
Mira harus menelan kenyataan pahit, hari ini dia mendapat kabar dari dokter kalau harus menunda kehamilannya, karena kandungnya bermasalah sejak kejadian yang menimpanya.
Dia harus menjalani pengobatan dan menunggu sampai pulih kembali, Mira merasa bersalah dengan suaminya.
"Lian, maafkan aku yang gagal memberimu keturunan," ucap Mira dengan wajah sedihnya.
"Masih ada kesempatan, sayang. Kamu jangan bersedih lagi, apapun keadaan kamu kita lalui bersama," ucap Lian menenangkan Mira.
"Tapi, aku yang salah tidak bisa menjaga buah hati kita dengan baik," ucap Mira lagi.
"Sayang, sudah jangan sedih. Kita langsung pulang saja, kamu harus banyak istirahat!" ajak Lian, karena mereka saat ini baru saja selesai menemui dokter kandungan.
Susi di rumah sudah menunggu Mira, dia tidak berangkat ke cafe karena memilih menjaga Mira sampai benar-benar pulih.
Mondar-mandir ke sana ke mari yang dilakukan oleh Susi sekarang, sampai Tio menegurnya.
"Kamu bisa tenang tidak?" tanya Tio.
"Aku menghawatirkan keadaan Mira, Tio," jawab Susi.
"Sambil duduk juga bisa, kan?" kata Tio.
"Iya tapi, aku tidak tenang," ucap Susi.
"Dasar perempuan kalau ada apa-apa selalu panik, tidak bisa tenang," gerutu Tio.
Susi menoleh ke arah Tio yang menggerutu, memang sudah jadi kebiasaan kalau Susi dan Mira panik mondar-mandir gak jelas.
Mira dan Lian akhirnya sampai di rumah, Lian menyuruh Mira untuk istirahat dulu tetapi Susi sudah memberondong pertanyaan.
"Mira, akhirnya kamu sudah pulang. Bagaimana keadaan rahim kamu? apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Susi.
"Mira butuh istirahat yang cukup, Susi," Lian yang menjawab pertanyaan Susi.
Susi kemudian membawa Mira ke dalam kamarnya, agar Mira bisa istirahat.
"Mira, aku sangat khawatir dengan keadaan kamu," ucap Susi.
"Aku baik-baik saja, dokter meminta ku untuk menunda kehamilan dulu," kata Mira.
"Sekarang lebih baik kamu istirahat, aku ke depan dulu!" pamit Susi.
Mira kemudian merebahkan tubuhnya, dia merasa sangat menyesal karena tidak bisa menjaga bayinya dengan baik.
__ADS_1
Susi membuatkan kopi untuk Lian dan Tio, dia tau kalau Lian sangat kelelahan karena selain mengurus Mira dia juga harus berkerja.
***
Sejak ditinggalkan oleh Sandra, Aldo tampak murung dan kurang fokus dalam berkerja. Padahal hari ini berkas di meja kerjanya sudah menggunung.
"Pak, ada orang yang ingin bertemu dengan bapak," ucap Lina.
"Suruh masuk!" ucap Aldo.
"Baik pak," kata Lina, keluar dari ruangan Aldo lalu memanggilkan orang yang ingin bertemu Aldo.
Tamu itu adalah Tio, dia di suruh oleh Lian untuk menanyakan kelanjutan proyek mereka. Sudah seminggu proyek itu terhenti karena Aldo tidak memberi penjelasan.
"Siang, Aldo," sapa Tio.
"Iya, siang. Mari silahkan duduk!" kata Aldo.
Tio kemudian duduk di depan meja kerja Aldo, sebenarnya Tio malas mengurus proyek tertunda seperti ini, tetapi demi Lian dia mau melakukannya dengan terpaksa.
"Kedatangan ku ke sini karena di suruh oleh Lian, untuk menanyakan soal kelanjutan proyek mall," jelas Tio.
"Oh... aku belum bisa melanjutkan lagi, tolong bilang ke Lian," ucap Aldo dengan gugup.
"Kalau begitu pihak kita menganggap proyek itu selesai, kita tidak ada waktu untuk menunda pekerjaan," jelas Tio.
"Ini pekerjaan jadi mohon yang serius, perusahaan kita rugi waktu kalau selalu mundur," kata Tio dengan tegas. Kita tidak menuntut ganti rugi apapun, karena atasan kita mengenal baik dengan anda," Lanjutnya.
Aldo terdiam, memikirkan kembali ucapan Tio. Kalau Lian sudah menyerahkan ke bawahnya berati dia tidak main-main akan menghentikan proyek itu.
"Baiklah, saya mulai kerjakan besok. Mulai besok saya datang mengawasi ke lokasi langsung," kata Aldo.
"Kalau begitu saya pamit dulu! terimakasih atas penjelasannya," ucap Tio.
Tio akhirnya meninggalkan kantor Aldo, dia melanjutkan perjalanannya menuju cafe.
Aldo mengacak rambutnya, dia merasa pusing karena pekerjaannya bertambah. Belum berkas yang di meja kerjanya dan meeting untuk hari ini.
Lisa datang ke kantor Aldo membawakan makan siang, Lina yang melihat penampilan Lisa kaget.
"Bu Lisa kok jadi seperti itu, bukannya tambah cantik tapi seperti wanita pekerja malam," ucap Lina dalam hati.
Tanpa menyapa Lina yang dia lewati, Lisa langsung masuk ke ruangan Aldo.
__ADS_1
"Lisa, ada apa datang kesini? pekerjaan ku sangat banyak," ucap Aldo tetap fokus dengan pekerjaannya.
"Aku kesini hanya mengantarkan makan siang untukmu, Do," ucap Lisa.
"Terimakasih, letakkan di meja dulu. Aku belum sempat makan sekarang," kata Aldo.
Lisa merasa kasihan dengan Aldo, sebenarnya tadi niatnya datang ke kantor Aldo untuk meminta uang. Tetapi melihat keadaan Aldo saat ini dia mengurungkan niatnya.
Aldo melihat ke arah Lisa yang duduk di sofa, lalu menghentikan pekerjaannya dan memakan makanan yang dibawakan oleh Lisa.
"Aldo, boleh tidak aku datang ke rumah Nenek," tanya Lisa.
"Tidak, jangan menambah masalah lagi," larang Aldo, Lisa datang ke rumah Neneknya hanya akan meminta uang dan mengadukan hal tidak penting.
Kalau saja Clara tau pasti mereka akan ribut, bagi Aldo memang lebih baik Lisa tidak datang ke rumah Neneknya.
"Aku di rumah kesepian, Do. Kamu ngertiin aku," ucap Lisa.
"Lisa, pekerjaan aku banyak kamu jangan menambah lagi," kata Aldo. Kamu mau apa? uang?" tanya Aldo.
Lisa merasa Aldo sudah mencurigai niatnya, dia akhirnya mengelak.
"Tidak, kamu jangan berfikiran buruk sama aku," kata Lisa.
"Silahkan kalau kamu mau mencari hiburan, tetapi jangan menginjakkan kaki ke rumah Nenek," ucap Aldo dengan kesal.
Aldo melanjutkan pekerjaannya lagi, sedangkan Lisa sibuk dengan ponselnya menunggu Aldo yang sedang berkerja.
"Pak, sebentar lagi ada meeting," ucap Lina, memberitahukan pada Aldo biar bersiap-siap.
"Iya, saya ke sana!" kata Aldo, membereskan berkasnya lalu pergi ke ruang meeting.
Setelah Aldo keluar dari ruang kerjanya, Lisa berjalan ke meja kerja Aldo. Lisa penasaran dengan pekerjaan yang di kerjakan Aldo, Lisa membaca dan melihat berkas yang tadi Aldo kerjakan.
Lisa sangat terkejut, Aldo ternyata mendapatkan kontrak kerja dari orang yang paling terkenal di kota itu dan penghasilan Aldo pasti sangat menakjubkan.
"Ternyata Aldo pandai juga dalam berbisnis, pasti uangnya sangat banyak. Tetapi kenapa jatah bulanan aku sedikit," ucap Lisa dalam hati.
Lisa merapikan kembali berkas yang dia lihat tadi, lalu kembali duduk di sofa. Dia memikirkan cara agar jatah bulanannya bertambah.
"Lina, di mana ruang petugas keuangan perusahaan ini?" tanya Lisa.
"Maaf Bu, lebih baik tanya sama bapak. Karena beliau sangat tertutup," jawab Lina.
__ADS_1
"Aku istri pemilik perusahaan ini, kenapa kamu tidak mau memberi tahu?" tanya Lisa.
Lina tidak menjawab lagi pertanyaan Lisa, karena hanya akan menimbulkan masalah baru.