
Halo semua apa kabarπ€π€
Happy Reading π
β€
"Susi, aku serius! apa jawaban kamu?" tanya Tio, sedikit memaksa Susi.
"Aku masih bingung, Tio," jawab Susi, menatap ke arah Tio, dia merasa tidak tega.
Pasar malam yang di kunjungi Tio dan Susi, suasana gemerlap lampu di tengah kota menciptakan keindahan malam ini, di mana Tio sedang mengungkapkan perasaannya kepada Susi.
"Apa yang kamu khawatirkan?" tanya Tio lagi, sepertinya dia memang tidak akan menyerah begitu saja.
"Yang aku takutkan, kamu permainkan aku nantinya... " ucap Susi lirih.
"Itu tidak akan terjadi, asal kamu tau aku sudah lama menyimpan rasa kepada mu," jelas Tio,
"Tio, apa kamu juga yakin akan menerima aku apa adanya? aku bukan orang kaya, aku orang kampung, apa nantinya tidak akan membuat kamu malu?" tanya Susi, memberanikan diri bertanya pada Tio. Dia takut orang tua Tio membandingkan status sosialnya.
Tio terus meyakinkan Susi, dia benar-benar tidak akan melepaskan Susi malam ini. Mereka berjalan hampir memutari pasar malam itu, tetapi Susi belum memberikan jawaban. Susi sudah merasa lelah berjalan, lalu dia mengajak Tio untuk duduk dan memesan minuman. Tetapi Tio masih kelihatan gelisah menunggu jawaban dari Susi.
"Tio, sebenarnya aku juga...
Ucapan Susi terpotong saat Mira datang menyapa mereka, Tio mengacak rambutnya yang tidak gatal sedangkan Lian tersenyum melihat mereka.
"Kalian berdua ada di sini?" tanya Mira, yang tiba-tiba datang.
"Mira, tadi kita tidak bareng saja berangkatnya," ucap Susi.
"Ayo sayang kita kita ke sana!" ajak Lian, sebelum Tio marah padanya.
"Tio, Susi kita duluan!" pamit Mira, sambil menggandeng tangan Lian dengan mesra.
"Iya, sana kalian pergi!" usir Tio, melotot ke arah Lian yang dari tadi tersenyum melihatnya.
Mira dan Lian akhirnya meninggalkan Susi dan Tio, mereka naik wahana yang ada di pasar malam, karena Mira ingin mencobanya.
"Galak banget kamu, kalau banyak teman itu rame, Tio," ucap Susi, jantungnya masih berdetak.
__ADS_1
"Mereka hanya akan menggangu kita, sekarang kamu jawab pertanyaan aku," kata Tio, menagih jawaban Susi lagi.
"Aku, mau jadi pacar kamu Tio... " ucap Susi lirih.
Tio sangat bahagia mendengar jawaban Susi, dia sangat lega cinta yang dia pendam selama ini tidak bertepuk sebelah tangan, reflek Tio langsung memeluk Susi, tidak ada balasan dari Susi.
"Maaf, aku sangat bahagia," ucapnya, menggenggam tangan Susi.
Susi hanya tersenyum bahagia, akhirnya dia sudah tidak jomblo lagi. Mereka kembali berjalan dengan bergandengan tangan di pasar malam itu.
"Sepertinya ada yang berbahagia malam ini," ucap Lian, dia dan Mira kebetulan berjalan di belakang Susi dan Tio.
Karena mendengar suara orang yang mereka kenal Susi dan Tio melepaskan tangan mereka, lalu menoleh ke belakang.
"Mira, Lian!" kaget Susi.
"Kita ngikutin kalian dari tadi," ucap Mira, dia hanya berbohong dengan temannya itu.
"Lian, kamu dari tadi senyum terus!" ketus Tio.
"Senyum itu ibadah, jadi boleh, kan?" ucap Lian.
"Ayo kita pulang saja, Tio!" ajak Susi, dengan wajah malu-malu.
"Kamu kenapa, kok diam saja?" tanya Tio, karena Susi biasanya banyak bicara.
"Aku masih malu sama Mira dan Lian," jawab Susi.
"Kenapa mesti malu? kan mereka juga pernah muda, bahkan kamu juga sering melihat mereka berduaan," ucap Tio, tersenyum ke arah Susi.
Hati Susi saat ini benar-benar berbunga-bunga, dia sangat beruntung mendapatkan seorang Tio yang sangat perhatian dan selalu ada di saat dirinya membutuhkan bahkan sebaliknya.
***
Aldo hari ini tidak berangkat ke kantor, dia menjaga Lisa di rumah karena masih dalam masa pemulihan.
"Lisa, ayo makan dulu! kamu harus minum obat," ucap Aldo, memberikan semangkok bubur buatannya untuk Lisa.
"Aku belum mau makan," ucap Lisa.
"Kalau kamu malas makan kapan sembuh? ayo makan dulu, biar aku suapin!" ucap Aldo, menyodorkan satu sendok bubur ke mulut Lisa. Dengan senang hati Lisa menerimanya.
__ADS_1
"Ternyata Aldo perhatian juga," ucap Lisa, dalam hati.
Aldo menyuapkan bubur itu sampai habis, lalu mengambilkan obat untuk Lisa, hari ini Aldo benar-benar berubah, baru kali ini Lisa mendapatkan perhatian dari Aldo.
"Terimakasih, Do," ucap Lisa.
"Buat apa?" tanya Aldo, sambil menatap ke arah Lisa.
"Kamu sudah memperhatikan aku, merawat ku disaat aku seperti ini," ucap Lisa.
"Ini sudah kewajiban aku, Lisa," jawab Aldo, berlalu pergi ke dapur untuk menaruh mangkok yang kotor.
Aldo kembali lagi ke kamar Lisa, dia menemani Lisa lagi.
"Jujur aku belum bisa membuka hatiku untukmu, tetapi aku akan membatalkan perjanjian nikah kontrak kita," ucap Aldo, sebenarnya dia ingin memulai hidup baru dengan Lisa karena Mira sudah tidak mungkin bisa dia harapkan lagi.
"Kamu serius dengan keputusanmu? kamu juga tidak menyesal nanti, Do?" tanya Lisa, merasa ucapan Aldo hanya mimpi.
"Tidak akan, kita jalani saja semoga kita berdua bisa berdua selamanya," ucap Aldo, sambil tersenyum ke arah Lisa.
Lisa masih memikirkan ucapan Aldo, dia takut Aldo berubah pikiran karena sifatnya yang plin-plan. Dalam hatinya juga masih bertanya-tanya soal Sandra. Wanita yang setau Lisa saat ini dekat dengan Aldo. Dia ingin memastikan dulu kedekatan Aldo dengan Sandra.
"Aldo, aku setuju kamu batalkan surat perjanjian itu," ucap Lisa, ingin melihat keseriusan Aldo.
"Besok kalau kamu sudah sembuh, kita temui pengacara ku di kantor," jelasnya, penuh dengan keyakinan.
Kadang kita memang perlu menunggu seseorang untuk berubah, walaupun membutuhkan pengorbanan dan perasaan yang akan terasa sakit lebih dahulu. Tetapi lain halnya jika sudah ada kecewa mau orang itu berusaha sekuat apapun pasti terabaikan.
Semoga Lisa masih bisa menerima Aldo, setelah mengetahui apa yang Aldo lakukan dengan Sandra.
Aldo saat ini berencana menyerahkan proyek Sandra sepenuhnya kepada Lian, tetapi Lian tidak sebodoh itu, dia menolak proyek dari Aldo karena dengan alasan yang dibutuhkan adalah desain Aldo, jadi yang berhak menerima Aldo sendiri sedangkan Lian hanya membantu.
"Aldo, aku tidak bisa mengerjakan sendiri karena di kantor pekerjaan ku juga numpuk," tolak Lian, saat Aldo menawarkan proyek itu.
"Proyek itu harus segera aku lepas, Lian! aku mau memulai hidup baru dengan istriku," ucap Aldo, sedikit menyesal karena menerima proyek dari Sandra.
Lian memberi nasehat lagi pada Aldo agar mempertimbangkan lagi kalau menerima pekerjaan, resiko juga perlu di pikirkan.
Bersambung...
...β€β€β€β€β€...
__ADS_1
Terimakasih buat yang sudah membaca dan mendukung π
Jangan lupa baca juga karya saya yang berjudul "SAHABAT" menceritakan tentang kebersamaan ketiga orang sahabat yang selalu bersama-sama dalam keadaan suka maupun duka walaupun mereka bertiga berbeda sifat dan sikap π€β€