My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
27. Mau Kamu


__ADS_3

Max menghela nafas lega setelah menutup pintunya. Hawa membunuhnya sedikit demi sedikit menguar. Langkahnya cepat menuju pintu kamarnya.


"Yana.." Max mencari sosok Yana. Matanya terpaku pada sosok yang tertidur pulas di atas tempat tidur.


"Yana.." Max mengguncang tubuh Yana. Kesal yang tadi hilang kini kembali lagi.


Bisa-bisanya dalam situasi seperti ini Yana tertidur pulas. Gadis ini memang berbahaya, pikir Max.


"Mmm.. mereka sudah pulang?"


Yana mengucek kedua mata yang terasa berat karena kantuk.


"Baru saja.." Jawab Max datar.


"Berarti aku sudah boleh pulang kan? Aku harus part time malam ini.." Yana mencoba bangkit.


Namun usahanya gagal. Max segera mencek tubuhnya hingga ambruk kembali.


"Max!" Yana terlonjak. Tatapannya bingung.


"Kita harus menuntaskan apa yang sudah kita mulai tadi.."


"Hah apa?" Wajah Yana berubah merah.


"Apapun yang ada dipikiranku.." Bisik Max.


"Max.. aku harus bekerja. Tidak ada alasan lagi aku disini. Kamu baik-baik saja. Sudah seharusnya aku pergi. Aku disini karena ahjussi* itu memintaku untuk menjagamu selama dia pergi. Apakah dia sudah kembali?" Jelas Yana panjang lebar. Itulah kenyataannya.


Raut wajah Maz berubah tak suka. Dia penolakan penjelasan Yana.


"Ahjussi?" Max mengernyit.


"Iya yang pakai kacamata.."


Seo Woon lah yang di maksud Yana. Max tahu sekarang. Max terkikik di dalam hati. Yana memanggil Woon dengan ahjussi/paman. Usia Max dan Woon hanya terpaut tiga tahun. Mendengar Yana memanggil Woon paman sangat lucu. Setua itukah Woon di mata Yana.

__ADS_1


"Boleh kam aku pulang sekarang?" Hari ini minggu dan hari akan segera gelap. Aku harus pergi Max.. maafkan aku.."


"Tidak. Kamu sudah janji tidak akan pergi dariku Yana.."


"Hah? Tapi kan.." Yana kehabisan kata-kata. Dia seperti mangsa yang terjebak.


"Perlukah aku membuat alasan agar kamu tetap tinggal?" Mata Max sayu.


Yana terkesiap. Melihat mata Max yang putus asa menyakiti hatinya. Apa maksud tatapan sayu itu?


"Tidak cukupkah kalau aku menginginkanmu tetap tinggal?"


Pikiran Max kacau. Dia tak ingin melepaskan Yana pergi setelah semua ringangan yang telah dia lewati hari ini. Max mengumpat dalam hati pada keadaan yang tidak berpihak padanya. Benar-benar tidak ada cara lain.


Tubuh Max perlahan merendah. Bibirnya mengarah kepada telinga Yana kemudian berbisik.


"Aku mencintaimu.. aku mau kamu sekarang.."


Max menjauh kemudian tersenyum penuh arti.


Telinga Yana sedang tidak tuli. Apa tadi yang Max katakan? Yana sedang memilah perasaannya untuk menemukan kewarasaannya kembali setelah mendengar ucapan Max. Dia dengan jelas melihat mata Max yang tak bergetar, itu artinya Max tak main-main. Cinta? Max mencintainya? Yana berperang dengan batinnya.


"Aku sudah mengatakannya sekarang. Aku tidak butuh jawabanmu. Kamu tidak akan bisa lari dariku lagi Yana. Kamu adalah milikku sekarang.."


Max menyeringai. Menakutkan. Tubuh Yana bergetar. Secara tersirat Max mengatakan jika 'kamu tidak akan bisa keluar setalah kamu masuk'


Euforia ini. Hati Yana sesak dipenuhi euforia. Max mencintainya? Bagaimana harus menanggapinya? Yana bingung. Satu hal yang pasti, Yana bahagia. Bahagia hingga dia lupa untuk bernafas. Yana ingin waktu berhenti saja disini.


Dua manusia ini diliputi bahagia karena saling mengungkapkan perasaan tanpa tahu apa yang akan terjadi setelahnya.


Yana tersentak saat melihat dada telanjang Max. Sejak kapan pria itu melapas kaos atasannya. Beberapa detik yang lalu mereka saling diam. Sekarang keadaan telah berubah sepertinya.


"Max! Apa yang kamu lakukan?" Yana menutup matanya dengan kedua tangannya. Rasa malu menyusup.


"Merayakan hari jadian kita.."

__ADS_1


"Hah? Kapan aku mengatakan setuju dengan itu.."


"Itu tidak penting. Sekali aku mengucapkan aku mencintaimu. Kamu resmi milikku Yana. Jadi bersiaplah untuk itu.."


"Dimana tanganmu memegang Max! Lepaskan.."


Tubuh Yana menciut saat Max telah meraih gaun sederhana yang dia pakai. Tubuhnya terlonjak karena tarikan Max. Dengan gerakan cepat Max telah membuang gaunnya ke lantai.


Udara dingin berkontak langsung dengan tubuhnya yang terbuka. Hanya pakaian dalam yang masih menempel. Otomatis Yana menutup dadanya karena malu. Ini adalah pertama kalinya bagian dalamnya dilihat oleh seorang pria.


Max menyerang ganas bibir Yana. Yana yang belum siap terengah-engah. Bibirnya ditekan dengan kuat. Hampir saja dia tak bisa bernafas jika Max tidak menarik bibirnya sekarang.


Tubuhnya benar-benar aneh. Max merasakan tubuh Yana akan gemetar jika dia menyentuh kulitnya. Menarik. Respon Yana membuat gairah Max semakin terbakar. Aroma tubuh Yana yang segar memabukkan Max. Dia benar-benar menginginkan tubuh Yana seluruhnya.


Penyatuan Max yang sedikit kasar mambuat Yana berteriak. Tangannya *** tangan Max. Sakit. Sangat sakit. Yana merasa jika tubuhnya akan terbelah jadi dua jika Max terus saja menekannya dengan keras.


"Max.. perlahan.. aku mohon.. sakit.." Air mata meleleh dari setiap sudut mata Yana.


Dia sering mendengar teman-temannya mengobral pengalaman pertama mereka. Yana tak menyangka jika sakit yang mereka ceritakan akan sesakit ini. Ini bukan hanya sakit tapi sangat sakit. Yana hampir tak bisa bergerak karena sakit yang terasa di bagian tubuh bawahnya.


"Aku sudah pelan.. tapi bagian bawahmu terus menelanku.."


Bukan hanya kamu. Tapi aku juga sakit. Racau Max dalam hati.


Max menarik tubuh Yana ke dalam pelukannya. Dia mencium acak dari kening, mata, dagu, bibir kemudian bibir Yana. Untuk Max ini bukan pengalaman pertamanya. Tapi di tak menyangka jika Yana lebih tidak berpengalaman dari dia. Max sungguh bahagia bisa mendapatkan pengalaman pertama Yana. Itu artinya Yana memang seutuhnya miliknya. Setelah ini Max tidak akan membiarkan Yana dimiliki siapapun. Yana hanya untuknya. Meskipun Yana belum membalas cintanya. Max tak peduli. Kediaman Yana dan penerimaan Yana akan perlakuannya selama ini sudah cukup menjadi jawaban.


"Haa.. haa.. Yana.. kamu membuatku gila.."


Max menyengak lagi lebih dalam dan kasar. Sekilas dia melihat darah mengalir diatara kaki Yana dan menodai sprei. Bau menyengat darah memacu adrenalin Max.


"Max.. perlahan.. haa.. haa.." Yana tak bisa mengendalikan mulutnya.


"Ah!"


Yana berteriak saat rasa panas menyembur di dalam perutnya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2