
"Pergi dari rumahku!" usir mamah Lisa. Aku tidak mau ribut dengan kamu, sudah ku bilang Mira tidak ada di sini," Lanjutnya.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Mira, awas kamu!" ancam Lian lalu meninggalkan rumah mamah Lisa.
"Seenaknya aja ke rumah orang nyari istrinya, emang aku maling apa," gerutu mamah Lisa sembari membanting pintu dengan keras.
Lian menjadi sangat panik kemudian melajukan kendaraannya dengan kencang menuju cafe lagi, Mira juga tidak ada. Telepon genggam Mira juga tidak bisa di hubungi.
Mira saat ini sedang berada di rumah, karena merasa lelah dia tertidur di sofa ruang tamu. Dia juga lupa tidak memberi kabar Lian. Padahal Lian masih bingung mencarinya.
Sore hari Mira baru terbangun dari tidurnya, lalu menghidupkan telepon genggamnya, betapa terkejut saat di buka ratusan panggilan bahkan puluhan pesan dari Lian. Mira segera menghubungi Lian kembali, tetapi tidak di jawab, karena Lian saat ini sedang berada di jalan menuju rumah.
Mira khawatir dengan suaminya, dia merasa bersalah karena pergi tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
"Dari mana saja kamu?" tanya Lian, sedikit emosi karena bingung mencari Mira.
"Lian, maafkan aku. Aku bisa jelaskan," ucap Mira.
Lian duduk di samping istrinya dan mendengarkan penjelasan dari istrinya.
"Lain kali kalau mau melakukan sesuatu tanya dulu, jangan asal pergi. Kalau terjadi sesuatu bagaimana," ucap Lian meluapkan kekesalannya.
Mira menundukkan kepalanya, dia benar-benar merasa bersalah dengan suaminya itu. Lian sendiri juga tau bagaimana Mira kalau lagi sedih, dia tidak akan pernah tega untuk marah sebenarnya.
"Sayang, aku tidak mau kamu kenapa-napa kalau pergi tolong bilang dulu lain kali," ucap Lian. Atau aku cari sopir pribadi buat kamu," Lanjutnya.
"Tidak perlu Lian, lain kali aku bilang kok. Lagian kalau ada sopir nanti pendapatan kita berkurang," kata Mira.
"Keselamatan kamu lebih utama, kenapa mikir pendapatan?" tanya Lian.
"Kita susah-susah mencari uang, jangan dihamburkan untuk hal yang tidak bermanfaat," kata Mira.
"Mira, kenapa kamu ngeyel terus! kamu adalah tanggung jawab aku sekarang," ucap Lian.
__ADS_1
"Kalau sopirnya itu masih muda dan ganteng terus suka sama aku bagaimana? apa itu juga menjaga keselamatan ku?" tanya Mira.
"Memangnya kamu mau? pasti menolak kan?" ucap Lian.
"Perasaan itu tidak ada yang tau Lian, kita mau suka sama siapa," ucap Mira. Seperti kita dulu, kamu sangat menyebalkan sekarang malah jadi suamiku," Lanjutnya.
"Itu karma namanya, karena kamu benci sama aku sekarang jadi cinta," ucap Lian.
Mira melemparkan bantal kursi yang ada di ruang tamu ke arah Lian, lalu meninggalkan suaminya masuk ke dalam kamar. Dan entah apa yang terjadi dengan kedua pasangan suami istri itu.
🌾🌾🌾
Tio hari ini resmi melamar Susi, kedua keluarga itu tengah berbahagia saat ini. Orang tua Tio dengan senang hati menerima kekurangan keluarga Susi. Mereka bukan orang yang menilai dengan kekayaan atau materi. Justru mereka senang dengan kesederhanaan keluarga Susi, apa adanya.
Walaupun orang berada keluarga Tio sangat kagum dengan keluarga Susi, yang benar-benar berkerja keras demi mencukupi kebutuhan hidup.
Tetapi ibu Susi masih khawatir dengan Susi kedepannya nanti, kalau keluarga Tio berubah.
"Ibu khawatir dengan kakak kamu, Leny," ucap Ibunya saat berdua dengan Leny adik Susi.
"Itu sekarang, yang ibu takutkan nanti kalau sudah menjadi istrinya. Tio orang kaya kalau kakak kamu di siksa karena miskin bagaimana? seperti di tv itu," ucap Ibu Susi.
"Ibu kebanyakan nonton sinetron jadi begini kan, buktinya kak Mira menikah dengan orang kaya dia juga di belikan rumah, cafe, bahkan suaminya sangat menyayanginya," jelas Leny.
Leny kemudian menasehati ibunya agar tidak terlalu memikirkan Susi, karena Susi sudah dewasa dan tau mana yang terbaik untuk dirinya.
"Semoga saja kakak mu bahagia, ibu hanya khawatir saja Leny," ucap ibunya.
Orang tua mana yang tidak ingin melihat anak-anaknya bahagia, pasti semua ingin yang terbaik. Kebahagiaan orang tua terletak pada anaknya, wajar saja jika rasa khawatir menyelimuti seorang ibu.
Acara lamaran sudah selesai, orang tua Tio juga sudah kembali ke kota. Sekarang tinggal keluarga Susi dan Tio yang berkumpul di rumah Susi.
"Nak, boleh ibu bicara sebentar?" tanya Ibu Susi pada Tio.
__ADS_1
"Boleh Bu," jawab Tio singkat.
"Ibu harap kamu bisa menjaga Susi dengan baik, Nak. Dari kecil anak itu sudah berkerja demi membantu keluarga, walaupun kita bukan orang berada ibu minta jangan pernah sakiti Susi," pesan Ibu Susi pada Tio.
"Tio sangat menyayangi Susi bu, apapun yang terjadi kita akan tetap bersama. Tio akan jaga Susi sekuat tenaga, ibu jangan khawatir," jelas Tio.
Ibu Susi mempercayakan Susi dengan Tio, kalau sampai terjadi apa-apa ibu Susi pasti akan Kecewa.
"Jangan kecewakan kita, Nak," ucap Ibunya lagi.
Tio sangat berterimakasih karena sudah mempercayainya, dia juga berjanji akan menjaga Susi dan selalu menyayanginya.
Keesokan harinya Tio dan Susi berpamitan untuk kembali ke kota, karena tak terasa sudah tiga hari mereka meninggalkan pekerjaannya.
Pekerjaan Tio di kantor pasti sudah menumpuk, walaupun ada yang mengerjakan dia perlu meneliti ulang.
"Susi, apa tidak sebaiknya kamu di rumah dulu sampai hari pernikahan kalian," ucap Ibu Susi.
"Bu, pekerjaan Susi bagaimana? kasihan Mira juga kalau terlalu lama," ucap Susi.
"Apa yang dikatakan ibu ada benarnya, pernikahan kita tinggal tiga bulan lagi," sahut Tio.
"Lama sekali itu, aku tidak mau jadi pengangguran," ucap Susi.
"Susi, tiga bulan bukan waktu yang lama, kamu di rumah bisa membantu ibu terlebih dahulu," kata Tio.
"Pokoknya aku tetap ingin ke kota dulu, lumayan gaji aku bisa buat modal pernikahan kita," Susi menolak untuk tinggal di desa terlebih dulu, karena biaya pernikahan yang dia pikirkan saat ini.
"Aku sudah menanggung semua, kamu tidak perlu khawatir," ucap Tio.
"Tio, aku tidak mau tergantung dengan kamu, masalah biaya pesta di desa itu tanggung jawab keluarga ku," terang Susi.
"Iya, Nak Tio. Ucapan Susi ada benarnya dan itu sudah adat di desa kita," sahut ibu Susi.
__ADS_1
Dengan berat hati ibu Susi mengizinkan Susi kembali ke kota terlebih dahulu, Ibu Susi juga memikirkan biaya pernikahan Susi nantinya. Semua juga dari tabungan Susi, hasil ladang hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari. Beruntung Leny adalah anak yang pintar, jadi biaya sekolah sebagian sudah di tanggung pihak sekolah.
Susi dan Tio akhirnya pamit untuk kembali ke kota, karena pekerjaan masing-masing sudah menanti kedatangannya.