak. Ayo kita ke dapur saja!" ajak Susi, Lisa mengikuti Susi berjalan ke dapur.
"Kalian masak apa? baunya enak sekali," ucap Lisa.
"Kita masak tumis kangkung sama goreng ikan laut," sahut Mira, yang sedang mencuci sayuran.
"Kamu sudah masak, Lisa?" tanya Susi.
"Sekarang kamu bisa masak, Lisa?" tanya Mira, kaget mendengar Lisa bisa goreng telur.
"Sedikit-sedikit Mira, aku masih belajar memasak buat Aldo," ucap Lisa.
"Semangat, Lisa. Biasanya Aldo itu suka makan udang," kata Susi.
"Kok kamu tau? Aldo tidak pernah bilang, aku juga tidak bisa mengupas udang," kata Lisa.
"Susi ngarang Lis, jangan di dengerin. Nanti Aldo marah kalau kamu masak udang," kata Mira.
"Kalian mau ngerjain aku, ya? aku jadi bingung," ucap Susi.
"Maaf, aku hanya bercanda," kata Susi, menahan tawa.
"Mira, kasih tau aku makanan kesukaan Aldo apa?" tanya Lisa.
Pertanyaan Lisa membuat Susi tersedak saat minum, lalu Mira menjawab sesuai dengan apa yang dia tau.
"Asal kamu tidak masak udang, Aldo semua masakan suka," jawab Mira.
__ADS_1
Lisa banyak bertanya kepada Mira saat ini, bagaimana cara memasak dan apa saja yang menurut Mira cocok untuk di masak. Dengan senang hati Mira dan Susi menjelaskan kepada Lisa.
"Nanti aku coba resep dari kalian, semoga saja aku bisa membuat," ucap Lisa.
"Harus bisa dong, namanya juga sudah berumah tangga. Lisa kenapa kamu tidak menyewa art saja?" tanya Susi, heran dengan Lisa yang dulu sangat sombong.
"Aldo tidak mau di rumah kita ada orang lain, awalnya untuk menutupi pernikahan kontrak kita," jelas Lisa.
"Nikah kontrak? bagaimana?" tanya Mira.
"Aku sama Aldo nikah kontrak, tetapi saat ini Aldo sudah membatalkan perjanjian itu," kata Lisa. Bukannya aku pernah cerita," Lanjutnya.
"Kita mana ingat, yang kita tau kerja dan kerja," sahut Susi.
"Aku ikut senang Aldo mau membatalkan perjanjian itu, sekarang kalian bisa memulai hidup dengan tenang," ucap Mira.
"Sekarang Aldo sudah memulai membuka hati buat aku Mira, walaupun belum sepenuhnya. Dia sudah tidak lagi pulang larut malam," ucapnya.
"Sudah matang, ayo kita makan dulu!" ajak Susi.
Mereka bertiga menyiapkan makanan di meja makan, lalu makan bersama. Lisa juga nampak mau membantu menyiapkan makanan dan membereskan. Mira senang melihat perubahan pada diri Lisa, dulu Lisa sangat angkuh masuk ke dalam dapur saja tidak mau.
Setelah selesai membereskan dapur mereka berpindah tempat, mereka mengobrol di taman belakang rumah Mira.
Lian memang melengkapi fasilitas rumah sesuai dengan apa yang diinginkan istrinya, Mira sendiri juga tidak pernah meminta apapun kepada Lian.
Lian benar-benar malaikat bagi Mira, sudah menyelamatkan hidupnya. Tetapi Mira tidak memanfaatkan begitu saja buktinya dia masih hidup sederhana dan tidak aneh-aneh.
"Taman kecil ini sangat indah," ucap Lisa, kagum dengan taman mini yang berada di belakang rumah Mira.
"Aku juga baru lihat, sering kesini tapi Mira tidak pernah mengajak," protes Susi.
"Kalian bisa aja, ini khusus buat istirahat aku dan Lian," kata Mira.
Terdapat kolam kecil juga di taman itu dan berbagai jenis ikan hias yang di pelihara. Membuat Mira betah di rumah apalagi ada bunga-bunga kesayangannya. Mira sangat rajin memelihara bunga. Mereka bertiga duduk di tepian kolam sambil bercerita dan bercanda.
Bersambung...
Terimakasih buat yang sudah membaca dan mendukung 🙏
Jangan lupa baca juga karya saya yang berjudul "SAHABAT" menceritakan tentang kebersamaan ketiga orang sahabat yang selalu bersama-sama dalam keadaan suka maupun duka walaupun mereka bertiga berbeda sifat dan sikap 🤗❤
... ❤❤❤❤❤...
__ADS_1