My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
45. Meeting People


__ADS_3

Sungguh tak sanggup lagi Yana menelan makanannya. Bukan karena tidak enak tapi ini terlalu banyak. Yana juga tak nyaman ketika makan karena ada banyak pasang mata yang mengawasi gerak-gerikanya. Bahkan untuk bernafaspun Yana berhati-hati agar tidak menimbulkan suara. Ternyata hidup orang kaya itu membosankan. Hidupnya tak bisa bebas. Apapun tingkah lakunya akan disorot. Yana tak terbiasa seperti itu. Dadanya sesak. Pikirannya kacau.


"Maaf Nona.. ada telpon dari Tuan muda.."


Si pelayan tadi menyodorkan gagang telpon untuk Yana.


"Ah iya.."


Yana menerimanya pelan.


"Max.. kamu dimana sekarang?"


Karena telpon Max, Yana bisa melarikan diri dari meja makan. Kakinya sedikit menjauh dari ruang makan. Langkahnya menuju pintu kaca yang sepertinya teras. Yana membuka pintu kemudian keluar. Ternyata tempat itu adalah kolam renang. Angin berhembus melewati pipi mulusnya. Yana mendekat ke kolam. Sekilas dia melirik ke belakang. Beberapa pelayan mengikutinya tapi tak berani mendekat.


"Ya aku baru saja makan.. kapan kamu pulang?"


"..."


"Tadi aku diberitahu pelayan jika kamu akan pulang terlambat.."


"..."


"Mereka memperlakukanku dengan baik Max. Tak perlu khawatir.. aku akan menunggumu pulang.."


Panggilan diputus sepihak oleh Max. Meskipun sebentar, suara Max mampu menenangkan Yana.


Kolam di depannya sangat besar dan jernih. Sekelilingnya ada bunga-bunga yang sedemikian rupa untuk menghiasi sisi kolam. Mata Yana takjub. Rumah Max benar-benar laur biasa. Disamping besar mereka sepertinya punya segalanya hingga tak perlu keluar rumah.


Yana menjatuhkan tubuhnya disalah satu tempat santai di tepi kolam. Harum bunga, suara burung, sinar matahari dan udara luar rumah mengisi jantungnya dengan oksigen yang baru. Tempat itu membuatnya jatuh cinta. Dia sempat bingung untuk menghabiskan waktunya menunggu Max pulang yanh entah melakukan apa dengan Sek Woon. Max tak mengatakan apa yang dia lakukan sekarang. Dia hanya berpesan untuk tetap di rumah sampai dia pulang.


"Kapan ya orang tua Max pulang.."


Dilema. Antara ingin segera bertemu atau tidak ingin segera bertemu. Hingga pikirannya rumit belum teratasi, nafas Yana menjadi teratur. Matanya terpejam dan dia tertidur.


-----


Yana bangun dengan tenggorokan kering. Dengan langkah sempoyongan Yana menuju ke ruang makan dan menuang air ke gelas. Dalam satu kali tegukan gelas itu menjadi kosong. Har ini intensitas tidurnya meningkat. Tanpa sadar dia tertidur di teras sebentar.


"Apakah aneh perlu sesuatu Nona? Maaf kami tidak membangunkan anda karena tidur anda nyenyak sekali.."

__ADS_1


Seorang pelayang yang melayaninya makan tadi mendekat.


"Ah aku hanya haus.. tak perlu khawatir aku baik-baik saja sekarang.." Yana menjawab dengan senyumnya yang manis.


"Makan malam sedang dibuat oleh para koki. Anda bisa menunggunya sebentar.. apakah anda sudah lapar?"


"Hah apa?" Baru beberapa jam yang lalu dia makan. Tentu saja perutnya masih kenyang.


Apa tadi dia bilang? Makan malam? Yana merasa tak sanggup lagi untuk makan jika makanannya seperti tadi.


"Aku masih kenyang. Bisakah aku makan itu nanti jika aku sudah lapar?"


"Baik.. saya akan menyampaikan ke bagian dapur agar makan malam disiapkan nanti.. panggil saya Elea Nona.. saya adalah kepala pelayan.." Elea memperkenalkan dirinya kemudian menunduk sebagai penghormatan.


Kepala pelayan? Yana hampir saja menggigit lidahnya sendiri saking kagetnya. Pasti ada banyak pelayan sehingga mereka memiliki kepala pelayan juga. Benar-benar rumah tangga yang rumit.


"Mm.. Elea.. bisakah makan malam dibuat sederhana saja? Makanan yang tadi sangat banyak untukku.."


"Sesuai dengan perintah anda Nona.. saya akan mengkonfirmasi ke dapur.." Elea pamit kemudian berjalan menuju pintu di ruang makan. Sebelum Elea membuka pintu, Yana berseru pelan.


"Apakah kamu akan ke dapur Elea?"


"Ya Nona.. apakah ada yang ingin anda sampaikan lagi?"


Mata Elea melebar.


"Aku bosan. Aku tak akan mengganggu. Aku hanya akan melihat-lihat saja selagi kamu bekerja.. bisakah?" Ucap Yana penuh harap.


Dapur mungkin bukan tempat yang bagus tapi itu adalaj tempat yang cukup layak untuk menghabiskan waktunya menunggu Max datang.


"Tentu saja boleh Nona.."


Elea yang ragu-ragu segera mengesampingkan keterkejutannya.


"Terima kasih.." Wajah Yana berseri-seri.


Begitu masuk ke dapur Yana kembali tercengang. Ada berapa orang yang tinggal di rumah ini hingga urusan dapur serumit itu. Sejak Yana bangun dia tidak melihat siapapun. Max pun jarang menceritakan sanak saudaranya. Kadang-kadang ayah dan ibunya menjadi topik pembicaraan satu arah dengan Max. Bilang saja Max anak tunggal, berarti ada tiga orang saja yang tinggal. Tapi untuk melayani hanya tiga orang jika Max disini bukankah dapur ini terlalu besar. Dapurnya seperti dapur di restoran besar. Benar-benar keluarga yang luar biasa.


Melihat Yana yang mematung di depan pintu dengan Elea disampingnya, semua pekerja dapur menghentikan aktivitas mereka. Dapur yang tampak sibuk menjadi lengah sesaat. Seperti diberi aba-aba mereka kompak menunduk untuk memberi hormat.

__ADS_1


"Salam Nona.. saya Phill kepala koki disini.. dan mereka semua adalah pekerja dapur.." Salah satu pria jangkung memperkenalkan diri.


"Salam Nona.." Suara kompak bergemuruh di dalam dapur.


"Oh salam.. aku Yana.. silahkan teruskan pekerjaan kalian.."


"Terima kasih Nona.."


Dapur kembali sibuk.


Yana mengedarkan pandangannya. Matanya berhenti pada satu orang yang tengah asik mengadon tepung dan telur. Seperti tersihir kakinya melangkah mendekati pembuat kue tersebut.


"Bisakah aku ikut membuatnya?"


Si pembuat kue mendongak kaget. Yana sudah berdiri di depannya.


"Anda tidak bisa Nona.. tangan anda bisa kotor.."


"Aku baik-baik saja.. aku hanya ingin mencoba.. aku mohon.." Yana mengeluarkan jurus mata kelincinya.


Gadis muda pembuat kue sontak menoleh pada Elea yang berada di belakang Yana. Melihat Elea mengangguk dia juga mengangguk.


"Silahkan pakai apron Nona.. tepung ini bisa mengotori gaun cantik anda.."


Yana tersenyum riang.


"Apa yang akan kamu buat hari ini?" Yana antusias.


"Apple pie.."


"Pasti akan enak.. biarkan aku yang memotong apelnya sementara kamu membuat dasarnya.."


Segera Yana mengambil pisau dan mengupas kulit apel. Elea memperhatikan Yana dari jarak yang cukup dekat.


Saat Yana tengah asik mengupas apel dan memotongnya kecil-kecil, suara interupsi mengagetkan semua orang.


"Nyonya sudah tiba.." Suara seorang pelayang nyaring ke seluruh ruangan.


Semua pekerja segera menghentikan aktivitasnya dan segera menunduk memberi hormat.

__ADS_1


Seorang wanita paruh baya melangkah masuk dapur dengan mata yang mencari-cari. Saking asiknya, Yana tak sadar jika ada Nyonya rumah masuk dan saat ini sedang memperhatikannya.


Bersambung...


__ADS_2