My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
Love Bird Ep 6 - Miss You


__ADS_3

"Bales ga bales ga bales ga?"


"Ah ga tau lah.. dia juga pasti sibuk.."


Bukannya tidak ingin membalas, Yasha juga bingung mau membalas apa. Pesan terakhir Seo Won adalah pesan yang tidak membutuhkan balasan. Ingin memulai percakapan Yasha juga takut mengganggu Seo Won.


Dua hari tidak ke kantor Yasha mendadak punya banyak waktu luang. Karena Seo Won dinas ke Luar Negeri, mau tidak mau Max pergi ke kantor. Tidak mungkin dia membiarkan perusahaan kosong tanpa ada pemimpinnya.


Untuk menghilangkan rasa penat, hari ini Yasha berencana membuat pasta dirumah. Tidak banyak bahan dirumah untuk membuat pasta, akhirnya Yasha ke supermarket terdekat mengajak Jemima ikut serta. Yana memilih untuk menunggu dirumah dan menyipakan keperluan membuat pasta.


Jalan - jalan juga bisa menjadi pilihan saat kita punya banyak waktu luang. Yasha besok baru masuk kerja, di hari liburnya yang terakhir dia ingin mengisinya dengan hal yang menyenangkan, bukan hanya sedih memikirkan Seo Won yang ada di Jepang saat ini.


"Mari buat waktumu disini menyenangkan Sha.. laki - laki itu hatinya terbuat dari batu kayaknya.. susah amat diluluhkan.. sudahlah.. aku menyerah saja.. lagian kalau aku pulang ke Indonesia kan bakal ga ketemu lagi.. ayo cari cowok lain aja.." Gumam Yasha dalam hati untuk menyemangati dirinya sendiri.


Tiga puluh menit kemudian Yasha pulang dengan membawa banyak belanjaan. Pikirannya benar - benar fresh setelah belanja. Tak salah memang dia memilih untuk keluar hari ini.


"Sha.. kamu meninggalkan ponselmu ya?" Tanya Yana begitu melihat Yasha masuk dengan kantong belanjaan dan Jemima.


"Oh iya.. kenapa kak?"


"Dari tadi bunyi terus.."


"Ibu mungkin yang telpon.. kakak angkat?"


"Kakak angkat sih.. tapi bukan ibu.."


"Siapa kak?" Tanya Yasha sambil lalu karena dia sedang sibuk membongkar isi tas belanjaannya.


"Seo Won ahjussi.."


"Seo Won?"


"Iya.."


Sejujurnya Yasha terkejut tapi dia mampu menyembunyikannya dengan baik. Dalah hati dia bertanya - tanya, ada apa orang itu menelpon beberapa kali. Bukankah seharusnya dia sibuk?


"Apa yang dia katakan kak?"


"Tidak ada. Dia bilang ada yang perlu dia sampaikan padamu. Katanya kamu disuruh menelpon balik kalau sudah sampai rumah.."


"Kakak bilang aku keluar?"


"Iya.. dia tanya kamu dimana? Kenapa kakak yang angkat? Apakah kamu baik - baik saja? Kapan kamu kembali? Kemudian berkali - kali dia meminta kakak untuk menyuruhmu menelpon dia kalau kamu sudah kembali.." Cerocos Yana tak peduli jika Yasha tertegun mendengar ucapannya.


"Hah?" Jawab Yasha refleks saking tak percayanya. Pipinya pun semerah tomat saking malunya.


"Telpon balik sana.. dia pasti sudah menunggunya.." Ucap Yana menyodorkan ponsel pada Yasha.


"Pasti karena pekerjaan.."


"Sepertinya tidak tuh.. dia tidak membicarakan pekerjaan sama sekali.."


"Tidak mungkin kak.. untuk apa dia menelpon kalau bukan masalah pekerjaan.. kita tidak sedekat itu untuk saling sapa.." Jawab Yasha gagap.


"Kakak ga tanya sedekat apa hubungan kalian.." Goda Yana.


"Ih kakak.. apaan sih.."


"Telpon sana, dia pasti sudah menunggu. Kakak mandiin Jemy dulu ya, kita bikin pastanya setelah Jemy mandi dan setelah kamu selesai menelpon Won ahjussi.." Goda Yana lagi.


"Aku ga akan lama kok.."


"Siapa tahu.." Lagi - lagi Yana menggoda Yasha yang salah tingkah. Lucu sekali.


"Kakak!"


---


*Yashaya


calling*..

__ADS_1


Tut tut tut tut


Tidak diangkat.


*Yashaya


calling*..


Tut tut tut tut


Tidak diangkat lagi.


Seo Won gelisah karena panggilannya tidak diangkat. Sudah kedua kalinya, dia mencoba yang ketiga kali, kalau sampai tak diangkat lagi, entahlah apa yang akan terjadi. Dia menyelesaikan pertemuannya dengan meeting secepat mungkin agar bisa punya waktu menghubungi Yasha. Bayangan gadis itu tidak mau pergi sama sekali. Apapun yang dia lakukan bayangan Yasha seolah menemaninya dan menolak pergi. Benar - benar gawat, Seo Won yang sudah terbiasa dengan Yasha kini sangat merindukan hadirnya saat mereka tak saling bisa melihat.


Yashya


calling


Tut tut


"Halo.."


"Halo.. kenapa baru angkat? Kemana saja?"


"..."


"..."


"..."


"..."


"..."


"Ya aku akan menyampaikan padanya.."


Tut


Tangan kanan Seo Won yang memegang ponsel terjatuh lemah. Bukan Yasha yang mengangkat. Padahal hatinya sudah membumbung tinggi ketika panggilannya dijawab.


"Dia tidak ada di rumah. Katanya pergi ke supermarket. Kapan dia kembali? Aku harap dia segera kembali dan menelponku. Tidak mungkin aku menelponnya lagi. Siapa tahu dia belum pulang dan yang mengangkat Yana lagi. Aku tidak tahu harus beralasan apa pada Yana.." Batin Seo Won menjerit.


Dia duduk di sofa dengan helaan nafas yang terdengar panjang. Dia benci menunggu, tapi saat ini menunggu adalah pilihan yang baik.


Ting.


Satu pesan masuk.


Dari : Yashaya


Apakah anda mencari saya? Maaf karena tadi saya ke supermarket sebentar. Ada sesuatu yang penting? Ada yang bisa saya bantu?


Sebelum menelpon Yasha mengirimkan pesan singkat ke Seo Won. Yasha takut jika asal menelpon dia bisa mengganggu Seo Woon.


Bukan balasan pesan yang dia terima tapi Seo Won langsung menelponnya.


"Halo?"


"Halo.. sudah kembali?"


"Mm.. ya baru saja.. apa terjadi sesuatu?"


"Tidak aku hanya ingin menelponmu.."


"Hah?"


"Iya.. kenapa tidak membalas pesanku semalan?"


"Haruskah saya balas? Bukankah itu pesan biasa? Saya takut membalasanya.."


"Kenapa? Tentu saja pesan harus dibalas, sangat tidak sopan tidak membalas pesan.."

__ADS_1


"Mungkin pesan saya mengganggu anda.."


"Yasha?"


"Hmm?"


"Kenapa kamu bicara formal padaku? Tidak biasanya kamu seperti ini? Apa aku telah berbuat salah? Kamu marah padaku?"


"Mana mungkin saya marah pada anda.. Saya biasa juga seperti ini.. saya baik - baik saja kok.."


"Coba panggil namaku.."


"Mmm.. Tuan Seo Won.."


"Kamu jelas sedang marah padaku.."


"Saya tidak.. tidak mungkin saya marah pada anda.. saya mana mungkin berani seperti itu.."


"Biasanya kamu tidak memanggilku begitu.."


"Hah?"


"Kamu tahu.. aku sedih kamu seperti itu.."


"Saya hanya ingin menghormati anda. Saya rasa panggilan saya biasanya sangat tidak sopan.. akan saya perbaiki mulai sekarang.."


"Aku tidak mau.."


"Apa yang anda bicarakan.."


"Panggil aku seperti biasanya.. hmm.. aku sangat lelah disini, pekerjaanku sangat banyak.. dan kamu juga begitu padaku Yasha.. aku sangat sedih.."


"Apa terjadi sesuatu?"


"Tidak ada. Aku hanya lelah dan aku butuh hiburan.."


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Hibur aku.. disini sangat memuakkan.. bahkan rasa makanannya pun tidak enak.. aku ingin segera pulang ke Seoul dan bertemu denganmu.. makan makasakanmu aku rasa itu sudah cukup menghiburku.."


"Saya tidak pandai memasak, makanan disana pasti jauh lebih enak.. mana bisa masakan orang biasa seperti saya dibandingkan dengan koki profesional.."


"Ayolah.. kamu tidak mau menghiburku?"


"Baik.. akan saya bantu sebisa saya.. apa yang anda inginkan?"


"Panggil aku seperti biasa dan jangan berbicara formal padaku.. aku tidak suka.."


"Tapi.."


"Ayolah.. aku tidak suka dibantah.. kamu sudah janji mau menghiburku.."


Fiuh.. Yasha menarik nafas dalam - dalam. Dia seperti sedang berbicara dengan anak umur lima tahun yang ngambek karena es krimnya direbut. Anak yang sulit ditenangkan dan teguh akan kemauannya.


"Won oppa.. apa kamu mau makan ramen saat sudah kembali ke Seoul? Mari makan bersama. Aku akan membuatkanmu ramen.."


Seo Won tersenyum tipis dibalik panggilan telponnya. Hatinya kembali terisi penuh. Hari yang mengerikan ini menghilang tanpa jejak.


"Kamu sudah janji padaku. Tepati janjimu.."


"Baik.. pasti.. aku bukan orang yang tidak bertanggungjawab.."


"Yasha.."


"Ya?"


"Aku merindukanmu.."


"Apa?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2