
Tiada yang lebih membahagiakan dibandingkan bangun pagi di dalam pelukan orang yang kita cintai. Kalau bisa Yana ingin setiap hari melihat Max saat dia membuka matanya. Serakah? Keinginannya sederhana. Menjalani hubungan yang normal seperti orang kebanyakan.
Setiap bersama Max dia ingin melupakan kalau hubungan mereka seperti istana pasir. Jika ombak menerjang istana itu akan menghilang dalam sekejap. Hidup terbiasa dengan perlakuan Max, Yana tak bisa membayangkan bagaimana hari-harinya nanti tanpa Max. Tapi hubungan seperti ini mau sampai kapan bertahan?
Dunianya berbeda dengan Max. Max berada dipuncak tertinggi strata sosial. Sedangkan Yana ada dibawah strata. Mereka bagaikan singa dan seekor kelinci. Perbedaannya seperti bumi dan langit.
Yana membenamkan kepalanya di dada Max. Pikiran kotor itu membuat kepalanya nyeri. Dia tak mau terlalu jauh memikirkan masa depan, jika Max ada di depannya sekarang itu sudah cukup. Yana tak butuh yang lain. Dia yakin dengan bersama tidak ada masalah yang menghadang. Artis juga manusia. Jika suatu saat nanti hubungan mereka terkuak, Yana yakin bisa menghadapinya. Ada Max di sampingnya.
"Hmm.. sudah bangun?"
Max merasakan ada geliat kecil dipelukannya.
"Sudah pagi. Apa jadwalmu hari ini?"
Yana tenggelam dalam pikirannya tadi. Dia tidak sadar jika geliat tubuhnya membangunkan Max. Dia hanya ingin masuk ke dalam pelukan Max. Tapi tampaknya Max bangun karena gerakan kecilnya.
"Tidak tahu.."
"Hah? Bangunlah nanti kamu terlambat.."
"Tidak mau.."
Yana mendongak melihat mata Max yang masih tertutup tapi mulutnya bergerak-gerak. Imut sekali. Yana tertawa kecil. Pria ini adalah miliknya. Yana tak mau kehilangannya.
"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?" Mata Max terbuka lebar. Kepalanya turun untuk mencium kening Yana.
"Good morning Yanaku.."
__ADS_1
Pipi Yana memerah. Max memang juaranya membuat Yana salah tinggi. Karena malu Yana membenamkan kepalanya ke pelukan Max. Melihat tingkah konyol Yana yang malu karena sapaan selamat paginya, Max tersenyum tipis. Tangannya menyisir rambut panjang Yana yang hitam dan halus.
Pagi ini sungguh membahagiakan.
-----
"Ya hyung aku mengerti. Aku akan langsung kesana.."
"..."
"Ya aku membawa mobil.."
"..."
"Sampai bertemu disana.."
Max menutup telponnya bersamaan dengan Yana keluar dari kamar mandi. Ada handuk ditangannya. Rambut basahnya menjuntai panjang. Senyum Max terbit. Tak ada bosannya memandangi wajah apa adanya Yana. Dia cantik tanpa makeup, pakaian mewah dan perhiasan.
"Besok aku harus ke luar negeri.." Seru Max.
Yana yang mengeringkan rambutnya sontak menoleh. Max tak biasanya berbagi aktivitasnya dengannya.
"Mmm.. iya.." Tak tahu harus bagaimana bereaksi, Yana mengangguk pelan.
"Kamu tidak penasaran aku kemana?"
"Hah? Tidak biasanya kamu mengatakan jadwalmu.."
__ADS_1
"Apakah seperti itu?" Dahi Max mengkerut. Ternyata dia terlalu tak peduli selama ini.
Sorot mata Yana yang samar seperti membenarkan perbuatannya. Max mendengus kemudian menarik tubuh Yana mendekat. Handu di tangan Yana jatuh. Kepalanya berada di dada Max.
"Maafkan aku.. aku akan lebih terbuka mulai hari ini.. tanyakan apapun yang membuatmu ingin tahu dan aku akan menjawabnya.." Max mencium puncak kepala Yana.
Yana mengangguk dalam pelukan Max.
"Mungkin lebih baik kamu ikut aku besok.."
"Kemana?" Suara Yana lirih karena tertelan pelukan Max.
"New York.. mengunjungi orang tuaku.."
"Hah?" Kepala Yana mendongak.
Terlalu banyak hal mengejutkan hari ini. Max tak membiarkannya menyiapkan diri. Yana terus saja diberi kejutan akan perubahan Max.
"Aku akan berangkat duluan, kemudian kamu dan Woon hyung berangkat dengan penerbangan selanjutnya.. bagaimana?"
"Max?"
Yana tak percaya kata-kata Max. "Jangan bercanda. Apa maksudmu?" Tangannya mendorong tubuh Max menjauh. Dia butuh penjelasan.
"Ibuku sudah tahu dengan dirimu. Jadi tak ada salahnya aku mengajak calon menantunya berkunjung?" Jelas Max dengan ekspresi datar.
"Apa? Calon menantu?"
__ADS_1
Suara Yana memantul memenuhi seluruh ruangan sedangkan Max menyipitkan matanya mendengar reaksi Yana.
Bersambung..