Mira

Mira
Bab 69


__ADS_3

Aldo mencoba berbicara dengan Sandra, soal proyek yang dia kerjakan. Karena Lian hanya bisa membantu dan tidak mau mengambil alih.


"Sandra, ada yang ingin aku bicarakan," ucapnya, saat menemui Sandra di apartemen milik Sandra.


"Bicara soal apa? ada masalah?" tanya Sandra, duduk di sebelah Aldo.


"Aku sudah tidak bisa mengerjakan proyek itu, bagaimana kalau kamu mencari orang untuk meneruskan," ucap Aldo, membuat Sandra marah.


"Apa? aku sudah mempercayakan sama kamu, kenapa kamu sekarang baru bilang tidak bisa!" marah Sandra, kesal dengan Aldo.


"Sandra, tolong mengertilah! aku ingin memulai hidup baru dengan istriku," Aldo mengutarakan Alasannya, kenapa dirinya mau berhenti mengerjakan proyek.


"Ini semua tidak ada hubungannya dengan istri kamu, aku tidak mau tau pokoknya proyek itu harus segera kamu selesaikan! kalau tidak aku akan menuntut kamu!" ucap Sandra, dengan sedikit kecewa pada Aldo.


Kali ini Aldo tidak berhasil membujuk Sandra, kalau di tuntut perusahaan Aldo akan rugi besar. Dan yang menanggung dia sendiri karena sudah di anggap tidak profesional dalam menerima proyek. Kualitas perusahaan yang dia bangun dengan susah payah juga akan hancur, terpaksa dia akan melanjutkan proyek itu lagi.


Setelah menemui Sandra, Aldo kembali ke kantor Lian dia ingin membicarakan kembali soal proyek ini.


"Lian, aku bingung bagaimana cara menyelesaikan proyek ini agar cepat," ucapnya, memijat keningnya yang terasa pusing.


"Mau tidak mau kita kerjakan dengan jangka waktu yang cukup lama," kata Lian.


"Kamu enak bisa menyuruh orang untuk mengawasi, sedangkan aku harus terjun langsung," ucap Aldo lagi, menyenderkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang kerja Lian.


"Semua sudah resiko kamu, dapat bonus juga dari Sandra," ledek Lian.


"Pusing aku!" ucap Aldo, lalu pergi dari kantor Lian.


Aldo kembali ke kantornya untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


🖤🖤🖤


Tio berencana untuk melamar Susi secepatnya, dia sudah tidak mau menunda-nunda lagi hari bahagia yang dia nantikan.


Saat ini dia sedang berada di sebuah toko perhiasan, yang tak lain adalah tempat Susi berkerja dulu. Pilihan Tio adalah perhiasan model terbaru yang tentunya limited edition, dia ingin memberikan yang terbaik buat Susi.


Tio lalu menemui Susi di cafe, dia mengutarakan maksudnya dan akan mengajak Susi pulang kampung lagi.


"Kenapa waktunya cepat sekali, Tio?" tanya Susi, tak menyangka Tio akan melamarnya secepat ini.

__ADS_1


"Aku tidak mau menunda-nunda lagi, nanti kamu berubah pikiran," jawab Tio, tersenyum ke arah Susi.


"Jujur aku bahagia sekali, tak menyangka kamu benar-benar serius sama aku, Tio," ucap Susi, wajahnya memancarkan sebuah kebahagiaan.


Kedua insan itu tidak sadar kalau ada yang memperhatikan kemesraan mereka, siapa lagi kalau bukan teman-teman Susi berkerja.


"Mbak, pesanan meja nomer sepuluh sudah jadi belum?" tanya salah satu teman kerja Susi.


"Itu ada di meja," jawab Susi, menunjukkan makanan itu.


"Pesanan aku mana?" tanya Tio.


"Masak sendiri," jawab Susi.


"Jam lima ada yang pesan makanan kira-kira seratus, bagaimana Susi? kita kerjakan atau di tolak?" tanya Mira, karena takut waktu tidak keburu Mira tanya ke Susi lebih dulu.


"Mira, kalau ada rezeki sedikit apapun harus kita terima, kita syukuri, jadi terima saja! ayo kita kerjakan!" jawab Susi.


Setiap ada pekerjaan Susi yang paling semangat mengerjakan, karena dia sangat menghargai dan bertanggung jawab. Sebelum memulai mengerjakan pesanan tak lupa dia membuatkan makanan untuk Tio terlebih dahulu.


"Aku cari di kantor tidak ada, ternyata kamu di sini," ucap Lian, yang baru datang menepuk pundak Tio.


"Bukannya tadi aku sudah bilang, kenapa nyari?" tanya Tio, baru juga mau makan sudah ada Lian yang datang mengganggu.


"Silahkan, pak! ucap salah satu karyawan, yang datang membawakan makan dan minum untuk Lian.


"Terimakasih, mbak! tolong panggilkan Mira ya!" ucapnya pada karyawan itu.


"Baru juga aku mau minta cuti, aku ingin segera melamar Susi," sahut Tio, menjelaskan maksudnya untuk meminta cuti.


"Kapan itu? tapi lebih cepat lebih bagus," ucap Lian, yang sangat setuju dengan keputusan Tio.


"Minggu depan saja, kalau rencana besok pagi," ucap Tio, sembari bercanda.


Lian melirik ke arah Tio, mereka berdua tertawa padahal tidak ada yang lucu.


Mira datang ke meja itu menemui suaminya, Lian menyuruh duduk Mira.


"Sayang, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Lian, menatap ke arah istrinya.

__ADS_1


"Habiskan dulu makanan kamu!" ucap Mira, melihat Tio dan Lian belum selesai makan.


"Gimana mau selesai, suami kamu dari tadi ngajakin ngomong gak jelas," sahut Tio.


"Kalian berdua yang tidak jelas," ucap Mira. Makan dulu jangan ngomong terus!" Lanjutnya.


Lian dan Tio segera menghabiskan makanan itu, mereka makan dengan sangat lahap dan tak tersisa. Masakan Susi dan Mira benar-benar enak, karena mereka hanya menyisakan piring dan sendok nya hehehe....


Lian lalu memulai berbicara dengan Mira, dia ingin menyelesaikan proyek di luar kota selama satu minggu dengan Tio. Mira sebenarnya berat untuk melepaskan Lian pergi, dia ingin ikut tetapi memikirkan bagaimana keadaan cafe kalau dia tinggalkan.


"Hanya satu minggu sayang, karena minggu depan Tio dan Susi juga akan cuti," ucap Lian, meminta izin kepada Mira.


"Aku sendiri lagi dong," keluh Mira.


Tio memberikan ide kepada Mira, agar ikut ke rumah Susi. Lian melotot ke arah Tio, karena pekerjaan Lian benar-benar banyak, apalagi kalau Tio tidak masuk kerja.


"Sayang, jangan terpengaruh sama Tio," ucap Lian, kalau Mira ikut ke tempat Susi dia juga bakal ikut dan pekerjaan akan terbengkalai.


Mira masuk ke dalam dapur cafe, dia mau membantu Susi menyiapkan pesanan buat nanti jam lima. Lian mengira kalau Mira sedang marah padanya, Lian menyalahkan Tio. Akhirnya keduanya berdebat seperti anak kecil yang berebut mainan.


"Salah kamu sendiri mau pergi ke luar kota istri tidak di ajak," ucap Tio.


"Namanya pergi juga kerja, bukan liburan," kata Lian, membela diri.


"Begini Lian, kalau aku biar Mira ikut saja sekalian dia jalan-jalan," ucap Tio.


"Tidak, aku mau mengurus cafe biar dapat uang yang banyak," sahut Mira. Aku ingin pergi ke negara prancis yang ada menara eiffel kalau uangku sudah banyak," Lanjutnya.


Mira membereskan meja yang di tempati Lian dan Tio, karena masih ada piring yang tersisa.


"Kamu dengarkan, Tio? istriku bilang apa?" ucap Lian.


"Mira baru bangun tidur, Lian," kata Tio, meledek Mira.


"Aku juga ikut Mira," sahut Susi yang baru datang.


Mereka semua tertawa melihat Tio yang langsung diam.


Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih buat yang sudah membaca dan mendukung 🙏


Jangan lupa baca juga karya saya yang berjudul "SAHABAT" menceritakan tentang kebersamaan ketiga orang sahabat yang selalu bersama-sama dalam keadaan suka maupun duka walaupun mereka bertiga berbeda sifat dan sikap 🤗❤


__ADS_2