
Perasaan yang terlarang memang harus segera diselesaikan. Tak ada gunanya menangisi seseorang yang bahkan tidak menganggap kita sama sekali.
"Aku butuh pekerjaan sambilan lagi.. bagaimana ya cara mendapatkannya?" Celoteh Yana di tengah kegiatannya belajar.
"Kamu butuh sekali?" Jieun yang ada di sebelah Yana menjawab pelan.
"Ya aku butuh sekali.. aku harus mengumpulkan tiga juta won dalam waktu satu bulan Jieun. Kamu bisa membantuku?"
Mendengar tiga juta won pandangan Jieun beralih dari laptop ke arah Yana.
"Di toko roti tempatku bekerja sedang membutuhkan tenaga untuk menjaga toko saat jam malam. Kamu tahu kan Sugar Bakery buka 24 jam. Beberapa pegawai yang bekerja pada malam hari mengundurkan diri. Gajinya lumayan sih, dua kali lipat dari sift pagi. Tapi apa kamu yakin bisa bekerja malam tanpa tidur?"
"Kerjanya dimulai dari jam berapa?"
"Pukul 10 malam sampai 6 pagi.."
"Selesai kuliah pukul 5 sore, kemudian istirahat 3 - 4 jam terus kerja. Aku rasa aku bisa Jieun. Akhir-akhir ini Nona Cha juga tidak memberiku pekerjaan editing. Untuk mengisi hari senin sampai kamis aku akan bekerja di tempatmu pada jam malam.."
"Apakah uang itu harus segera kamu kumpulkan?" Jieun bertanya ragu-ragu. Kerja di jam malam bukan perkara sepele, hal itu sangat sulit dilakukan. Bahkan para pria saja mengeluhkannya, apalagi ini Yana yang seorang perempuan.
"Iya.. aku berutang pada seseorang dan harus segera kukembalikan bulan depan.." Jawab Yana. "Kamu mau membantuku kan?" Lanjutnya.
"Besok coba aku tanyakan pada bosku.." Ucap Jieun. Tak ada hak dia bertanya lebih lanjut tentang masalah Yana, Jieun tak ingin membuat Yana sedih dengan pertanyaannya.
-----
__ADS_1
Apa sebenarnya harga diri itu?
Apakah dia sejenis harga dari orang lain yang diberikan kepada kita?
Atau
Suatu kepantasan diri kita di mata orang lain?
Entahlah!
Satu hal yang Yana tahu, harga diri itu mahal harganya.
Yana menatap kosong pada langit-langit kamarnya yang berwarna putih pucat. Pikirannya melayang kemana-mana. Bukan karena Max tak ada menelponnya yang ada dipikirannya tapi bagaimana caranya mendapatkan uang tiga juta won dalam waktu satu bulan. Max akan kembali dari konsernya bulan depan. Yana ingin segera mengakhiri hubungannya dengan Max. Membayar hutangnya pada Max dianggap Yana sebagai jalan yang tepat untuk mengakhiri hubungannya yang rumit dengan Max. Yana punya harga diri. Dia adalah wanita baik-baik. Tentu saja dia masih mempunyai akal sehat, tak mungkin dia membiarkan harga dirinya terluka oleh Max. Harga diri sebagai seorang wanita baik-baik, bukan wanita yang karena uang tiga juta won tega menjualnya. Terlebih lagi pria itu tak pernah menganggapnya penting.
Hubungannya dengan Max harus segera diakhiri.
-----
"Oh hai.. kami tidak menyangka jika pegawai baru di jam malam adalah perempuan.. ini baru pertama kalinya.." Ucap seorang pria muda yang terlihat seumuran dengan Yana.
"Mohon bantuannya.." Ucap Yana dengan senyum mengembang. Mata Yana menatap satu persatu teman kerjanya di Sugar Bakery, toko roti terbesar dan terkenal seantero Seoul.
Kang Minjoon, Park Yoojung, Seo Hoobin, Im Kangwook, diantara mereka berempat yang paling muda adalah Kangwook, bahkan Kangwook lebih muda dua tahun dari Yana. Minjoon dan Yoojung seumuran dan mereka paling tua, Hoobin dan Yana ternyata seumuran. Kehadiran Yana ditengah empat pria tersebut membawa keceriaan sendiri. Hadirnya seorang wanita membuat malam di Sugar Bakery menjadi berwarna dengan gelak tawa dan panggilan manis Yana untuk para rekan kerjanya. Tentu saja empat pria itu merasa bersyukur dengan adanya Yana, mereka seperti mempunyai saudara perempuan yang harus dilindungi.
"Bisakah kamu tidak bicara formal kepadaku Yana? Telingaku sakit mendengarnya.. panggil aku oppa dengan santai.." Tutur Yoojung dengan mata memohon.
__ADS_1
Yana tertegun mendengar rekan kerjanya yang umurnya jauh lebih tua darinya itu memohon padanya.
"Santai saja disini.. kami sudah menganggapmu adik perempuan kami.." Timpal Minjoon yang tengah melipat kotak roti.
"Apakah boleh?" Yana bertanya ragu.
"Tentu saja boleh.. kamu itu istimewa disini.." Suara Hoobin membuat mereka menoleh. Hoobin membawa nampan besar berisi roti matcha yang baru saja matang dari dapur. Selain mereka berlima yang bertugas didepan, ada dua koki yang bekerja didapur.
"Maksudnya?" Tanya Yana polos.
"Nuna* itu satu-satunya perempuan disini, tentu saja nuna itu istimewa.." Suara lembut si kecil Kangwook terdengar. Kangwook termasuk pegawai yang paling pendiam, suaranya sangat berharga sekali untuk didengar.
"Terimakasih telah menerimaku dengan baik.." Tak terasa air mata Yana mengalir. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan suasana kerja yang hangat. Sebelum masuk kerja Yana sempat berpikir dia akan kesulitan di Sugar Bakery, ternyata Tuhan berkehendak lain.
"Yana kenapa menangis? Kangwook, kamu membuat Yana menangis.." Ucap Minjoon panik.
"Kenapa hanya aku? Hyung kan juga ikut-ikutan.." Kangwook membela diri.
"Aku menangis bahagia.. ternyata kalian semua peduli denganku.." Jawab Yana melerai Minjoon dan Kangwook.
"Tentu saja.. kamu adalah adik perempuan kami.." Jelas Yoojung mengusap pelan kepala Yana.
Bersambung...
Keterangan
__ADS_1
Nuna : panggilan adik laki-laki ke kakak perempuan