Mira

Mira
Bab 92


__ADS_3

Lian tidak bisa berkata apa-apa saat ini, dia langsung memeluk tubuh Mira.


"Ceritakan apa yang terjadi sebenarnya," ucap Lian.


"Aku tadi terpeleset, Lian," ucap Mira berbohong.


"Kenapa bisa? kamu tau tidak, kalau kita baru saja kehilangan calon buah hati kita," kata Lian, dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak mungkin... " ucap Mira lirih.


Penyesalan yang teramat dalam saat ini yang sedang Mira rasakan, kalau saja tadi dia tidak mengizinkan Aldo masuk ke dalam rumahnya semua pasti tidak akan terjadi.


Mira ingin berkata jujur dengan Lian, tetapi dia memikirkan kalau Nenek Aldo sudah tua. Kalau sampai Lian menuntut Mira tidak tega. Dia bingung harus berkata apa pada suaminya, hanya menangis dan menangis yang dia lakukan.


Lian sangat kecewa dengan Mira, karena tidak menjaga buah hati mereka dengan baik. Tetapi dia tidak bisa mengalahkan Mira karena belum mengetahui soal kehamilannya.


Karena kesibukannya Lian sampai lupa memperhatikan istrinya, dia juga menyesal telah menyerahkan cafe ke Mira.


"Maafkan aku, Lian. Tidak bisa menjaga anak kita dengan baik," ucap Mira, sembari mengelus perutnya.


"Semua ini salah ku juga, tidak menjaga kamu dengan baik," kata Lian penuh penyesalan.


Lian memeluk istrinya dan memenangkan agar tidak Mira lebih tenang dan tidak larut dalam kesedihan.


***


Tio memberitahu Susi kalau Mira sedang di rawat di rumah sakit, dia lalu bergegas meminta Tio untuk mengantarkan ke rumah sakit di mana Mira di rawat.


"Tio, Mira kenapa? kok bisa di bawa ke rumah sakit, tadi pagi dia baik-baik saja," ucap Susi dengan rasa khawatir.


"Aku tidak tau, Lian hanya memberitahu kalau sedang berada di rumah sakit," kata Tio.


"Cepat antar aku ke sana!" kata Susi.


Tio melajukan kendaraannya dengan kencang, karena Susi sudah ngomel tidak jelas.


"Kenapa macet lagi," gerutu Susi.


"Sabar, namanya juga jalan di kota," kata Tio.


"Kamu juga sudah tau jalan di sini macet terus, kenapa lewat sini?" tanya Susi.


"Ini satu-satunya jalan mereka rumah sakit itu, salahkan saja Lian kenapa membawa Mira ke rumah sakit yang jalannya macet begini," ucap Tio.


"Apa lebih baik aku turun saja dan jalan kaki," kata Susi.

__ADS_1


Tio diam tidak menjawab ucapan Susi lagi, dia justru fokus dengan mobilnya.


Beberapa menit kemudian mereka sampai juga di rumah sakit, Susi bergegas langsung masuk ke dalam ruangan di mana Mira di rawat.


"Mira, apa yang terjadi?" tanya Susi, memeluk Mira.


Dengan berat Mira menceritakan kalau dia habis keguguran, matanya kembali berkaca-kaca saat ingat pertemuannya dengan Aldo dan waktu nenek mendorongnya.


Susi menghapus air mata Mira yang mengalir di kedua pipinya. "Kamu harus kuat, mungkin belum rezeki," ucapnya.


Mira sebenarnya ingin menceritakan semua dengan Susi, tetapi ada Lian dan Tio. Dia mengurungkan niatnya, walaupun sebenarnya bingung dan di selimuti rasa bersalah.


"Lian, kamu istirahat saja dulu! biar aku yang menjaga Mira," ucap Susi.


"Aku ngerti perasaan kalian saat ini, kamu juga butuh istirahat, Lian," sahut Tio.


Lian masih terpukul dengan kejadian ini, Tio mengajak Lian untuk keluar untuk menghilangkan penat.


"Kenapa semua ini terjadi dengan aku dan Mira," kata Lian.


"Ikhlaskan, itu semua sudah kehendak yang di Atas," ucap Tio.


Tio terus menghibur Lian dan memberinya semangat, dia juga merasa sedih atas kejadian ini.


***


"Lisa, kamu jangan sedih lagi! perempuan miskin itu sudah Nenek beri pelajaran," ucap Nenek Aldo.


"Maksud Nenek?" tanya Lisa.


"Nenek tadi datang ke rumah Mira, sudah Nenek beri peringatan agar tidak mengganggu Aldo lagi," jelas Nenek.


"Kenapa Nenek datang ke sana? nanti kalau Aldo tau pasti akan marah dengan Lisa," ucap Lisa, dengan wajah khawatir.


"Jangan memikirkan hal itu, kalau Aldo marah nanti Nenek yang berhadapan dengannya," ucap Nenek.


Di balik pintu ada Clara yang mendengar percakapan Lisa dan Nenek Aldo, dia berusaha tenang dan akan mencari tau sendiri apa yang sebenarnya telah terjadi.


Clara diam-diam pergi dari rumah itu dan menuju ke tempat Aldo.


"Ada apa mah?" tanya Aldo. Kenapa mamah tidak bilang kalau mau datang?" Lanjutnya.


"Istri kamu dimana?" tanya Clara.


"Lisa pergi dari rumah, dia salah paham dengan Mira," ucap Aldo.

__ADS_1


"Kenapa dengan Mira?" tanya Clara lagi.


Aldo menjelaskan semuanya dengan mamahnya, apa yang terjadi tadi. Clara begitu kecewa dengan Aldo yang hanya membuat masalah untuk Mira.


"Aldo menyesal, mah. Semua ini salah Aldo, tidak seharusnya Aldo ke rumah Mira," ucap Aldo.


"Kamu hanya menambah masalah buat Mira, apa kamu tidak kasihan dengan Mira?" tanya mamah Aldo.


"Udah mah, Aldo pusing," kata Aldo.


"Ayo kita ke rumah Mira! kita minta maaf," ajak Clara.


"Tidak mah, nanti kalau Lian tau semua kasihan Mira," tolak Aldo.


"Aldo, jangan bikin mamah malu! kalau kamu merasa bersalah selesaikan masalah kamu!" bentak Clara.


Aldo tidak mau mengikuti permintaan mamahnya, dia bingung mau menjelaskan apa pada Lian.


Seandainya Aldo tau kalau Neneknya telah membuat Mira kehilangan janin pasti dia akan tambah merasa bersalah.


"Mah, Aldo harus mencari Lisa," kata Aldo.


"Untuk apa? biarkan dia pergi," ucap Mamahnya.


"Harusnya Aldo tadi mengejar dia dan menahannya agar tidak pergi," ucap Aldo.


"Ceraikan saja Lisa!" ucap mamahnya.


"Tidak akan mah, Aldo sudah berjanji akan berusaha mencintai dia," jelas Aldo.


Ingin rasanya Clara menampar anak semata wayangnya itu, semakin dewasa Aldo justru susah di atur. Memang tidak seharusnya dia ikut campur urusan dalam rumah tangga anaknya.


***


Keesokan harinya Mira sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah, Mira masih merasa sedih dan menyesal begitu juga dengan Lian. Susi saat ini masih setia menemani Mira, dia juga merasa terpukul dengan kejadian yang di alami Mira.


Susi sudah mengetahui semuanya, karena saat Lian dan Tio keluar dari ruangan Mira di rawat, Mira menjelaskan semuanya. Ingin rasanya dia menjambak rambut Nenek Aldo dan Lisa.


"Mira, apa tidak sebaiknya kita kasih tau Lian," ucap Susi.


"Jangan, aku tidak mau menambah masalah lagi," kata Mira.


"Untuk apa kamu melindungi orang seperti itu?" tanya Susi.


"Aku sebenarnya ingin hidup tenang, tanpa ada musuh. Tetapi kenapa mereka masih saja menyalahkan aku," ucap Mira.

__ADS_1


"Kamu harus mengambil tindakan Mira, biarkan mereka jera. Jangan diam saja," kata Susi.


Mira hanya bisa menangis dan menangis, di sisi lain dia tidak ingin membuat orang lain dalam masalah. Benar apa kata Susi sekali-kali Mira harus mengambil tindakan yang tegas.


__ADS_2