
Mira sangat merasa bersalah dengan kejadian tadi walaupun suaminya tidak mempermasalahkan.
"Sayang, kenapa diam saja?" tanya Lian.
"Tidak, aku hanya kepikiran masalah tadi. Aku tidak hati-hati saat melihat bunga," ucap Mira.
"Lupakan, namanya juga tidak di sengaja," kata Lian.
"Gara-gara aku pekerjaan kamu jadi tertunda," ucap Mira.
"Besok masih ada waktu, tadi hanya meeting dengan orang kantor bukan dari perusahaan lain," kata Lian.
Mira benar-benar beruntung mempunyai suami seperti Lian, baru di kasih kabar langsung membubarkan meeting demi istrinya.
Setelah sampai di rumah Lian menyuruh Mira untuk istirahat.
Tio mengantarkan Susi ke kontrakan, Siska juga masih bersama mereka.
"Kak, aku turun di depan saja," ucap Siska.
"Rumah kamu di mana? biar aku antar," ucap Tio.
"Aku tinggal di dekat taman," ucap Siska.
"Kamu tinggal di kost yang khusus buat karyawan cafe?" tanya Susi.
"Iya, aku tinggal di sana. Lumayan mbak gratis, pak Lian baik banget mau kasih kami tempat tinggal," ucap Siska.
"Aku juga pingin ikut kalian," ucap Susi.
"Tidak boleh, rencana minggu ini aku akan mencari rumah dan kamu tempati dulu," sahut Tio.
"Aku tidak mau satu rumah, kalau belum sah jadi istri kamu," tolak Susi.
"Siapa yang mau satu rumah? aku bilang suruh tempat i dulu, bukan kita tinggal bareng," jelas Tio.
"Asyik juga langsung di beliin rumah mbak, terima aja," kata Siska.
"Aku tidak mau Siska, di kira nanti aku matre lagi," ucap Susi.
Tak terasa mereka sudah sampai di kost Siska, dia segera turun dari mobil dan mengucapkan terimakasih pada Tio dan Susi.
Sekarang tinggal mereka berdua, Susi bercerita tentang kejadian di kontrakannya beberapa waktu yang lalu. Tio meminta agar Susi segera pindah dari tempat itu.
"Tapi aku sudah terlanjur nyaman," ucap Susi.
"Apa kamu tidak takut, kalau maling itu balik lagi?" tanya Tio.
"Takut juga, tapi mau gimana lagi," kata Susi, masih membantah ingin tetap tinggal di kontrakan itu.
Tio ngomel-ngomel panjang lebar ke Susi, dia menjadi tidak tenang meninggalkan Susi di kontrakannya.
__ADS_1
"Kamu tinggal di rumah Mira dulu, bagaimana?" tanya Tio.
"Aku tidak enak sama Lian, nanti ganggu mereka," alasan Susi.
"Kamu keras kepala sekali," omel Tio. Dia lalu mengambil telepon genggamnya dari dalam saku dan segera menghubungi Lian untuk meminta izin agar Susi tinggal di rumahnya untuk beberapa hari ke depan.
Lian dan Mira mengizinkan Susi tinggal di rumahnya, justru mereka sangat senang karena mempunyai teman.
Mereka juga tidak terganggu dengan keberadaan Susi di rumahnya, Lian malah senang karena Susi sangat rajin dan bisa membantu Mira.
Susi bagi mereka juga sudah di anggap sebagai keluarga sendiri, tidak ada alasan bagi mereka untuk menolak Susi untuk tinggal di rumahnya.
"Sekarang ayo kita bereskan barang-barang kamu!" ajak Tio, tidak sabar untuk membawa Susi pergi.
"Apa boleh aku tinggal di rumah Mira sama Lian?" tanya Susi.
"Boleh, Lian malah nyuruh pindah sekarang," kata Tio.
Susi dan Tio lalu membereskan barang-barang Susi untuk di bawa pindah ke rumah Mira.
***
"Sayang, siapkan kamar untuk Susi!" kata Lian menyuruh Mira.
"Susi? memang dia mau tinggal di sini bareng kita?" tanya Mira.
"Iya, tadi Tio telepon. Dia bilang mau tinggal di sini untuk beberapa hari," jelas Lian.
"Biar Susi tidur di sebelah kamar kita saja, kan itu juga kosong," ucap Mira.
Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu dari luar rumah, Mira membuka pintu ternyata Aldo yang datang ke rumahnya.
"Aldo," ucap Mira.
"Mira, suami kamu ada di rumah tidak?" tanya Aldo.
"Ada, masuk dulu Do! aku panggil Lian sebentar," ucap Mira.
Mata Aldo memandang Mira, dengan tatapan sendu. Ingin rasanya dia memeluk tetapi bukan miliknya lagi.
Mira masuk ke dalam kamar dan memberitahukan pada Lian kalau ada Aldo. Lian segera menemui Aldo dan menanyakan maksud kedatangannya.
"Aldo, ada apa malam-malam kesini?" tanya Lian.
"Ini berkas buat besok, aku tidak bisa datang ke kantor kamu besok pagi," ucap Aldo.
"Kamu benar-benar mempercepat kerjasama dengan Sandra," ucap Lian.
"Iya, aku sudah pusing dengan Sandra. Tetapi dia cantik juga," ucap Aldo.
Lian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia heran dengan Aldo yang mudah terpengaruh dengan Sandra. Benar kali ini dia bilang mau menjauhi tetapi saat bertemu dengan Sandra sudah lain cerita.
__ADS_1
Mira datang dengan membawa kopi dan camilan buat Lian dan Aldo, lalu dia kembali ke kamar lagi. Dia tidak mau berlama-lama bertemu dengan Aldo karena menjaga perasaan Lian.
Mira sendiri sudah mati rasa dengan Aldo, jadi bertemu pun tidak akan berpengaruh dengan perasaannya.
Susi dan Tio akhirnya sampai juga di rumah Mira, dia membawa barang-barangnya.
"Kalian sudah datang, ayo masuk!" suruh Lian.
Susi langsung membawa barangnya ke dalam di bantu Tio, dia kemudian menemui Mira yang berada di kamarnya.
Sedangkan Tio dia duduk di ruang tamu bersama Aldo membahas masalah pekerjaan.
"Mira, maaf aku merepotkan kamu lagi," ucap Susi.
"Aku tidak repot, kamu sudah besar," kata Mira. Susi kamar kamu sebelah kamar ku saja ya?" Lanjutnya.
"Aku tidak mau, lebih baik aku tidur di kamar tamu saja," ucap Susi.
"Di sebelah kosong," ucap Mira lagi.
"Pokoknya tidak, aku gak mau ganggu kalian," ucap Susi.
"Ya sudah, kamu pilih saja kamar yang mana," ucap Mira, sambil tersenyum ke arah Susi.
Susi memilih untuk tidur di kamar tamu, tentunya yang agak jauh dari kamar Lian dan Mira.
Aldo juga sudah berpamitan pulang, karena Susi berada di rumah sendiri.
"Lian, titip Susi untuk beberapa hari ke depan," ucap Tio.
"Tapi aku tidak bisa mengurusnya," ucap Lian.
"Janganlah, biar aku saja yang mengurus. Kamu urus Mira saja," kata Tio.
Lian memang suka begitu kalau ngomong, untung Tio sudah paham.
"Aku juga tidak mau di urus Lian, yang ada nanti aku di suruh terus," sahut Susi.
Lian tertawa mendengar ucapan Susi.
"Aku mau mencari rumah dulu," ucap Tio.
"Di depan belum laku, Tio," ucap Lian.
"Jangan di sini, pasti harganya mahal," sahut Susi.
"Uang Tio banyak, kamu tidak perlu khawatir," kata Mira.
"Tapi, kita nanti masih banyak butuh biaya setelah menikah," ucap Susi.
"Kalian masih bisa kerja sesudah menikah," kata Lian.
__ADS_1
"Tabungan ku cukup kok untuk membeli rumah itu, asal harganya masih sama dengan rumah ini," kata Tio.
Lian dan Tio berencana untuk mengurus pembelian rumah itu.