Mira

Mira
Bab 102


__ADS_3

Pulang dari kantor Lian melihat Mira yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Lian, Mira menceritakan apa yang baru saja terjadi di rumah tadi. Lian kesal mendengar cerita istrinya.


"Sayang, kamu jangan marah! percuma marah ke keluarga Aldo. Dari dulu tante Clara selalu baik dengan ku, tetapi sekarang Lisa tidak suka," ucap Mira.


"Lisa mungkin kurang perhatian sama mertuanya," kata Lian.


"Tante Clara dari dulu memang tidak suka dengan Lisa," ucap Mira.


"Kamu jangan terlalu dekat dengan Mamah Aldo, karena Lisa pasti tidak akan tinggal diam," kata Lian.


Mira juga sudah berusaha menolak dan tidak terlalu dekat, tetapi Clara sendiri yang sering menemui Mira.


Lian akan mengajak istrinya untuk liburan, agar Mira tidak terlalu sedih dan bosan di rumah. Tetapi Mira menolak karena sebentar lagi Susi akan menikah dan Mira ingin ikut ke rumah Susi.


"Kita liburan nanti saja sayang, setelah Susi menikah," ucap Mira.


"Ya sudah, asal kamu jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting," ucap Lian, kemudian tersenyum ke arah istrinya itu.


Pulang dari cafe Susi datang ke rumah Mira, dia ada perlu dengan Lian.


"Lian, bagaimana kalau kamu mencari pemasok sayur lagi?" tanya Susi.


"Tidak bisa Susi, aku sudah terlanjur kontrak satu bulan," jelas Lian.

__ADS_1


"Lian, kenapa tidak di cek dulu barangnya?" tanya Susi.


"Katanya kemarin bagus, makanya aku langsung tanda tangan kontrak," jelas Lian.


Susi menunjukan foto-foto sayuran yang tadi datang, sayuran itu sudah ada sebagian yang layu dan ada yang sudah menguning.


"Kita perlu protes kalau begini," sahut Mira.


"Semua ini gara-gara Lian, yang asal setuju tanpa ada di cek dulu," kata Susi.


Lian protes tidak mau disalahkan karena yang mencari penyetor sayur bukan cuma dia, tetapi Tio juga ikut.


Susi kemudian menelpon Tio, dia memarahi Tio karena dia juga salah.


"Mira, suami kamu memang perlu dikasih pelajaran," kata Susi.


"Kasih saja, Susi," ucap Mira, sambil tersenyum.


Tak lama kemudian Tio datang juga ke tempat Lian, dia membawakan makanan ringan untuk mereka.


"Ada apa menyuruhku kesini?" tanya Tio, yang baru saja datang.


"Duduk dulu, Tio!" suruh Mira.


Susi terlihat diam, setelah Tio duduk dia baru menjawab pertanyaan Tio.

__ADS_1


"Tio, kenapa kamu memilih penyetor sayur di cafe tidak di cek dulu?" tanya Susi.


"Itu Lian sudah setuju, harganya juga separoh dari yang kemarin," ucap Tio dengan santai.


"Tio!" teriak Susi.


"Kenapa teriak? tanya saja sama Lian," kata Tio.


Susi kembali memarahi mereka berdua lagi dan meminta ganti penyetor sayur yang lain.


"Kenapa masalah selalu datang silih berganti," keluh Lian.


"Sabar, semua akan indah pada waktunya," ucap Tio, yang langsung mendapatkan tatapan dari Susi.


"Begini saja, sayuran yang layu bisa kita berikan ke peternakan hewan dekat taman kota," ucap Mira.


"Kita akan rugi, besok aku urus," ucap Lian.


"Bagaimana kita besok buka cafe kalau sayur saja tidak ada," kata Susi.


"Kita tutup saja besok," kata Lian.


Susi tidak setuju dengan ide Lian, dia memilih untuk tetap membuka cafe dan belanja sayur sendiri. Mira setuju dengan pendapat Susi, dia berencana ikut membantu Susi ke cafe.


Lian kali ini tidak melarang Mira, dia serba salah kalau Mira berada di rumah sendiri pasti ada saja yang mendatanginya.

__ADS_1


__ADS_2